Sabtu, 04 Februari 2012

TATA RUANG BERBASIS PADA KESESUAIAN LAHAN

(tulisan 1)
BAGIAN KE SATU
PENGERTIAN TENTANG RUANG, TATA RUANG, dan PENATAAN RUANG

Dari yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dalam Bab I Ketentuan Umum disebut-kan bahwa apa yang dimaksud dengan ruang, tata ruang, dan penataan ruang adalah sebagai berikut:

RUANG: Adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mah-luk hidup lainnya hidup dan melakukan kegiat-an serta memelihara kelangsungan hidupnya. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan terma-suk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. Ruang udara adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan atau ruang lautan dan melekat pada bumi. Ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Ruang daratan, lautan, dan udara mempunyai potensi yang dapat diman-faatkan sesuai dengan tingkat intensitas yang berbeda untuk kehidupan manusia dan mah-luk hidup lainnya. Potensi itu diantaranya se-bagai tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan pangan, industri, pertambangan, sebagai jalur perhubungan, sebagai obyek wisata, sebagai sumber energi, atau sebagai tempat penelitian dan percobaan.

TATA RUANG: Adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun yang tidak direncanakan. Yang dimaksud dengan wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk rona lingkungan alam, ling-kungan sosial, dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural berhubungan satu dengan lainnya membentuk tata ruang. Wujud struktural pemanfaatan ruang di antara-nya meliputi hirarki pusat pelayanan seperti pusat kota, pusat lingkungan, pusat pemerin-tahan; prasarana jalan seperti jalan arteri, jalan kolektor, dan jalan lokal; rancang bangun kota seperti ketinggian bangunan, jarak antar bangunan, garis langit, dan sebagainya. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran, fungsi, serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam. Wujud pola pemanfaatan ruang diantaranya meliputi pola lokasi, sebaran permukiman, tempat kerja, industri, dan pertanian, serta pola penggunaan tanah perdesaan dan perkotaan. Tata ruang yang dituju dengan penataan ruang ini adalah tata ruang yang direnca-nakan. Tata ruang yang tidak direncanakan berupa tata ruang yang terbentuk secara alamiah seperti wilayah aliran sungai, danau, suaka alam, gua, gunung, dan sejenisnya.

TATA RUANG itu berkonotasi pasif, aktifnya adalah PENATAAN RUANG, makanya Tata Ruang diberi pengertian sebagai wujud struk-tural dan pola pemanfaatn ruang baik yang DIRENCANAKAN maupaun TIDAK DIRENCA-NAKAN, artinya ada secara alami. PENATAAN RUANG : Ada 3 jenis dasar penekanan dalam penataan ruang, yaitu :

1. Berdasarkan fungsi utama kawasan, yang meliputi kawasan fungsi lindung, dan kawasan fungsi budidaya.

2. Berdasarkan aspek administrasi, yang meliputi Tata Ruang Wilayah Nasional, Wilayah Propinsi, Wilayah Kabupaten/ Kota, dan Wilayah Kota Kecamatan.

3. Berdasarkan aspek kegiatan, yaitu ka-wasan perkotaan, kawasan perdesaan, kawasan tertentu (wisata, dan sejenis-nya).

Jadi jelas bahwa sebenarnya penataan ruang yang utama adalah penetapan kawasan fungsi lindung dan kawasan fungsi budidaya pada wilayah administrasi tertentu (kabupaten/kota, atau propinsi), kemudian baru menetapkan fungsi atas aspek kegiatan yang terjadi atau yang diinginkan. Penetapan fungsi lindung dapat mengacu pada Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan SK Menteri Pertanian Nomor 837/KPTS/ Um/11/1980 dan 683/KPTS/Um/8/1981, yaitu kriteria kelas lereng, jenis tanah, dan curah hujan. Kriteria tersebut digunakan untuk menetapkan kawasan lindung dengan cara memberikan skor pada masing-masing bentang lahan yang ada.

Kelas Lereng : Tabel 1 : Deskripsi Kelas Lereng dan Skor Nilainya

Jenis Tanah : Tabel 2 : Deskripsi Jenis Tanah, Tingkat Erosivitas, dan Skor Nilainya

Curah Hujan : Tabel 3 : Deskripsi Intensitas Hujan harian Rata-rata, dan Skor Nilainya

Satuan bentang lahan akan ditetapkan seba-gai kawasan lindung terhadap bawahannya kalau jumlah skor dari tiga kriteria tersebut diatas mencapai angka 175, sedangkan kalau nilainya antara 125 – 174 ditetapkan sebagai kawasan penyangga, sedangkan kalau di bawah 125 maka bisa dinyatakan bahwa satuan bentang lahan tersebut menjadi lahan dengan fungsi utama sebagai fungsi budidaya.

Di luar ketetapan skor di atas, suatu bentang lahan bisa dinyatakan sebagai fungsi lindung apabila memenuhi pula kriteria sebagai berikut:

1. seluruh bentang lahan mempunyai kemiringan lereng > 45%
2. jenis tanahnya sangat peka terhadap erosi (regosol, litosol, organosol, dan renzina), dengan kemiringan lapangan >15%
3. merupakan jalur pengaman aliran su-ngai, sempadan waduk, mata air, dan sejenisnya sekurang-kurangnya 200 m dari muka air pasang
4. guna keperluan (kepentingan) khusus dan ditetapkan sebagai kawasan lindung
5. merupakan daerah rawan bencana
6. merupakan daerah cagar budaya dan benda-benada arkeologi (taman) nasio-nal atau tempat pencagaran terhadap jenis-jenis flora dan fauna tertentu yang dilindungi
7. memiliki ketinggian lahan pada 2.000 m di atas permukaan laut atau lebih (>= 2.000 m dpl)

Menurut UU No. 24/1992 tentang Penataan Ruang dijelaskan bahwa arti Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi Lingkungan Hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sum-berdaya buatan. Kemudian dalam Undang-Undang nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup disebutkan bahwa arti Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsung-an perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lain. Jadi dalam tata ruang dimana yang pertama adalah menetapkan kawasan fungsi lindung pada dasarnya adalah untuk melindungi kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup yang ada dalam ruang tersebut agar dapat melangsungkan kehidupan dan kesejahteraannya.

(bersambung)

SEDEKAH BUMI

Sedekah Bumi adalah semacam upacara atau jenis kegiatan yang intinya untuk mengingat kepada Sang Pencipta, Allah SWT, yang telah memberikan rahmatNYA kepada manusia di muka bumi ini, khususnya kepada kelompok petani yang hidupnya bertopang pada hasil bumi. Di perdesaan, atau pinggiran kota, yang masyarakatnya hidup dari bertani (palawija) biasanya melakukan kegiatan sedekah bumi setahun sekali. Mereka percaya bahwa dengan bersyukur kepada Allah maka Allah SWT akan menambah kenikmatan-kenikmatannya lagi, Allah akan menyuburkan tanah mereka, Allah akan menambah hasil panen mereka, dan Allah akan menghilangkan "paceklik" pada hasil bumi mereka. Maka dari itu, masyarakat dengan sadar dan penuh semangat melakukan kegiatan ritual ini, meskipun dengan cara yang sederhana. Biasanya mereka melakukan dengan cara "pamer" hasil bumi, yaitu dengan melakukan pawai karnaval keliling desa dengan mengarak hasil bumi, ada ketela pohong, mangga, durian, jagung, ketimun, petai, dsb, tergantung dari hasil bumi yang mereka peroleh dari ladang yang mereka tanami. Demikian pula yang terjadi di Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik beberapa hari yang lalu, masyarakat dengan semangat pawai keliling kelurahan dengan mambawa hasil bumi mereka. Tetapi, seiring dengan perkembangan jaman, lokasi di pinggiran kota Semarang kebanyakan sudah berubah menjadi daerah sub-urban, banyak ladang yang berubah jadi permukiman, maka yang diarak pun sudah bukan hasil bumi melainkan berupa "nasi tumpeng". Setelah mengarak keliling desa, mereka kemudian makan bersama, dan dilanjutkan dengan menyaksikan pagelaran 'wayang kulit'. Kenapa wayang kulit?, sebab cerita di 'wayang kulit' ini biasanya mengandung banyak petuah, banyak nasehat untuk menjadi manusia yang utama. Kita diingatkan untuk jangan berbuat jahat, jangan serakah, orang yang berbuat baik pasti akhirnya akan berjaya. Itulah kegiatan sedekah bumi yang masih berlangsung di beberapa kelurahan di pinggiran kota Semarang, termasuk di kelurahan Gedawang, Banyumanik yang lokasinya sudah mulai banyak dibangun permukiman oleh pengembang. Sedekah Bumi kadang disebut juga sebagai acara APITAN, mengapa? Sebab acara sedekah bumi biasanya dilaksanakan pada bulan APIT, yaitu bulan diantara dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha, “apit” artinya terjepit, terjepit diantara dua hari raya), dan bulan APIT (tulisan Jawa = HAPIT) itu adalah nama bulan setelah bulan Syawal (urutannya adalah bulan Puasa, Syawal, Hapit, Besar, dst). Sebagaimana halal bihalal yang dilakukan pada bulan Syawal, orang Jawa ada yang menyebutnya sebagai acara Syawalan, demikian pula Sedekah Bumi karena dilaksanakan pada bulan Hapit, maka disebut APITAN atau HAPITAN. Perlu kita ketahui bersama, sekarang ini sifat dari acara tersebut sebenarnya sudah merupakan acara yang sifatnya sekedar "nguri-uri budaya tradisi Jawa", seiring dengan perubahan jaman, karena orang kota sudah tidak lagi hidup dari hasil bumi, maka acara tersebut lama kelamaan pasti akan tergerus oleh proses urbanisasi, akan hilang ditelan masa. Maka dari itu harus ada cara dan semangat tinggi untuk mengaktualisasikan budaya atau tradisi ini agar tidak hilang begitu saja. Pengaturan perijinan dalam pengembangan wilayah pinggiran kota hendaknya diatur dengan menyisakan sekian bidang tanah yang dipertahankan untuk pertanian, hal itu di samping bermanfaat untuk penghijauan sekaligus untuk mempertahankan tradisi Apitan, agar dalam Apitan yang diarak keliling adalah benar-benar hasil bumi asli dari daerah tersebut. Para orang tua harus mulai sadar, bahwa anak-anaknya sekarang banyak yang menjadi pegawai (orang kantoran, bukan petani lagi), yang muda juga harus mengerti bahwa Apitan itu tradisi nenek-moyang mereka yang masih di pelihara dan dijaga oleh para orang tua. Agar kedua generasi ini tidak saling menyalahkan dan tidak akan timbul friksi dikemudian hari tentang perlu atau tidaknya diadakan acara Apitan, kiranya para budayawan harus berkiprah dan berfikir untuk mengaktualisasikan upacara sedekah bumi dalam konteks wilayah yang masih dalam kondisi sub-urban atau bahkan sudah total berubah menjadi daerah urban. Sebagaimana acara “dugderan”, sebanarnya acara “Apitan” bisa “dijual” oleh Dinas Pariwisata sebagai atraksi wisata di bulan Hapit di Kota Semarang, dan kegiatan ini bisa diliput oleh TV baik yang lokal maupun nasional untuk lebih dipublikasikan sebagai tradisi memelihara kelestarian lingkungan dalam rangka menjaga stabilitas hasil bumi.

Kamis, 26 Januari 2012

JANGAN MENIUP AIR PANAS KETIKA MAU DIMINUM




Hadits Abu Sa'id al-Khudri radliyallah 'anhu, Bahwa Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam melarang meniup DI DALAM
air minum." (HR. al-Tirmidzi no. 1887 dan beliau mensahihkannya)

meskipun panas, jangan meniup makanan atau air minum.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang sahabat2nya meniup air
panas yg akan diminum..

Belakangan baru diketahui ternyata air panas (H2O) bertemu (CO2) yang
dihembuskan mulut mengeluarkan (CO2), akan menghasilkan H2CO3, asam
karbonat, jika asam karbonat ini masuk kedalam tubuh manusia, bisa
mengakibatkan penyakit jantung.

SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALAA ILAHA ILLA ALLAH WA ALLAHU AKBAR

MULAILAH DARI YANG SIMPEL, AKHIRNYA YANG SULIT AKAN TERSELESAIKAN JUGA




MULAILAH DARI YANG SIMPEL, AKHIRNYA YANG SULIT AKAN TERSELESAIKAN JUGA
by Parfi Kh on Thursday, January 26, 2012 at 7:16am


Sekedar share dari cerita yang dikirim teman.....rasanya ada manfaatnya juga untuk dibaca, kalau cerita ini benar...wah, wah kok gawat juga kondisi petugas-petugas di jalan raya, semoga negeri ini segera dikarunia orang baik yang bisa dijadikan contoh teladan dalam kehidupan, amin

Dari kiriman kerabat dekat; semoga bermanfaat :Beberapa waktu yang lalu ada adegan yang menarik ketika saya menumpang taksi, yaitu ketika sopir taksi hendak ditilang oleh polisi. Sempat terekam oleh saya dialog antara polisi dan sopir taksi.
Polisi (P) : Selamat siang mas, bisa lihat Sim dan STNK?
Sopir ( Sop ) : Baik Pak?
P : Mas tau..kesalahannya apa?
Sop : Gak pak
P : Ini nomor polisinya gak seperti seharusnya (sambil nunjuk ke plat nomor taksi yg memang gak standar) sambil langsung mengeluarkan jurus sakti mengambil buku tilang, lalu menulis dengan sigap
Sop : Pak jangan ditilang deh, wong plat aslinya udah gak tau ilang kemana? kalo ada pasti saya pasang
P : Sudah, saya tilang saja, kamu tau gak banyak mobil curian sekarang, (dengan nada keras !! )
Sop : (Dengan nada keras juga ) Kok gitu! taksi saya kan ada STNK nya pak, ini kan bukan mobil curian!
P : Kamu itu kalo dibilangin kok ngotot (dengan nada lebih tegas) kamu terima aja surat tilangnya (sambil menyodorkan surat tilang warna MERAH)
Sop : Maaf pak saya gak mau yang surat tilang warna MERAH, Saya mau yg warna BIRU aja
P : Hey! (dengan nada tinggi) kamu tahu gak sudah 10 hari ini form biru itu gak berlaku!
Sop : Sejak kapan pak form BIRU surat tilang gak berlaku?
P : Inikan dalam rangka OPERASI, kamu itu gak boleh minta form BIRU, Dulu kamu bisa minta form BIRU, tapi sekarang ini gak bisa, Kalo kamu gak mau, ngomong sama komandan saya (dengan nada keras dan ngotot)
Sop : Baik pak, kita ke komandan bapak aja sekalian (dengan nada nantangin tuh polisi) Dalam hati saya, berani betul sopir taksi ini,
P : (Dengan muka bingung) Kamu ini melawan petugas ya !!!
Sop : Siapa yg melawan? Saya kan cuman minta form BIRU, Bapak kan yang gak mau ngasih
P : Kamu jangan macam-macam yah, saya bisa kenakan pasal melawan petugas!
Sop : Saya gak melawan !!! Kenapa bapak bilang form BIRU udah gak berlaku? Gini aja pak saya foto bapak aja deh? kan bapak yg bilang form BIRU gak berlaku (sambil ngambil HP) Wah, wah hebat betul nih sopir ! berani, cerdas dan trendy ? (terbukti dia mengeluarkan hpnya yang ada berkamera.
P : Hey! Kamu bukan wartawan khan ? Kalo kamu foto saya, saya bisa kandangin (sambil berlalu)Kemudian si sopir taksi itupun mengejar itu polisi dan sudah siap melepaskan shoot pertama, (tiba-tiba dihalau oleh seorang anggota polisi lain lagi)
P 2 : Mas, anda gak bisa foto petugas sepeti itu
Sop : Si bapak itu yg bilang form BIRU gak bisa dikasih (sambil tunjuk polisi yg menilangnya) lalu si polisi ke 2 itu menghampiri polisi yang menilang tadi, ada pembicaraan singkat terjadi antara polisi yang menghalau si sopir dan polisi yang menilang. Akhirnya polisi yg menghalau tadi menghampiri si sopir taksi
P 2 : Mas mana surat tilang yang merah nya? (sambil meminta)
Sop: Gak sama saya pak?. Masih sama temen bapak tuh (polisi ke 2 memanggil polisi yang menilang)
P : Sini tak kasih surat yang biru (dengan nada kesal) Lalu polisi yang nilang tadi menulis nominal denda sebesar Rp.30.600,- sambil berkata : Nih kamu bayar sekarang ke BRI, lalu kamu ambil lagi SIM kamu disini, saya tunggu,...
S : (Yes!!) Ok pak ..gitu dong, ... kalo dari tadi gini kan enak,...Kemudian si sopir taksi segera menjalankan kembali taksinya sambil berkata pada saya, Pak .. maaf kita ke ATM sebentar ya ... mau transfer uang tilang . Saya berkata ya silakan. Sopir taksipun langsung ke ATM sambil berkata, Hatiku senang banget pak, biar ditilang, tapi bisa ngasih pelajaran berharga ke polisi itu. Untung saya paham macam2 surat tilang. Tambahnya, Pak kalo ditilang kita berhak minta form Biru, gak perlu nunggu 2 minggu untuk sidang Jangan pernah pikir mau ngasih DUIT DAMAI?. Mending bayar mahal ke negara sekalian daripada buat oknum!
Dari obrolan dengan sopir taksi tersebut dapat saya infokan ke Anda sebagai berikut: SLIP MERAH, berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan Dan mau membela dirisecara hukum (ikut sidang) di pengadilan setempat. Itupun di pengadilan nanti masih banyak calo, antrian panjang, Dan oknum pengadilan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilang... Kalau kita tidak mengikuti sidang, dokumen tilang dititipkan di kejaksaan setempat, disinipun banyak calo dan oknum kejaksaan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilang..SLIP BIRU, berarti kita mengakui kesalahan kita dan bersedia membayar denda. Kita tinggal transfer dana via ATM ke nomer rekening tertentu (kalo gak salah norek Bank BUMN). Sesudah itu kita tinggal bawa bukti transfer untuk di tukar dengan SIM/STNK kita di kapolsek terdekat dimana kita ditilang. You know what!?
Denda yang tercantum dalam KUHP Pengguna Jalan Raya tidak melebihi 50ribu! dan dananya RESMI MASUK KE KAS NEGARA.
Forward email ini beritahukan teman, saudara sama keluarga Anda.
Berantas korupsi dari sekarang, mulailah dari korupsi-korupsi kecil, saya yakin akhirnya nanti yang besar akan tertumpas juga.
Kalau mulai dari yang besar memang baik juga, tapi sayangnya "korupsi besar" hukumannya ringan - so orang2 tetep pada pilih korupsi, klo yang kecil meski cuman sanksi "nama jelek"....akhirnya orang akan berfikir "NGAPAIN CARI DUIT KECIL TIDAK HALAL MALAH DAPAT NAMA JELEK..." klo sudah sadar pasti akhirnya akan menolak juga uang tidak halal segede apapun.....Wassalaamu'alaikum.
(dimodifikasi dari: Anggota Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia)

Senin, 04 Juli 2011

Adus Rak Adus Kudu Mbayar



SEMARANG METRO

04 Juli 2011
Rame Kondhe
Adus Rak Adus Kudu Mbayar

Kandhane Hartono


JAMAN Lik Dul ijik cilik, banyu ledeng rak entuk dienggo sembarangan. Banyu ledeng entukke mung nggo masak tok. Kejaba jumlahe sithik, ijik ndadak ngangsu nganggo pikulan barang. Sarakke rak kabeh omah ndhuwe ledeng. Nek wegah ngangsu, ya kudu tuku banyu sing diiderke nganggo songro.

Banyu ledeng dienggo ngumbah brompit wae rak entuk, apa maneh dienggo nyirami tanduran. Nek ameh ngumbah brompit apa pit onthel kudu lunga kali. Kae lho nggon cedhake pintu air Imam Bonjol. Kaline cethek, banyune bening banget. Akeh becak mbek bemo sing dikumbah nggon kana. Saiki banyune wis rak apik, malah kadang ambune badheg banget.

Jare Lik Dul, Yu Nah saiki wegah masak nganggo banyu ledeng. Lha wis piye, panci mbek ceret nek dienggo nggodhog banyu ledeng cepet kandel merga akeh kerake. Ibu-ibu saiki nek masak nganggone banyu isi ulang. Sing sugih sithik nganggo banyu galonan sing mereke terkenal.

”Saiki banyu ledeng mung dienggo adus mbek umbah-umbah lan asah-asah. Malah ana sing dienggo nyirami latar barang ben bleduke rak mabul-mabul,” kandhane Lik Dul wektu ngumbah brompite sing bar dienggo krubyuk-krubyuk nggon dhaerah rob. Jare ben rak cepet neyeng.

Si Nang sing bar teka balbalan dikon adus wegah malah ameh dolan maneh. Lik Dul dadi mberung. Wong adus garek adus rak sah ndadak ngangsu wae kok males. Wis ben to, Lik, wong bocah wis gedhe. Mengko nek wayahe adus kan adus dhewe. Nek pancen males ya rak papa, sisan ndene ngirit banyu ben mbayare ledeng rak kakehan.
”Ngirit sing kepiye, Ton. Jaman saiki adus rak adus tetep mbayar,” jawab Lik Dul.

Sing kandha sapa? Nek dhewe nganggone banyu ngirit, ya mesthi mbayare ledeng sithik to, Lik?
”Kowe ameh nganggo banyu limang kibik utawa pitung kibik, mbayarmu tetep selepuh! Nek rak percaya takona Yu Nah sing bar mbayar ledeng. Iki merga ana ketentuan pemakaian minimal,” teges Lik Dul.

Nggolek Bathi

Lik Dul neruske critane. Jare dheknen kabeh perumahan anyar mesthi wis ana ledenge. Pasang rak pasang, tuku omah mesthi wis ana listrik mbek ledenge. Padhalan, akeh wong sing tuku omah mung dienggo celengan, carane cah saiki dienggo investasi gitu loh!.

”Nek omahe kosong, berarti ledenge kan isa diarani rak tau dienggo. Naming sing ndhuwe tetep kudu mbayar sepuluh kibik. Nek ngasi telat mbayar langsung dipedhot. Apa iki jenenge rak nggolek menange dhewe?” kandhane Lik Dul.
Mulane kancaku wingi padha muring-muring, Lik. Wong ledeng rak tau dienggo mbayare kok tetep larang. Maune dheknene ngira banyune disikati tanggane. Malah ana sing nganggep nyathete meteran dhengkulan.

Angger diprotes, jawabe jare merga pagere digembok, dadine tukang cathet meteran rak isa nyedhak. Padhalan omahe durung ana pagere. Nek PDAM nerapke aturan pemakaian minimal 10 kibik, berarti BUMD kuwi rak gelem rekasa kepingin cepet-cepet nggolek bathi to, Lik?

Jare kancaku kebijakan kuwi wis diterapke kit taun 2005. Naming, anggota DPRD malah rak ana sing reti. Dhasar aturane apa, ketoke ya digolek-goleke. Apa iki merga PDAM rak ana saingane ya, Lik, dadine wani nerapke kebijakan sepihak. Pelanggan isane mung piya-piye. Nek ameh nggolek bathi, PDAM kudune wani ngilangi kebocoran, aja ngathaki pelanggan!

”Padhalan ning tipi kerep ana kampanye, hemat energi, hemat air! Nek carane ngene, sing ngirit pelanggan sing bathi PDAM. Sesuk aku meh nantang Pak Ngargono, kae lho Ketua LP2K. Jajal sampek tekan endhi jenggote isa nglindungi konsumen!” teges Lik Dul. (61)