Sabtu, 29 Desember 2007

Banjir Semarang


Penelitian ini masih dalam proses untuk diterbitkan (insya Allah 2008 benar-benar bisa terbit)

Semarang termasuk wilayah pesisir. Lingkungan pesisir pada umumnya memiliki bentuk lahan antara lain : teras marin, gisik, dataran aluvial pantai, dan delta (Sutikno, 1983). Dari bentuk lahan tersebut yang sering digunakan untuk permukiman adalah pada bentuk lahan beting pantai dan gisik pasiran. Kedua bentuk lahan inilah yang memberikan kemungkinan yang baik untuk lokasi permukiman karena unsur medan yang bebas dari genangan air, serta di dalamnya terkandung kantong-kantong air tawar untuk ke­perluan sehari-hari (Sandy, 1977:8). Kenyataan sekarang yang terlihat ternyata daerah tersebut saat ini juga tergenang oleh banjir.

Sejak awal tahun 1971 banjir yang secara rutin ter­jadi setiap tahun di kota Semarang, mulai menyebar ke berbagai tempat yang sebelumnya tidak pernah terkena banjir, terutama di dataran aluvial pantai daerah tersebut. Banyak daerah yang dulunya berfungsi sebagai tempat penampungan sementara luapan air, sekarang sudah beralih fungsi menjadi lahan yang terbangun. Umumnya tempat penampungan luapan air tersebut sekaligus berfung­si sebagai tempat pengatusan, yaitu tempat resapan air ke dalam tanah, karena beralih fungsi sehingga air yang menggenang akan mengalir ke daerah rendah lainnya. Banjir yang melanda Kota Semarang sebenarnya ada tiga jenis, yaitu banjir kiriman, ini akibat dari tingginya inten­sitas hujan di daerah atas (Ungaran), banjir pasang adalah naiknya air laut, dan banjir genangan yaitu akibat dari tingginya intensitas hujan lokal yang terjadi di Kota Semarang. Banjir genangan ini yang paling banyak melanda daerah pusat kota, menggenangi daerah permukiman, pusat-pusat kegiatan pemerintahan dan perdagangan. Datangnya rutin setiap tahun, yaitu pada musim hujan antara bulan Desember sampai dengan bulan Februari.

Banjir bisa terjadi karena intensitas hujan yang tinggi. Tetapi yang banyak menimbulkan permasalahan di beberapa kota besar, termasuk Kotamadya Semarang adalah bertambahnya luasan genangan banjir yang terjadi. Bertambahnya luas genangan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh ulah manusia, yaitu yang berupa perubahan dalam penggunaan lahannya. Sedangkan intensitas hujan yang mempunyai siklus teratur tersebut sebenarnya dapat dianggap konstan, sehingga meluasnya genangan banjir lebih banyak dipengaruhi oleh ulah manusia.

Perilaku/ ulah manusia tersebut diakibatkan oleh bertambahnya jumlah penduduk yang tinggal di dalam kota. Pertambahan penduduk ini mengakibatkan mekarnya area per­mukiman, yaitu merubah lahan-lahan yang tadinya kosong menjadi lahan terbangun. Dalam kondisi seperti ini, air larian yang terjadi akan lebih besar, dan mengumpul dalam waktu yang lebih lama sebab fungsi tanah untuk resapan air terganggu. Akibatnya genangan banjir akan merambah kemana-mana, genangan menjadi semakin luas.

Pada tahun 1971, beberapa bagian pusat Kota Semarang khususnya di antara kedua Banjir Kanal, yaitu Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur telah dilanda banjir. Daerah-daerah yang sering terkena banjir pada waktu itu adalah daerah-daerah yang terletak pada satuan bentuk ­lahan yang lebih rendah dari satuan bentuk lahan lain di sekitarnya, seperti bekas satuan bentuk lahan rawa delta dan rawa pasang surut berair payau. Lama, luas, dan kedalaman banjir bervariasi. Di Kompleks Simpang Lima misalnya kedalaman banjir mencapai 50 cm dengan lama banjir antara 3-6 jam, dan luasnya sekitar 50,78 hektar; di daerah Mlatiharjo kedalaman banjir berkisar antara 40­70 cm dan lama banjir antara 3 - 6 jam, luasnya sekitar 63,9 hektar; di Kuningan kedalaman banjir mencapai 50 cm dengan lama banjir berkisar 1 - 6 jam dengan luas sekitar 16,26 hektar.

Pada tahun 1980 luas banjir di pusat Kota Semarang mencapai luasan sekitar 762,775 hektar, dan umumnya ter­jadi di daerah permukiman yang berada pada satuan bentuk ­lahan yang lebih rendah dari satuan bentuk lahan lain di sekitarnya. Dan banjir yang terjadi di pusat Kota Semarang pada tahun 1987 telah meluas pada satuan bentuk ­lahan yang sebelumnya tidak pernah kena banjir. Luas dae­rah banjir antara Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur dalam periode ini luasnya sekitar 1.211,70 hektar (DPU Kotamadya Semarang, 1987).
Untuk itu, di sini ingin diteliti apakah peningkatan volume banjir tersebut akibat dari perubahan penggunaan lahan, khususnya perluasan area permukiman pada daerah banjir dan daerah penyetornya, atau barangkali karena pengaruh peningkatan kepadatan penduduknya, baik pada daerah banjir, yang mengakibatkan terhalangnya aliran air, maupun pada daerah penyetornya, yang mengakibatkan meningkatnya air limpasan. Diambilnya faktor-faktor ter­sebut dalam penelitian ini karena adanya anggapan bahwa pengaruh dari tingginya intensitas hujan dan luas tang­kapan air hujannya dapat dianggap konstan. Nilai I (in­tensitas hujan) mempunyai siklus yang teratur, dan nilai A adalah tetap, sebab tidak terjadi perubahan arah sa­luran pengatusan. Jadi penelitian ini lebih banyak meli­hat pada faktor perilaku manusia dalam perannya sebagai pengubah nilai koefisien air larian.

Tata Ruang Berbasis Kesesuaian Lahan

Diterbitkan oleh:
Badan Penerbit Universitas Diponegoro

Cetakan Pertama : 2005
Jl. Imam Bardjo, SH
Telepon (024) 8450378 Semarang
ISBN : 979.704.306.1

Buku ini dapat dipesan melalui Perputakaan Program Magister Ilmu Lingkungan UNDIP Jalan Imam Bardjo, SH - SEMARANG

RINGKASAN
Dalam Undang-Undang No. 24 tahun 1992 disebutkan bahwa tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan, baik direncanakan atau tidak. Sedankan penaaan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Ruang yang ditata dalam bentuk rencana tata ruang karena itu menjadi guidance dan dasar dalam pemanfaatan ruang. Dalam AMDALpun disebutkan bahwa salah satu pertimbangan apakah sebuah rencana kegiatan layak dilaksanakan atau tidak ditentukan berdasarakan peruntukan ruang. Namun demikian dalam praktek banyak terjadi penyimapangan dalam penngunaan ruang. Jika ditelusur, terdapat dua sebab utama. Pertama, dokumen tata ruang tidak disertai dengan informasi tentang daya dukung dan daya tampung lingkungan. Daya dkung lingkungan, sebagaimana disebutkan dalam UU 23 tahun 1997 adalah kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan manusia dan mahluk hidup lain. Sedangkan daya tampung lingkungan adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/ atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya. Kedua, orientasi pembangunan yang lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi daripada pelestarian lingkungan. Padahal, pembangunan berkelan-jutan menuntut keseimbangan antara pertum-buhan ekonomi, keadilan sosial, dan pelesta-rian lingkungan. Kedua faktor penyebab ini saling terkait. Tidak adanya informasi mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan membuka kemungkinan terjadinya penggunaan ruang yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Penyalahgunaan tata ruang ini dalam prakteknya didorong oleh kekuatan pasar (market driven). Tidaklah mengheran-kan jika terdapat pameo bahwa tata ruang itu sebenarnya adalah tata uang. Karena yang memiliki power merubah ruang adalah kalangan pemilik modal. Fenomena ini terjadi juga di kota Semarang. Saya menulis artikel di harian KOMPAS berjudul Monumen Mall di Simpang Lima Semarang. Menghadapi kecenderungan ini, pemerintah kota hampir dibuat tidak berdaya mengendalikan penggu-naan ruang. Yang mereka lakukan adalah mengesahkan penggunaan ruang yang salah tersebut dengan penataan ruang baru yang di “PERDA”kan. Dalam konteks ini, maka buku yang berjudul Tata Ruang Berbasis Pada Kesesuaian Lahan menjadi relevan. Banyak kegiatan-kegiatan yang dibangun di daerah yang tidak sesuai seperti pembangunan perumahan di daerah perbukitan yang dikenal sebagai daerah patahan. Akibatnya terdapat banyak rumah yang mengalami kerusakan berat dan tidak layak huni lagi. Banyak contoh-contoh daerah yang seharusnya dikonservasi tetapi dijadikan sebagai lokasi perumahan. Meskipun buku ini memfokuskan kasusnya di kota Semarang, tetapi sangat berharga, karena banyak kasus penyimpangan tata ruang di ibu kota Jawa Tengah ini dan berakibat buruk pada lingkungan hidup.
Buku ini bisa menjadi referensi, bukan hanya bagi para mahasiswa di perencanaan kota dan wilayah, serta arsitektur saja, tetapi juga bermanfaat bagi para praktisi dan pengambil keputusan.

Jumat, 28 Desember 2007

Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Unit Sekolah Baru



Cetakan Pertama: Februari 2007
Pertama kali diterbitkan oleh
Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Jalan Imam Bardjo, SH No. 1, Kotak Pos 270
Telepon (024) 311520 – Biro Rektor UNDIP
SEMARANG

ISBN : 979-704-476-9

Buku ini dapat dipesan pada Perpustakaan Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota FT UNDIP, Jalan Hayam Wuruk 5 Semarang
Partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan/pelibatan masyarakat dalam kegiatan pelaksanaan pembangunan dalam merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan serta mampu untuk meningkatkan kemauan menerima dan kemampuan untuk menanggapi baik secara langsung maupun tidak langsung sejak dari gagasan, perumusan kebijaksanaan, hingga pelaksanaan program.

Pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) Proyek Perluasan dan peningkatan mutu SLTP/MTs dengan mekanisme Partisipasi Masyarakat sangat baik untuk dilaksanakan. Hal ini terlihat dari partisipasi masyarakat mulai dari tahap awal proyek sampai penyelesaian. Dari partisipasi yang dilakukan dapat dilihat bahwa masyarakat mempunyai andil yang sangat besar dalam pelaksanaan pembangunan USB ini. Konsultan yang ada hanya sebatas sebagai konsultan pendamping yaitu yang menjadi aktor dibelakang layar kesuksesan kegiatan ini, sedangkan masyarakat merupakan komponen yang utama dan sangat besar andilnya. Di dalam proyek ini masyarakat tidak hanya sebagai obyek (kalau dilihat dari aturan juklak dan perilaku orang Jakarta terhadap masyarakat, maka masih dapat dikatakan bahwa masyarakat sekedar obyek/kelinci percobaan yang selalu jadi bahan makian, tumpuan kesalahan, dan tanpa rasa penghargaan sama sekali atas kebrhasilan mereka), tetapi dari kacamata pelaksanan di lapangan, masyarakat sudah menjadi subyek. Hal ini dapat dilihat melalui hasil analisis yang bisa dibaca secara lengkap dalam buku laporan ini.

Intinya, dalam praktek pembangunan Unit Sekolah Baru melalui mekanisme partisipasi masyarakat, yang dikerjakan dengan dana pinjaman dari Bank Dunia [untuk propinsi Jawa Tengah, melalui loan: IBRD Loan 4062 IND], yang terjadi adalah, bahwa sebenarnya pelibatan masyarakat masih terbatas pada tahap pelaksanaan dan pengendalian saja, proses perencanaan yang meliputi penetapan tipe sekolah, proses pencairan dana, cara pengadaan barang dan material, serta bentuk pelaporan harus mengikuti aturan yang “kaku” dan kadang tidak realistis untuk kondisi masyarakat perdesaan, tetapi itu harus dilaksanakan tanpa melalui mekanisme konsultasi atau penjajagan ke masyarakat lebih dahulu.

Rabu, 26 Desember 2007

Biografi



PARFI KHADIYANTO, adalah dosen pada Fakultas Teknik Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro, yang mengajar pada program studi Diploma III, Diploma IV, S1 PWK, dan S2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota. Disamping itu juga mengajar pada Magister Teknik Arsitek-tur FT – UNDIP, dan Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro.
Lahir di Jogyakarta, tanggal 16 Oktober 1955, beragama islam, istri satu anak 2 (anak nomor 1 = perempuan, kuliah di Fakultas Kedokteran UNDIP, dan yang nomor 2 = laki-laki kuliah di Fakultas Teknik Industri FT UNDIP). Pendidikan S1 Teknik Arsitektur UGM angkatan tahun 1974, dan S2 di Magister Ilmu Lingkungan UGM angkatan tahun 1988. SMA di SMA Negeri TELADAN Gampingan Jogyakarta, angkatan tahun 1971, SMPN 5 Jogya, dan SDnya di SD Tamansiswa Ibu Pawiyatan - Mergangsan Jogyakarta, masih mengalami diajar oleh Nyi Hajar Dewantoro untuk mata pelajaran Kesenian/Tari/Nembang di Pendopo Agung Tamansiswa.
Pada periode tahun 1999 sampai 2003, bertugas sebagai Ketua Jurusan Program Diploma III Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota FT UNDIP, awal tahun 2004 menjadi sekretaris Jurusan S1 PWK FT UNDIP, tahun 1996 – 2000 menjadi Ketua Jurusan pada Teknik Lingkungan Universitas Pandanaran Semarang. Di samping sebagai dosen juga rajin melakukan penelitian-penelitian dan praktek lapangan, antara lain pada proyek-proyek yang berkaitan dengan pariwisata, perencanaan wilayah dan kota, perumahan dan permukiman, design bangunan, serta proyek-proyek yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Sejak tahun 1997 bekerja pada Junior Secondary Education Project bertindak sebagai procurement and civil work specialist yang dibiayai oleh World Bank lewat dana pinjaman dengan nomor Loan IBRD - 4062 IND, yang berakhir pada th 2003. Saat ini sedang belajar pada Program Doktor Arsitektur dan Perkotaan Fakultas Teknik UNDIP.
Kehidupan sosial di lingkungan tempat tinggal, sekarang masih menjabat Ketua RT dan Pengurus LPMK (LKMD) di Kelurahan Gedawang Banyumanik SEMARANG, disamping itu juga menjadi Pengurus Takmir Baitul ATIQ, sebagai Penasehat/Pembina.

Senin, 03 Desember 2007

Sejarah Qurban


SEJARAH DISYARIATKANNYA QURBAN

Pada suatu hari Nabi Ibrahim mimpi akan menyembelih putranya yang bernama Ismail, lalu dibicarakan dengan puteranya. Putera Nabi Ibrahim taat dan siap dengan katanya : “Kalau memang Allah SWT yang menyuruh ayah untuk menyembelih saya, laksanakanlah.” Lalu Nabi Ibrahim membawa putranya ke suatu tempat. Ketika pisau sudah diletakkan dileher Nabi Ismail, tiba-tiba Qibaslah yang terpotong sedang Nabi Ismail selamat. Qurban yang disyariatkan kepada ummat Nabi Muhammad SAW untuk mengingatkan kembali nikmat Allah kepada Nabi Ibrahim AS karena taat dan patuhnya kepada Allah SWT dan untuk bertaqarub (mendekatkan diri) kepada Allah.
Qurban dari segi bahasa artinya dekat, mendekatkan diri. Sedang menurut syara’ berarti menyembelih hewan dengan tujuan untuk ibadah kepada Allah SWT pada hari raya Idul Adha yaitu pada tanggal 10 Dzulhijjah dan dinamakan hari Nahar, dan hari-hari Tasriq yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Qurban disebut juga Udh-hiyah. Hukum berqurban ialah Sunnat Muakad. Ibadah qurban ini tidak hanya disyariatkan kepada umat Islam saja tetapi umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW juga diperintahkan berkurban, sebagaimana Firman Allah SWT :
“ Dan bagi tiap-tiap umat kami jadikan tempat berqurban (supaya ia berqurban) agar mereka mengingat nama Allah atas apa yang telah di rezqikan kepada mereka dari binatang ternak.” (QS: Al-Hajj:34)
Bagi yang memiliki kemampuan maka Qurban tidak hanya untuk sekali saja, melainkan disunnatkan untuk setiap tahun. Bersabda Nabi SAW : “Hai manusia sesungguhnya atas tiap-tiap rumah pada setiap tahun disunnatkan berqurban.” (HR Abu Daud) Orang yang memiliki harta (mampu) tetapi tidak mau berqurban, maka sangat dibenci oleh Rasulullah SAW, sebagaimana Sabda Nabi SAW : “Barang siapa yang mempunyai kecukupan untuk berqurban dan ia tidak suka berqurban maka janganlah dekat-dekat ditempat shalatku (Masjidku).” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)
Yang boleh dijadikan Qurban ialah hewan-hewan sebagai berikut :
Unta yang telah berumur lima tahun
Sapi yang sudah berumur dua tahun
Kambing yang sudah berumur dua tahun
Domba atau Biri-biri yang sudah berumur setahun atau telah lepas giginya sesudah umur enam bulan

Minggu, 02 Desember 2007

Kisah Perjalanan Haji Tahun 1998


Saya bersama istri mulai mendaftar haji sekitar bulan September 1997, saat pendaf-taran berlangsung nilai rupiah terhadap dolar Amerika masih sekitar Rp 2.350,00 per 1 $ US, jadi ongkos naik haji ditetapkan oleh pemerintah sebesar delapan juta lebih sedikit (nilai nominal riilnya sudah agak lupa). Alhamdulillah saya dan istri masih dapat tempat, meskipun harus berdesakan di Bank untuk berebut mendapat urutan depan, sehingga dari pagi sudah ngantri di depan loket pembayaran Bank, sehingga bisa berangkat pada periode haji tahun 1998.

Banyak kisah menarik yang saya alami ketika akan pergi haji, antara lain, ketika mau melunasi biaya haji sebesar sekitar Rp 17 juta, tetangga belakang rumah datang menawarkan rumahhnya untuk dijual dengan harga Rp 35 juta, dia bilang karena Pak Parfi tetangga bisa ditawar, dia patok harga menjadi 30 juta rupiah. Dalam hati saya, mungkin kalau saya tawar 25 juta rupiah pasti akan dikasihkan, tetapi kalau saya beli rumah tersebut, saya nggak jadi pergi haji – seperti menghitung suara tokek – beli rumah dan hajinya lain kali, atau tidak beli rumah tapi bisa haji – beli, tidak beli – haji dulu, nambah rumah dulu – bingung juga hati ini, bimbang rasanya saat itu. Toh saya masih muda, baru berusia 42 tahun, kesempatan haji masih panjang, aahh ....... niat haji kan sudah lama, kenapa diundur lagi. Alhamdulillah, akhirnya tetap mantab pergi haji, kalau Allah ridho, pasti suatu saat saya akan bisa nambah rumah juga, amin.

Tiba di Jeddah bandara King Abdul Aziz jam 15.00 wib, atau jam 11.00 waktu Arab Saudi. Di Jeddah diberi makan, kemudian mandi, berwudhu langsung pakai ihrom, sholat dluhur dan asar dijama’ secara berjamaah. Yang repot di sini adalah ngurus barang, pemeriksaannya memang cepat tetapi yang diperiksa banyak sekali, bukan hanya dari Indonesia saja. Ketika turun dari pesawat, yang datang dari Indonesia ada 4 kloter (artinya 4 pesawat dari Indonesia mendarat berurutan), dari Brasil 1 pesawat, orang Brasil mendarat sudah pada berpakaian ihrom semua, kemudian dari Turki. Dalam pemerik-saan saya diberi tahu ibu saya yang sudah punya pengalaman pergi haji, dianjurkan supaya memilih pemeriksa yang terpelajar, biasanya ditandai dengan orang Arab yang berkulit putih, mereka lebih sopan dibanding-kan dengan Arab hitam, dan yang penting “tidak njalukkan” – artinya tidak neko-neko dalam memeriksa, biarpun urutannya panjang tapi pilihlah dalam urutan yang pemeriksanya orang Arab putih. Alhamdulillah meskipun capek tapi lancar, handphone dan kamera serta obat-obatan yang saya bawa tidak dipermasalahkan.

Sabtu, 01 Desember 2007

Bawah Tenggelam, Atas Terjarah

BAWAH TENGGELAM, ATAS TERJARAH
Oleh: Parfi Khadiyanto

Pemanasan global bakal menenggelamkan pulau-pulau kecil di seantero dunia termasuk pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia, berdasarkan catatan konon Indonesia akan kehilangan sekitar 2000 pulau kecilnya. Kenaikkan permukaan laut ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu karena suhu naik maka air laut permukaan akan memuai, pemuaian ini akan menambah volume yang pada gilirannya akan menyebabkan kenaikan permukaan air laut. Bisa jadi, dengan naiknya suhu akan menyebabkan lelehnya sebagian dari es abadi yang terdapat di Antartika, melelehnya es ini akan menambah volume air laut dan akhirnya juga akan menaikkan permukaan air laut.
Ini semua adalah pengaruh yang ditimbulkan pada permukaan bumi bagian bawah, yaitu permukaan tanah yang berhubungan langsung dengan laut. Ternyata bagian muka bumi yang ada di atas, yaitu di pegunungan juga mengalami pengaruh buruk akibat pemanasan global.
Struktur vertikal atmosfer bumi terdiri atas lapisan troposfer, stratosfer, mesosfer, dan termosfer. Gejala cuaca, yaitu awan dan hujan, hanya terjadi pada lapisan troposfer saja. Pada troposfer ini terdapat penurunan temperatur yang disebabkan karena troposfer sangat sedikit menyerap radiasi gelombang pendek dari matahari, sebaliknya permukaan tanah memberikan panas pada lapisan troposfer yang terletak di atasnya melalui konduksi, konveksi, dan panas laten kondensasi, atau sublimasi yang dilepaskan oleh uap air atmosferik. Pertukaran panas banyak terjadi pada lapisan troposfer bawah, karena itu temperatur akan mengalami penurunan sejalan dengan ketinggian dari permukaan tanah. Penurunan temperatur bergantung pada situasi meteorologik, nilainya berkisar antara 0,5oC hingga 1oC tiap naik 100 m, atau dengan nilai purata sekitar 6,5oC setiap naik 1000 m.
Ketika bumi belum begitu ’panas’ suhu muka bumi di daerah paling bawah (pantai) adalah sekitar 24oC, sehingga ketika kita naik ke daerah dengan elevasi 1000 m di atas permukaan laut (dpl), maka suhu setempat adalah sekitar 17,5oC, hal tersebut diperkirakan dari 24o dikurangi 6,5o. Maka tidak heran ketika jaman penjajahan Belanda dulu kala, banyak villa-villa yang didirikan pada lereng pegunungan dengan ketinggian sekitar 1000 m dpl, sebab daerah tersebut memiliki suhu yang nyaman untuk manusia (suhu nyaman untuk manusia adalah sekitar 18o – 22oC). Pada daerah yang berketinggian 1000 m dpl tersebut biasanya digunakan untuk perkebunan atau hutan produksi.
Sekarang, suhu di pantai sudah naik menjadi sekitar 33oC, ketika kita naik 1000 m ke atas, suhu sudah tidak lagi 17,5oC tetapi sudah menjadi 26,5oC (33o dikurangi 6,5o), artinya sudah tidak nyaman lagi untuk manusia, masih terlalu panas, maka orang-orang berusaha untuk membuat villa lebih ke atas lagi mencapai lokasi yang berketinggian sekitar 2000 m dpl untuk mendapatkan suhu yang nyaman.
Pada daerah dengan ketinggian 2000 m dpl ini biasanya lahan digunakan untuk hutan lindung, merupakan kawasan fungsi lindung. Karena tempat ini menjadi tempat yang nyaman untuk membangun villa dan tempat peristirahatan, maka fungsi lindung tadi diubah menjadi fungsi budidaya, alhasil, pemanasan global berakibat pada penenggelaman bagian bawah dan penjarahan kawasan fungsi lindung di bagian atas. Lengkap sudah kerusakan bumi akibat pemanasan global, bawah tenggelam dan atas rusak.
Sementara ini yang dianggap berperan penting dalam proses pemanasan global adalah CO2, maka perlu pengendalian dengan cara mengurangi emisi CO2 tersebut. Langkah Walikota Semarang yang akan memberlakukan jalur sepeda perlu didukung, meskipun pelaksanaannya masih sulit. Cara lain yaitu dengan melakukan penanaman pohon sebanyak mungkin, tiap rumah harus menanam minimal satu pohon besar. Kalau dulu ketika penggalakan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan, ada semacam aturan yaitu untuk mendapatkan surat keterangan dari kelurahan harus membawa bukti telah membayar PBB, bisakah sekarang diganti dengan bukti telah menanam pohon di rumahnya, semoga bisa dan lestarilah bumi kita.

PARFI KHADIYANTO,
Pemerhati masalah lingkungan, Staf Pengajar FT UNDIP