Sabtu, 14 November 2009

HARI PERTAMA MASUK KAMPUS FLINDERS UNIVERSITY

Hari pertama masuk kampus, cari fakultas sosial science sendirian, sampai di fakultas lapor kalau sudah datang ternyata harus lapor ke Human Resource Universitas dulu, akhirnya ke ruang Bev McLeod untuk konfirmasi dan laporan kalau sudah datang. Oleh Bev McLeod diminta untuk urus asuransi ke Medicalcare atau Medibank. Tempatnya jauh di Merion Super Market, waduh keluar kampus lagi dan sendirian, sebab teman yang lain masuk ke fakultas hukum.
Alhamdulillah ketemu juga Marion Super Market, di super market gede begini nyari Medicare dan Medibank, susahnya bukan main, tanya orang juga belum pada tahu, akhirnya ketemu orang tua yang tahu lokasinya. Antre panjang di Madicare, ternyata gak melayani asuransi kesehatan untuk foreigner, di suruh ke Medibank, alhamdulillah pelayanan Medibank bagus sekali. Medicare itu milik pemerintah kayak ASKES di Indonesia, kalau Medibank swasta, lebih ramah dan lebih baik pelayanannya. Setelah menunjukkan surat dan paspor serta ketentuan untuk asuransi dari Flinders, maka diminta untuk bayar asuransi selama di Australia sebesar 183$, celakanya pihak asuransi gak mau dibayar cash, harus pakai kartu kredit, kartu ATM bank Commonwealth gak bisa untuk bayar, coba kartu ATM bank BNI juga gak bisa, kartu kredit saya yang dari BII sengaja tak tinggal, khawatir kalau hilang atau kebablasan penggunaan malah kena denda banyak, saya begitu yakin bahwa Commonwealth Bank akan lebih mudah dan aman.
Akhirnya (ini yang saya katakan pelayanan yang baik), saya disuruh bayar pakai cheque, dan order cheque nya langsung dituliskan oleh petugas Medibank, dia bikin surat ke Commonwealth bank minta supaya orang ini (saya) dibuatkan cheque untuk pembayaran ke Medibank. Tapi nyari counter Commonwealth bank saya keblasuk-blasuk sampai jauh keluar dari Marion Mall, sebab semua yang saya tanya juga gak tahu tempatnya. Untung ada ATM yang lagi dimasukin uang, nah dari petugas yang lagi memasukkan uang tadi saya tanya lokasi Commonwealth bank dimana, dengan petunjuk arah petugas ini langsung ketemu lokasi counter ComBank. Sampai di Bank saya bilang kalau mau bayar dengan cheque, saya disuruh ambil uang lewat ATM dulu baru datang ke counter untuk dibikinkan cheque, saya bilang kalau saya sudah ada cash, petugasnya heran kok saya sudah bawa uang, akhirnya dilayani juga dan langsung balik ke kampus lagi menemui Bev McLeod.
Dari kampus ke Marion naik bus nomor 179, bayar 2,7$. Dari rumah ke kampus hanya bayar 1,8$, pulang ke kampus bayar lagi 2,7$. Sebenarnya dari kampus ke Marion saya gunakan tiket pulang pergi (PP), tiket berlaku untuk jangka waktu 2 jam, karena ngurus asuransi dan pembayaran lebih dari 2 jam maka balik ke kampus bayar 2,7$ lagi.
Sampai di kantor McLeod dia juga heran, “hello here you come again, is it finish?...oh it’s very good, almost all of foreign student need 1 or 2 days for doing this, but you only a couple of hour, that great” Itu ucapan selamat pertama yang saya terima dari petugas di Australia.
Akhirnya urusan asuransi beres semua dan Bev McLeod saya kasih oleh-oleh tas batik, tas ransel batik, dia senang sekali, tapi gak tahu oleh dia akan digunakan untuk apa, sebab dia itu ternyata bos di human resource kampus, mungkin setara dengan kepala bagian administrasi di kampus Indonesia. Setelah selesai dari universitas, saya menemui Prof Anton Lucas, ditunjukkan kamar kerja saya, diberi kunci dan password untuk komputer, lalu diajak ke perpustakaan untuk mendapatkan kartu, dan tercatat sebagai staff di Flinders University.

Kamis, 12 November 2009

2012, Matahari, dan Bosscha

oleh: Ninok Leksono

Kalau menyimak wacana tentang Kiamat 2012 yang disebut berdasarkan sistem kalender Maya, argumen pentingnya ada di sekitar Matahari. Antara lain disebutkan, pada tahun 2012 aktivitas Matahari, yang sudah dimulai sejak tahun 2003, akan mencapai puncaknya. Selain itu, Matahari dan Bumi akan berada segaris dengan lorong gelap di pusat Galaksi Bima Sakti.

Tentu, Matahari amat sentral bagi Tata Surya, khususnya Bumi dan kehidupan yang ada di biosfernya. Jika ada peningkatan aktivitas di sana, Bumi pasti akan kena pengaruh. Namun, Matahari sudah rutin menjalani siklus aktivitasnya—yang berperiode 11 tahun itu—selama lebih dari empat miliar tahun dan sejauh ini baik-baik saja.

Kini, seiring dengan merebaknya buku tentang Kiamat 2012, juga film-film Hollywood tentang tema yang sama, juga muncul bantahan, tidak saja dari pimpinan suku Maya, tetapi juga dari kalangan astronomi. Mudah dimengerti kalau kalangan astronomi lalu bersuara. Ini karena penyebar kabar Kiamat 2012 banyak menyebut benda langit, seolah hal itu dapat menguatkan skenario yang mereka usung.

Padahal, dasar skenario itu sendiri, yakni kalender Maya, tidak berbeda jauh dengan kalender modern. Kalau kalender Maya punya berbagai macam siklus dengan panjang berlain-lainan, kita juga punya hal serupa. Jadi, kalau kalender Maya akan berakhir tanggal 21 Desember 2012, itu untuk kita bisa terjadi misalnya pada tanggal 31 Desember 1999. Esok hari setelah tanggal itu, yakni 1 Januari 2000, akan dimulai siklus baru, apakah itu yang berdasarkan hari, tahun, puluhan tahun, abad, atau milenium.

Seperti sudah kita saksikan, berakhirnya siklus macam-macam pada tanggal 31 Desember 1999 tidak disertai dengan kiamat bukan?

Bagaimana dengan perjajaran antara Bumi, Matahari, dan pusat Galaksi Bima Sakti? Penyebar kiamat menyebutkan, saat perjajaran akan menimbulkan gaya pasang yang akan memicu gempa bumi yang menghancurkan untuk menamatkan riwayat dunia. Gaya pasang yang sama juga akan memicu badai matahari yang akan menghancurkan Bumi. Bahkan, untuk menambah efek, planet-planet juga disebut akan berjajar pada tanggal 21 Desember 2012.

Ternyata, setelah diperiksa dengan saksama, Matahari tidak akan menutupi (menggerhanai) pusat galaksi. Bahkan, kalaupun Matahari bisa menutupi pusat galaksi, efek pasang dapat diabaikan, tulis Paul A Heckert yang dikutip pada awal tulisan ini.

Dengan penjelasan itu, skenario Kiamat 2012 tidak perlu dianggap serius.

Berdasarkan teori evolusi (lahir dan matinya) bintang, di mana Matahari adalah salah satunya, Matahari memang sekitar lima miliar tahun lagi akan mengembang menjadi bintang raksasa merah yang akan memanggang Bumi. Namun, bukankah lima miliar tahun masih jangka waktu yang amat, amat lama untuk ukuran manusia?

Namun, demi tujuan-tujuan lebih praktis, misalnya untuk mengetahui hubungan aktivitas Matahari dan gangguan komunikasi, atau untuk mengetahui lebih dalam tentang sifat-sifat Matahari, studi tentang Matahari tetaplah hal penting. Dan inilah rupanya yang diperlihatkan oleh Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat.

Penelitian Bosscha

Selama ini, Observatorium Bosscha lebih dikenal dengan penelitiannya di bidang struktur galaksi dan bintang ganda. Penelitian Matahari secara intensif dan ekstensif dilakukan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Namun, Sabtu 31 Oktober lalu, Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diwakili oleh Dekan FMIPA Akhmaloka meresmikan teleskop matahari tayang langsung (real time). Sistem pengamatan Matahari yang terdiri dari tiga teleskop yang bekerja pada tiga panjang gelombang berlain-lainan ini dibuat dengan bantuan dari Belanda dan rancang bangunnya banyak dikerjakan oleh peneliti dan insinyur ITB sendiri.

Sistem teleskop yang dilihat dari sosoknya jauh lebih kecil dari umumnya teleskop yang ada di Bosscha ini terdiri dari teleskop yang bekerja pada gelombang visual, di mana untuk mendapatkan citra Matahari, sinarnya dilemahkan dulu sebesar 100.000 kali. Untuk pemantauan, citra Matahari diproyeksikan pada satu permukaan yang dapat dilihat dengan aman. Ini diperlukan karena selain untuk penelitian, fasilitas ini juga digunakan untuk pendidikan masyarakat.

Dua teleskop lainnya masing-masing satu untuk penelitian kromosfer rendah dan satu lagi untuk penelitian kromosfer tinggi.

Menambah semarak peresmian, hadir pula ahli fisika matahari dari Belanda, Rob Rutten, yang pagi itu menguraikan tentang kemajuan penelitian fisika matahari dan tantangan yang dihadapi.

Membandingkan materi paparannya, yang dilengkapi dengan citra hidup Matahari berdasarkan pemotretan menggunakan teleskop matahari canggih, tentu saja apa yang diperoleh oleh teleskop di Bosscha bukan bandingannya.

Kontribusi Indonesia

Direktur Observatorium Bosscha Taufiq Hidayat dalam sambutan pengantarnya menyebutkan, lembaga yang dipimpinnya beruntung masih dapat terus menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga di luar negeri untuk mendukung aktivitas ilmiahnya. Sementara peneliti Matahari di Bosscha, Dhani Herdiwijaya, selain menguraikan berbagai aspek riset tentang fisika matahari juga menyampaikan harapannya untuk mendapatkan hasil penelitian detail tentang Matahari.

Peresmian teleskop surya di Bosscha tampak sebagai momentum bagi bangkitnya minat terhadap riset Matahari.

Seiring dengan peringatan Tahun Astronomi Internasional 2009, berlangsung pula peringatan 400 tahun pengamatan bintik matahari. Dalam konteks ini, masih banyak tugas manusia untuk mendalami lebih jauh serba hal tentang Matahari, bintang yang menjadi sumber kehidupan di Bumi. Alam seperti yang ada sekarang ini, menurut skenario Ilahi, masih akan terbentang lima miliar tahun lagi, bukan sampai tahun 2012.

Minggu, 01 November 2009

TIDAK ADA AIR YANG TAK BENING













Negara menghendaki stabilitas.Masyarakat menghendaki ketertiban. Sejarah menghendaki keamanan. Jiwa menghendaki ketenangan. Hati menghendaki keheningan. Mental menghendaki endapan. Dan seluruh kehidupan ini, di ujungnya nanti, menghendaki ketentraman, keheningan, kemurnian.
Karena itu, agama menganjurkan kembali ke fithri.
Kita berdagang, berpolitik, berperang, bergulat, bekerja banting tulang, bikin rumah, bersaing dengan tetangga. Yang tertinggi dari itu semua dan yang paling dirindukan oleh jiwa, adalah "air bening hidup".
Hidup bagai gelombang samudera. Hidup bergolak. Segala pengalaman perjalanan Anda adalah arus air sungai yang mencari muaranya.
Masa muda melonjak-lonjak. Tapi masa muda berjalan menuju masa senja. Dan masa senja bukanlah lonjakan-lonjakan, melainkan ketenangan dan kebeningan.
Maka, lewat naluri ataupun kesadaran, setiap manusia mengarungi waktu untuk pada akhirnya menemukan "air bening".
Ada orang yang dipilihkan oleh Tuhan atau memilih sendiri untuk mengembara langsung ke gunung-gunung dan menemukan sumber air murni.
Orang lain menunggu saja saudaranya pulang dari gunung untuk dikasih secangkir kebeningan.
Orang yang lain lagi menjumpai dunia adalah kotoran, maka ia ciptakan teknologi untuk menyaring kembali air itu dan menemukan kebeningannya.

Sementara ada orang yang hidupnya menyusur sungai, parit-parit kumuh, got-got, kubangan-kubangan. Sampai akhir hayatnya tak mungkin ia memilih sesuatu yang lain, karena mungkin tak punya kendaraan, tak punya kapal, bahkan tak punya sendal untuk melindungi kakinya dari kotoran-kotoran.

Ketidak mungkinan itu mungkin karena memang 'dipilihkan' oleh Yang Empunya Nasib, tapi mungkin juga didesak oleh kekuatan-keuatan zaman yang membuatnya senantiasa terdesak, terpinggir dan tercampak ke got-got.
Bagaimana cara orang terakhir ini menemukan air bening?
Di dalam sembahyangnya, permenungannya, penghayatannya, kecerdasannya serta kepekaan hatinya, ia tahu tidak ada air yang tak bening.
Semua air itu bening. Tidak ada "air kotor", menurutnya air kotor adalah air bening yang tercampur oleh kotoran.
Dengan menemukan jarak antara kotoran dengan air bening, tahulah ia dan ketemulah ia dengan sumber kebeningannya. Ia terus hidup di got-got, dan justru kotoran-kotoran itu makin menyadarkannya pada keberadaan air bening dalam got-got.

Adakah makna hal itu dalam kehidupan Anda?
(Emha Ainun Nadjib/"Secangkir Kopi Jon Pakir"/Mizan)