Minggu, 06 Juni 2010

Sejarah Bangsa Israel dari Presfektif Sejarah Islam

ditulis oleh: wawan.darmansyah@yahoo.co.id,http://wawand.wordpress.com

“Siapakah bangsa Yahudi ini ?” Menurut kajian sejarah yang
berdasarkan penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, awal
bangsa Yahudi mempunyai hubungan rapat dengan kisah nabi Ibrahim AS yang
berlaku sekitar 3800 tahun yang lalu atau 1800 tahun SM.
Tafsir Al-Qur’an menunjukkan bahawa Ibrahim AS tinggal di daerah
Palestine yang dikenali sekarang sebagai Al-Khalil (Hebron) dan beliau
tinggal di sana bersama Nabi Luth (QS, 21:69-71).
Anak nabi Ibrahim adalah nabi Ismail dan nabi Ishak kemudian anak nabi
Ishak adalah nabi Yaakub, kemudian dari keturunan 12 anak nabi Yaakub inilah
yang dikenali sebagai 12 suku Israel.
Anak bangsu nabi Yaakub AS adalah nabi Yusuf AS, yang terkenal dalam
sejarah, setelah ditinggalkan di dalam telaga di padang pasir oleh
abang-abangnya, akhirnya menjadi kepala bendahara negeri Mesir.
Kemudian ayahnya, nabi Yaakub, serta abang-abangnya mengikut nabi
Yusuf AS ke Mesir dan hidup damai di sana sampai suatu hari Firaun yang
berkuasa memperbudakkan (menjadikan hamba) keturunan mereka yang dikenal
dengan bani Israel.
Kerana kekejaman Firaun yang tak terkira terhadap bani Israel, Allah
SWT telah mengirim nabi Musa AS masa itu, dan memerintahkannya untuk membawa
bani Israel keluar dari Mesir.
Musa AS dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat
Allah, sekitar tahun 1250 SM.
Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan timur Kanaan (Palestine),
dalam Al-Qur’an, nabi Musa memerintahkan Bani Israel untuk memasuki Kanaan,
(Qur’an, 5:21).
Setelah nabi Musa AS wafat, bangsa Israel tetap tinggal di Kanaan.
Menurut ahli sejarah, nabi Daud AS menjadi raja Israel dan membangun sebuah
kerajaan berpengaruh.
Selama pemerintahan anaknya nabi Sulaiman, batas-batas Israel
diperluas dari Sungai Nil di Selatan hingga sungai Eufrat di negara Siria
sekarang di utara.
Ini adalah sebuah masa gemilang bagi kerajaan Israel dalam banyak
bidang, terutama senibina. Di Baitul Maqdis (Jerusalem), nabi Sulaiman
membangun sebuah istana dan biara yang luar biasa.
Setelah wafatnya nabi Sulaiman, Allah SWT mengutus ramai lagi nabi
kepada Bani Israel meskipun dalam banyak hal bani israel tidak mendengar
perintah para nabi, membunuh mereka dan mengkhianati Allah.
Setelah kematian nabi Sulaiman, kerajaan bani Israel (yahudi)
berpecah, di utara Israel dengan ibukota Samarria dan Di Selatan Juda dengan
ibukota Baitul Maqdis (Yerrusalem).
Dengan berlalunya waktu, suku yahudi jatuh di bawah Assyurria dan
Babylon atau pergi ke Mesir sebagai pelarian.
Ketika raja Persia Kyros tahun 539 SM mengizinkan orang Yahudi
kembali dari pelarian mereka, banyak orang Yahudi yang tidak kembali, di
sinilah mulainya Diaspora, penyebaran bangsa Yahudi ke seluruh dunia.
Pada tahun 63 SM Juda dan Israel jatuh ke tangan orang Romawi dan
tahun 70 SM berjaya menghancurkan pemberontakan Yerusalem dan menghancurkan
biara dan Juda.
Awal terbentuknya Israel
Setelah itu orang Yahudi hidup dalam pelarian, sehingga zaman khilafah
Othmaniyah barulah orang Yahudi dapat merasakan kehidupan yang damai dengan
membayar pajak perlindungan kepada kerajaan Othmaniyah.
Akhir abad ke 19, ditunjangi oleh Jewish Colonization Assocation Baron
Hirsch, Yahudi dari Eropah Timur berpindah ke Argentina dan membentuk
Kolonialisme pertanian, untuk kembali ke Palestine bermula tahun 1881.
Kronologi penubuhan Israel adalah seperti berikut;
1896 Theodor Herzl Yahudi kelahiran Budapest meengasaskan pembentukan
Negara Yahudi modern. Tujuannya untuk menuntut dan membuat negara untuk orang
Yahudi di Palestine, disokong oleh wang hasil sumbangan dari seluruh orang
Yahudi di dunia. Herzl ini juga dikenal pendiri zionisme, yang juga tidak
disetujui oleh orang Yahudinya sendiri.
1914 Di Palestine tinggal 1200 orang Yahudi. Setelah kekalahan
khilafah Othmaniyah dalam perang dunia pertama, Palestine menjadi bola
permainan para penjajah dan para Zionis ada di sisi British dan Amerika.
1917 Tanggal 2 November menteri luar British Lord Balfour
menandatangani Deklarasi Balfour untuk membangun negara yahudi. Sebulan
kemudian masuklah tentera British ke Baitul Maqdis (Jerusalem).
1920 Gabungan Negara-negara menyerahkan mandat Palestine kepada
British. Akibatnya datanglah 75.000 lagi orang Yahudi ke Palestine.
Negara-negara Arab tidak menyetujui didirikannya negara Yahudi di Palestine.
1922 Transjordania dipisahkan dari daerah mandat. Sebagai perwakilan
orang Yahudi dibuatlah Jewish Agency. Di tahun itu lebih kurang 80.000 orang
Yahudi tinggal di Palestine
1933 Di Jerman berlaku penghapusan etnik Yahudi secara sistematik oleh
Rejim Hitler.
1936 Masyarakat Arab menentang politik masuknya orang Yahudi ke
Palestine tapi orang Yahudi dibantu oleh tentera Inggeris.
(Gambar Atas kanan – Peta Palestine tahun 1946 sebelum peristiwa
Nakba )
1937 Sesudah pemerintah Mandat membatasi imigrasi dan pembelian tanah
oleh orang Yahudi, timbullah ketegangan yang dilakukan oleh organisasi bawah
tanah Yahudi terhadap orang Inggeris.
1939 Pendidikan sebuah brigade Yahudi untuk memasukkan orang Yahudi ke
Palestine
1945 Suruhanjaya Inggeris Amerika menganjurkan penerimaan 100,000
orang Yahudi di Palestine, tapi kemudian ditolak oleh Inggeris sehingga
menyebabkan rusuhan di antara Yahudi – Palestine.
1947 UNO menganjurkan pemisahan Palestina dan pembentukan negara
Yahudi dan Arab. Perang antara Yahudi dan Arab menghindarkan dilanjutkannya
rencana itu.
1948 Inggris mengakhiri Mandatnya atas Palestine dan pada 14 Mei
meninggalkan Palestine. Tentera Yahudi memasuki Palestine dan mengusir orang
Palestine yang didukung oleh negara-negara Arab. Di hari yang sama Ben
Gurion mengisytiharkan kemerdekaan Israel di kota yang dibentuk mereka, Tel
Aviv, sehingga kemudian menyebabkan perang hari pertama Timur Tengah.
1949 Setelah perang, Israel memenangi peperangan dan bangsa-bangsa
bersatu mengakui Israel sebagai sebuah negara.
Masjid Al-Aqsha (Arab: المسجد الاقصى , Al-Masjid Al-Aqsa, arti harfiah: “masjid terjauh”) adalah bagian dari kompleks bangunan suci di Palestina yang dikenal dengan nama Al-Haram asy-Syarif bagi umat Islam dan dengan nama Har Ha-Bayit (Bukit Baitallah (?) Temple Mount) bagi umat Yahudi dan Nasrani.
Literatur Muslim(Al Quran nul karim ) menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW diangkat ke Sidratul Muntaha dari lokasi ini pada tahun 621n Hijriyah, menjadikan Masjid ini sebagai tempat suci di Islam (lihat Isra’ Mi’raj.)
Masjid Al-Aqsa yang dulunya dikenal sebagai Baitul Maqdis, merupakan Kiblat shalat umat Islam yang pertam a sebelum dipindahkan ke Ka’bah di dalam Masjidil Haram. Umat Muslim berkiblat ke Beitul Maqdis selama Nabi Muhammad mengajarkan Islam di Mekkah (13 tahun) hingga 17 bulan setelah hijrah ke Madinah. Setelah itu kiblat shalat adalah Ka’bah di dalam Masjidil Haram, Mekkah hingga sekarang.
Masjid Al-Aqsa saat ini adalah masjid yang dibangun secara permanen oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Umayyah (Dinasti Bani Umayyah) pada tahun 66 H dan selesai tahun 73 H. Agak berbeda dengan pengertian Masjid Al-Aqsa pada peristiwa Isra’ Mi’raj yaitu meliputi seluruh kawasan Al-Haram asy-Syarif.
Pembakaran Masjid Al-Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969 telah mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam yang saat ini beranggotakan 57 negara. Pembakaran tersebut juga menyebabkan sebuah mimbar kuno yang bernama “Shalahuddin Al-Ayyubi” terbakar habis. Dinasti Bani Hasyim, penguasa Kerajaan Yordania telah menggantinya dengan mimbar buatan Jepara, Indonesia. Keluarga Bani Hasyim, yang masih bertalian darah dengan Nabi Muhammad menurut tradisi merupakan keluarga yang bertanggungjawab memelihara tempat-tempat suci Islam di kawasan tersebut.

SEMAR




Wayang merupakan bahasa simbol kehidupan yang bersifat rohaniah

daripada jasmaniah. Jika orang melihat pagelaran wayang, yang dilihat bukan

wayangnya, melainkan masalah yang tersirat dalam lakon wayang itu. Wayang

purwa dikalangan masyarakat awam lebih dikenal dengan nama wayang kulit,

bahkan ada juga yang menamakan wayang kulit purwa. Karena wayang kulit itu

berjumlah banyak sedangkan wayang purwa adalah jenis pertunjukan wayang

kulit dengan lakon-lakon semula bersumber pada cerita-cerita kepahlawanan india

yaitu Ramayana dan Mahabarata (Guritno, 1988).

Dalam bahasa krama (halus) wayang purwa dinamakan ringgit purwa atau

ringgit wacucal. Hazeu (1979) menyebut bahwa wayang adalah identik dengan

kata ringgit. Sehingga wayang atau ringgit sangat berkaitan dengan susunan

rumah tradisional Jawa yang biasanya terdiri atas bagian-bagian ruangan; yaitu

emper, pedhopo, omah buri, gandhok, sethong, dan bagian yang disebut

pringgitan (tempat yang biasanya untuk menggelar atau mementaskan

pertunjukan wayang), yaitu bagian yang menghubungkan antara penhopo ’rumah

bagian depan’ dengan omah buri ’bagian belakang’.

Hazeu (1979) berpendapat bahwa asal-muasal wayang berasal dari Jawa

asli, bukanlah meniru atau mencontoh dari Hindu, denagn lima argumen, yaitu :

(a) nama-nama peralatan wayang semua adalah kata asli jawa, (b) wayang itu

telah ada semenjak sebelun bangsa Hindu datang ke Jawa, (c) struktur lakon

wayang digubah menurut model yang amat tua, (d) cara bercerita dalang juga

mengikuti tradisi yang amat tua, dan (e) desain teknis, gaya susunan lakonan

berkhas Jawa. Pischel (1982) membuktikan bahwa asal-muasal wayang yang dari

india itu berasal dari kata rupopajivase (terdapat pada Mahabarata )dan kata

rupparupakam (terdapat dalam Therigatha ). Namun pendapat ini lemah, karena

kata-kata itu disebut dalam kitab-kitab hanyalah sambil lalu.Krom, berpendapat

bahwa wayang adalah Kreasi Hindu Jawa, suatu sinkretisme; alasannya: (1)

wayang hanya terdapat di daerah Jawa Bali, yaitu daerah yang paling kuat banyak

mengalami pengaruh dari kebudayaan Hindu; (2) India lama telah mengenal teater

bayang; (3) cerita-cerita wayang menggunakan atau berasal wiracarita India; (4)

adanya hubungan wayang dan penyembahan arwah nenek moyang (Hamzah

Amir, 1991)

Brendes (1991) juga perpendapat bahwa wayang adalah asli Jawa aeperti

juga gamelan, batik, dan sebagainya. Wayang sangat erat hubungannya dengan

kehidupan sosial, kultural dalam religius bangsa Jawa. Misalnya tokoh Semar,

Gareng, Petruk dan Bagong berasal dari Jawa yakni para nenek moyang yang di

pertuhankan.

Dalam pertunjukan wayang purwa dewasa ini adegan yang amat dinantinanti

dan digemari para penonton, utamanya para genarasi muda adalah adegan

limbukan (dua abdi wanita) dan gara-gara (empat abdi pria). Dalam adegan garagara

tersebut muncullah keempat tokoh punokawan, dan tokoh punokawan itu

melambangkan rakyat atau kawulo alit (Sri Mulyono, 1978)

Dalam dunia pewayangan istilah sedulur papat lima pancer merupakan

simbolisasi ksatria dan empat abdinya. Sedulur papat adalah punokawan, lima

pancer adalah ksatria (Yudistira, Arjuna, Bima, Sadewa, Nakulo)

Admin (2007) Dalam hal ini, yang dinamakan punokawan yakni Semar

sebagai pamomong keturunan Saptaarga ditemani oleh tiga anaknya, yaitu;

Gareng, Petruk dan Bagong sebagai pengiring para ksatria Pandawa. Kehadiran

mereka seringkali hanya dianggap sebagai tambahan yang kurang diperhitungkan

dan untuk menghadirkan lelucon saja, padahal kerap menentukan arah perubahan.

Ke lima tokoh ini menduduki posisi penting dalam kisah pewayangan. Kisah

Mereka diawali mulai dari sebuah pertapaan Sapta arga atau pertapaan lainnya.

Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasihat-nasihat dari Sang Begawan,

mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan

melakukan tapa ngrame. Dalam perjalanannya, Punokawan harus menemani

perjalanan sang Ksatria dalam memasuki “hutan”, memasuki sebuah medan

medan kehidupan yang belum pernah dikenal, gelap, penuh semak belukar,

banyak binatang buas, makhluk jahat yang siap menghadangnya, bahkan jika

lengah dapat mengancam jiwanya, sehingga berhasil keluar “hutan” dengan

selamat, sampai sang Ksatria dapat menyingkirkan segala penghalang dan berhasil

menyelesaikan tugas hidupnya dengan selamat.

Kata punokawan menurut pedalangan berasal dari kata pana, artinya

cerdik, jelas, dan cermat dalam pengamatan; sedang kata kawan berarti teman atau

sahabat, jadi punokawan berarti teman atau sahabat (pamong) yang sangat cerdik,

dapt dipercaya serta mempunyai pandangan yang luas serta pengamatan yang

tajam dan cermat; atau dalam bahasa jawa dikenal dengan istilah tanggap ing

sasmita lan limpad pasanging grahita ’peka dan peduli terhadap masalah

(www.wayang-indonesia.com).

Pandam Guritno (1976) menyatakan bahwa punokawan dalam

pewayangan merupakan pengejawantahan sifat, watak, manusia dengan

lambangnya masing-msing Yaitu: Semar lambang Karsa (kehendak atau niat),

Gareng lambang cipta (pikiran, rasio, nalar), Petruk lambang rasa (perasaan),

Bagong lambang karya (usaha, perilaku, perbuatan). Punokawan yang berjumlah

empat itu melambangkan cipta-rasa-karsa dan karya manusia. Jadi punokawan (

pana ’tahu’ terhadap empat tersebut diatas, dan kawan ’teman’ manusia hidup di

dunia. Empat hal tersebut bila diurutkan berdasarkan kepentingannya adalah

karsa, rasa, cipta dan karya)

Tokoh punokawan yang selalu mengikuti para satria yang berbudi luhur itu

ada 4 yaitu: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun, dari keempat tokoh

tersebut yang paling menjadi panotan adalah semar. Ki Lurah Semar sering di

sebut pamong agung, karena merupakan pengayom dan pelindung orang lain,

selalu menegakkan kebenaran dan keadilan. Karena tugas Semar selain bertindak

sebagai penasihat dalam kesukaran atupun bertindak agresif dan emosional bagi

para satria, juga sebagai penghibur sewaktu para satria yang diasuhnya sedang

dalam kesusahan. Bahkan semar menjadi penyelamat dan penolong pada waktu

satria dalam bahaya, sehingga sering disebut terang ilahi yang berkewajiban

mewujudkan watak dan perilaku moral yang baik, yaitu watak yang luhur, welas

asih, gotong royong dan mengutamakan kepentingan orang banyak

Ibid (2003) Asal-usul Semar adalah dari telor: kulitnya menjadi Togog

yang menjadi simbol hidup laksana kulit tanpa isi yang mementingkan duniawi

semata oleh karena itu ia mengabdi pada raksasa sebagai simbul angkaramurka,

putihnya menjadi Semar yang menjadi simbol hidup yang penuh kesucian yang

mementingkan isi dari pada kulitnya. Ia selalu memihak kepada kebenaran dan

keadilan dan meluruskan segala bentuk penyelewengan oleh karena itu ia

mengabdi kepada raja dan ksatria utama, kuningnya menjadi Manikmaya yang

mencerminkan kekuasaan karena itu ia dinobatkan menjadi rajanya dewa di

Kahyangan "Junggring Salaka" sebagai Bhatara Guru.

Biarpun Semar itu manusia atau rakyat biasa yang menjadi panakawan

para raja dan ksatria, tapi Semar memiliki kesaktian yang melebihi Bhatara Guru

yang rajanya para Dewa. Semar selalu bisa mengatasi kesaktian dari Bhatara

Guru apabila ingin mengganggu Pendawa Lima yang dalam asuhannya. Banyak

arti simbolik dalam masalah ini yang penulis percayai mungkin mendekati

kebenaran adalah :Bhatara Guru dalam agama Hindu adalah Dewa Shiva yang

dipuja oleh pemeluk agama Hindu, sedangkan Semar adalah tokoh asli Jawa / asli

Indonesia yang mungkin juga dipuja saat sebelum kedatangan agama Hindu.

Secara simbolik bisa diartikan bahwa existensi dari budaya atau nilai-nilai luhur

dari Jawa kuno selalu akan bisa mengatasi dari pengaruh Hindu dan secara

simbolik selalu memenangkan tokoh Semar terhadap tokoh-tokoh dewa Hindu.

Dan hanya dengan menerima tokoh Semar agama Hindu bisa berkembang di

Indonesia. Hal ini sekali lagi dibuktikan dengan apa yang dilakukan oleh Sunan

Kalijaga yang menggunakan senjata Puntadewa jamus "Kalimasada" sebagai

transisi dari Hindu menjadi Islam yaitu dengan menimbulkan kisah hutan

Ketangga yang mengisahkan pertemuannya dengan Puntadewa dan meng-

Islamkan dengan menjabarkan jamus Kalimasada sebagai Kalimat Sahadat.

Dan peng-Islaman masayarakat Jawa tidak melepas sama sekali tokoh yang

sudah ada dari zaman sebelum Hindu dari sekarang seperti Semar yang

perilakunya dijadikan teladan ataupun panutan masyarakat Jawa. Dan disadari

oleh Sunan Kalijaga bahwa Islam hanya akan bisa diterima oleh masyarakat

Jawa apabila kesenangan orang Jawa akan "wayang purwo / kulit" tidak diganggu

yang sebetulnya kesenangan orang Jawa kepada "wayang kulit / purwo"

bukan sekedar sebagai tontonon tapi suatu upaya pelestarian dari petuah atau

etika atau budaya Jawa yang berumur sangat tua yang masih hidup sampai

sekarang oleh karena itu wajah Islam di Jawa atau mungkin juga di Indonesia

mempunyai ciri budaya yang berbeda dengan Islam di Saudi Arabia tanpa

mengurangi makna Islam yang mendasar (www.wayang-indonesia.com).