Sabtu, 09 April 2011

Jual-Beli Pemimpin di Industri Demokrasi




Sebuah tulisan menarik, sayang kalau terbuang, untuk itu saya copy-kan sebagai dokumen di blog saya ini, dengan pernyataan mohon maaf kepada penulis dan penerbit, saya belum minta ijin, tetapi karena semata-mata demi dokumentasi, saya beranikan diri untuk memasukkan di blog saya ini, terimakasih dan mohon maaf....

Republika
Minggu, 03 April 2011
Jual-Beli Pemimpin di Industri Demokrasi

Oleh KH A Hasyim Muzadi

http://koran.republika.co.id/koran/133/132342/Jual_Beli_Pemimpin_di_Industri_Demokrasi

Sudah barang pasti para founding fathers, jamaah pendiri republik,
dan syarikat penyusun tata kerja dan pola kerja pemerintahan negeri
ini di masa lalu akan tercengang kalau sempat menyaksikan Indonesia
masa kini. Betapa tidak! Nyaris semua pilar kehidupan sudah terbalik-
balik. Semuanya terjadi sesuai selera belaka. Bahkan, konsensus
nasional pun dibuat atas cita rasa selera. Celakanya, semua terjadi
atas nama "konstitusi". Yang paling mutakhir adalah militansi ketua
sebuah federasi olahraga yang menolak mundur "on behalf of" konstitusi,
meski semua suara sepakat "melemparnya keluar pesawat". Dalam situasi
demikian, di mana gerangan berkah kehidupan?

Indonesia masa kini adalah negeri modern dengan berbagai fasilitas
dan medium paling sempurna untuk membuat semua mimpi menjadi kenyataan.
Sebuah "dunia" di mana yang mustahil bisa menjadi nyata, sistem pe-
merintahan presidensial, tapi serasa parlementerian ahli ekonomi ber-
baju mantel pengisap rente, bahkan para moralis bisa sekamar dengan
pelaku jual-beli aneka macam "amanat" rakyat. Sebuah "perselingkuhan"
yang menjijikkan. Perselingkuhan yang tentu saja dilegitimasi atas
nama "konstitusi". Lalu, di mana berkah sebuah konstitusi bagi
kehidupan?

Untuk semua ragam pragmatisme itu, di sini amat gampang ditemukan.
Hatta kalau kita ingin membeli kepemimpinan, di mana adanya? Hanya
di Indonesia modern kita akan memperoleh fasilitas paling nyaman
untuk menjadi pemimpin. Dan, itu akan semakin gampang dilakukan
kalau kita memiliki keberanian. Berani yang tidak menyisakan rasa
takut sedikit pun. Bahkan, kalau harus berhadapan dengan para
malaikat pencabut nyawa; para pemimpin produk demokrasi industri
sudah siap dengan segala bentuk jawaban. Tentu saja, tak ada ke-
berkahan hidup dalam industri demokrasi semacam ini.

Tak percaya? Lihatlah betapa demokrasi di negeri ini sudah benar-
benar menjelma sebuah industri. Dulu, dari zaman James Watt, kita
hanya mengenal industri dalam kaitannya dengan alat-alat industri
yang bertujuan "membuat" hidup jadi lebih mudah. Maka, muncullah
mesin uap. Tapi, Watt tak akan pernah menyangka, "uap" yang jamak
ditemukan untuk menjalankan sebuah mesin, kini telah sukses membuat
banyak anggaran negara "menguap". Dulu, kita mengenal Thomas Alva
Edison karena jasanya membuat dunia terang benderang. Tapi, tentu
dia tak akan pernah menyangka listrik menjadi ladang korupsi yang
membuat sebuah bangsa merana.

Di mana semua ini bisa terjadi? Salah satunya yang paling mungkin
tentu di negeri kita. Sebab, di sini para pemimpin formal dan non-
formal bisa berada dalam satu tarikan napas; memproduksi pemimpin-
pemimpin yang bukan taat kepada rakyat, melainkan patuh kepada
yang membelikan baginya kepemimpinan. Kalau di antara kita punya
kenekatan, cobalah peruntungan di bursa industri demokrasi. Kini,
sudah amat sulit menemukan di negeri ini, pemimpin yang benar-benar
datang dari rakyat, besar bersama rakyat, dan hidupnya hanya di-
abadikan untuk rakyat yang melindungi dan membesarkannya. Kondisi
ini terjadi di hampir semua strata; dari tingkat RT ke RW, dari
kepala desa ke wali kota, bupati, gubernur hingga ke presiden,
dari DPRD hingga DPR-RI di pusat pemerintahan, Jakarta.

Benarkah kita mengenal mereka semua, para pemimpin, sebelum akhir-
nya menjadi produk asli industri demokrasi? Tahu-tahu, dia yang
selama ini dikenal sebagai pengusaha lalu mentas di Senayan.
Tahu-tahu, dia yang dulu penarik retribusi di pasar, kini sudah
menjadi anggota DPRD Kota. Dulu, dia tak lebih dari seorang preman
kelas kampung, tapi kini sudah mengendarai mobil berlavel SUV atas
nama wakil rakyat. Kalau kita, sekali lagi, punya keberanian dan
sedikit modal teriak-teriak, datanglah kepada pemilik modal,
mintalah mengeluarkan sedikit uang, maka jadilah kita seorang
pemimpin yang sah plus legitimate sesuai norma demokrasi.

"Hindari politik uang" tak lebih dari sebuah semboyan di mulut,
tetapi akan segera mengering diterpa kipas-kipas lembaran rupiah.
Kapitalisme yang mencengkeram kuat Indonesia benar-benar telah
membuat nilai luhur demokrasi menjadi layaknya sebuah industri;
industri penghasil hak suara yang kemudian dijual kepada konsumen.
Tentu pembelinya adalah kelompok berduit dan kekuasaan yang tidak
percaya diri bahwa dia didukung rakyat. Satu hal yang hampir
dapat dipastikan, uangnya bukan kantong sendiri. Ah yang benar?
Lihatlah tanda-tandanya! "Siapa yang menang di bursa pemilihan?
Yang independen ataukah yang mendadak menang, karena kekuatan
tukang intervensi?" Pemimpin yang insya Allah tak akan berkah!

Kalau akhirnya terpilih, akan dengan mudah ditebak ke mana ia
akan melangkah. Akankah dia mengabdi kepada para pemilihnya
ataukah mengabdi kepada orang atau pihak yang membelikan untuk-
nya kepemimpinan. Saat ini, karena demokrasi sudah menjelma
industri, penikmatnya adalah dari kelas masyarakat paling atas
hingga mereka yang berada di paling dasar. Rakyat pembeli suara
akan berkolaborasi secara mekanis dengan para cukong pembeli
suara untuk memproduksi kepemimpinan untuk si terpilih.
Renungkan! Betapa hal ini terjadi di semua tingkatan dalam
semua lapisan masyarakat, baik itu kepemimpinan formal, non-
formal dan informal. Bahkan, untuk jadi seorang "tokoh" pun,
kita bisa mencarinya di bursa ini.

Kita tinggal memoles diri atau dipoles alias membangun citra
menjadi "seolah-olah". Seolah-olah telah menjadi pemimpin.
Seolah-olah pembela rakyat. Ini semua amat bergantung pada
selera pemesan. Kalau ingin jadi pemimpin dermawan, tinggal
panggil EO atau PR, lalu bersafari ke kantong-kantong kemiskin-
an, tebar derma. Jangan lupa ikut sertakan beberapa kru media
massa. Jangan takut jatuh miskin sebab dermanya tidak meloncat
dari kantong sendiri. Itu bisa dari loan, hibah, atau pajak
yang diambil dari rakyat. Maka, jadilah kita sebagai pemimpin
seolah-olah di tengah rakyat yang juga seolah-olah. Seolah-
olah produk asli demokrasi. Bentuk pemerintahan yang katanya
kita adopsi dari luar. Dahsyat.

Sadarkah kita bahwa yang kita hadapi ini bukan dunia seolah-
olah? Sejujurnya kita hidup di dunia nyata yang semua per-
buatan kita harus dipertanggungjawabkan. Kalau pelanggaran
atas norma kehidupan masuk kategori rusak dan merusak, Allah
akan menyiapkan respons serius atas polah tingkah laku kita.
Maka, jangan kaget jika muncul aneka macam musibah dan bencana.
Kelaparan dan ketakutan seperti menyelimuti anak bangsa ini.
"Fa AdzaaqohaalLaahu Libaasal Juu-i W al Khoufi-Maka Allah
akan merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan."
"…Liyakfuruu Bimaa Aatainaahum Fa Tamatta-uu-Biarlah mereka
mengingkari apa yang telah Kami berikan kepada mereka, maka
bersenang-senanglah." (QS an-Nahl : 55). Sadarlah, berkah
kehidupan sangat mungkin hilang akibat industri demokrasi.
Wallaahu A'lamu Bishshowaab