Selasa, 07 Juli 2009

MODUS PENIPUAN BARU

TASIKMALAYA, KOMPAS.com — Kepala Cabang Bank Rakyat Indonesia Tasikmalaya Dedy Iskandar mengungkapkan, sekarang ada modus baru penipuan melalui anjungan tunai mandiri atau ATM. Modus tersebut dilakukan pelaku dengan cek palsu yang sengaja dijatuhkan untuk ditemukan oleh orang lain.
Cek itu bersama dokumen lain seperti surat izin usaha perdagangan (SIUP ), tanda daftar perusahaan (TDP), dan nomor telepon seluler sengaja dijatuhkan oleh pelaku. Diharapkan, korban yang menemukan cek itu akan menelepon pemilik cek tersebut yang merupakan pelaku kejahatan.
Si pelaku kemudian akan memandu korban untuk ke ATM seolah-olah dia akan memberikan ucapan terima kasih kepada penemu cek dengan mentransfer uang. Padahal, ketika di ATM pelaku akan memandu korban untuk mentransfer uang kepada pelaku.
“Sepertinya cek palsu tersebut sengaja dijatuhkan oleh seseorang. Pernah ada orang yang menukarkan cek dari Manokwari tetapi setelah diperiksa ternyata cek itu palsu sehingga kami tolak,” kata Dedy saat coffee morning di aula Kantor Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya, Rabu (22/4). Kepala Urusan Bidang Operasi (Kaur Bin Ops) Polres Kota Tasikmalaya Iptu Rusdiyanto menambahkan, Polres Kota Tasikmalaya juga pernah menemukan kasus seperti itu pada Januari 2009. Ketika itu ada warga yang melapor telah ditipu Rp 2 juta dengan cara mentransfer uang melalui ATM oleh seseorang.
Sebelumnya, ia menemukan cek serta beberapa dokumen lainnya dengan identitas dan nomor telepon seluler pemilik cek. Setelah menelepon nomor yang tertera korban pun dipandu oleh pelaku untuk ke ATM dan mentransfer sejumlah uang ke rekening tertentu. “Ketika kami lacak nomor telepon seluler pelaku ternyata nomornya tidak diregistrasi, ” kata Rusdiyanto.
Dua minggu setelah menerima laporan itu, kata dia, polisi juga menerima laporan serupa. Hanya saja pada laporan kedua orang yang menemukan cek palsu belum sempat mentransfer uang kepada pelaku. Kepala Polres Kota Tasikmalaya AKBP Aries Syarif Hidayat mengatakan, modus yang dilakukan pelaku kejahatan selalu berkembang dari waktu ke waktu. Bahkan, terkadang polisi pun ketinggalan satu dua langkah di belakang dari pelaku.
Aries mengatakan, yang terpenting perbankan menjaga kehati-hatian jika menemui adanya kejanggalan. Selain itu, masyarakat juga jangan sungkan untuk melapor kepada polisi bila menemukan hal-hal yang mencurigakan. Ditambahkan Aries, perbankan diharapkan dapat melengkapi kantornya dengan CCTV, tidak hanya di dalam ruangan melainkan juga di luar bangunan kantor. Sebabnya, selama ini kejadian pencurian terhadap nasabah bank seringkali terjadi di luar gedung bank sesaat setelah nasabah mengambil uang dari bank. “Pemasangan CCTV akan semakin memudahkan polisi mengidentifikasi pelaku kejahatan,” kata Aries.

Kisah Tentang Serakah

Ada kisah menarik dari Willi Hoffsuemmer, beliau pernah menulis kisah tentang Smith dan guru kepala yang sedang berdiri dekat gelanggang anak-anak, tempat anak-anak bersukaria sepuasnya. Smith bertanya kepada guru kepala, “Mengapa terjadi bahwa setiap orang ingin bahagia, namun sangat sedikit yang mengalaminya?”

Sang guru kepala memandang kearah gelanggang anak-anak, lantas menjawab, “Anak-anak itu tampak sungguh bahagia.”
Dengan agak keheranan, Smith berkata, “Sudah tentu mereka bahagia
karena satu-satunya yang mereka lakukan adalah bermain.” “Kamu benar,” ucap sang guru, “tetapi apa yang sesungguhnya menghalangi kaum dewasa berbahagia seperti itu, juga dapat menghalangi anak-anak berbahagia.”
Sang guru merogoh saku celananya, mengambil segenggam kepingan uang
logam, lantas menghamburkannya di tengah-tengah anak-anak yang sedang bermain. Spontan saja semua sorak gembira anak-anak terhenti, berubah menjadi saling menindih dan berkelahi untuk merebut kepingan uang yang terhambur tersebut.
Kemudian, guru kepala berkata kepada Smith, “Menurut kamu, hal apa
yang menyebabkan mereka mengakhiri kebahagiaan mereka?” Smith menjawab, “Perkelahian!”

Lanjut si guru, “Ya, tapi apa yang memicu dan memacu perkelahian itu?” Agak tersipu-sipu dan ragu, Smith menjawab, “Keserakahan.” Guru itu menjawab, “Bagus, kamu telah menemukan jawaban sendiri.” (Diadaptasi dari Simon Filantropha, “Monster yang Memangsa Diri Sendiri,” Jawa Pos, Rabu, 2 Januari 2008).

Kita hidup dalam lingkungan yang serakah. Keserakahan itu ada dimana-mana. Ia bagaikan wabah penyakit yang menyebar di mana-mana dan
ke mana-mana. Mengapa orang menjarah kepunyaan orang yang lain? Salah satunya pasti karena ada keserakahan dalam hati. Mengapa orang menipu untuk mengambil uang orang lain? Salah satunya adalah karena keserakahan. Mengapa hubungan persaudaraan bisa runtuh ketika menyentuh soal warisan? Salah satunya pasti karena keserakahan.

Nabi Muhammad SAW berkata : “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah
emas, niscaya ingin memiliki lembah emas kedua; seandainya ia memiliki lembah emas kedua, ia ingin memiliki lembah emas yang ketiga. Baru puas nafsu anak Adam kalau sudah masuk tanah. Dan Allah akan menerima taubat orang yang mau kembali kepada-Nya.” (hadis riwayat Bukhori Muslim)


Minggu, 05 Juli 2009

ADAKAH TIGA KEBENARAN ITU?


Kalau disederhanakan ada tiga model kebenaran yang berlaku dan dialami manusia. Pertama, benarnya sendiri (benere dhewe). Kedua, benarnya orang banyak (benere wong akeh). Dan, ketiga kebenaran hakiki (bener kang sejati).

Sejak mendidik bayi sampai menjalankan penyelenggaraan negara, manusia harus sangat peka dan waspada terhadap sangat berbahayanya jenis kebenaran yang pertama. Artinya, orang yang berlaku berdasarkan benarnya sendiri, pasti mengganggu orang lain, menyiksa lingkungannya, merusak tatanan hidup bersama, dan pada akhirnya pasti akan menghancurkan diri si pelakunya sendiri, pongah, arogan, tak mau dinasehati, tak pernah merasa bersalah....

Benarnya sendiri melahirkan Fir'aun-Fir'aun besar dalam skala negara dan dunia, serta memproduk Fir'aun-Fir'aun kecil di rumah tangga, di lingkaran pergaulan, di organisasi, bahkan di warung dan gardu.

Lalu bagaimana dengan benarnya orang banyak? Apakah orang banyak pasti benar? Meskipun kebenaran mayoritas itulah pencapaian tertinggi yang bisa dibayangkan oleh ilmu pengetahuan yang paling rasional.

Tetapi sebenarnya sejarah ummat manusia juga pernah mencatat kengerian terhadap diktatorisme mayoritas? Bagaimana kalau kebanyakan orang dalam suatu bangsa tidak punya kemampuan untuk memilih mana yang benar, mana yang baik, mana tokoh, mana pemimpin, mana panutan, mana politisi, dan mana negarawan, bahkan mana Ulama, mana Sufi dan lain sebagainya? Yang dilihat hanya kulitnya, yang bisa memberinya kenikmatan saat ini, yang populer, yang ngganteng, yang cantik, yang lemah gemulai....bukan pada hakekat kebenaran itu sendiri.

Tragedi besar dan panjang akibat mendasarkan kebenaran mayoritas yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu di hari-hari kemarin yang dialami bangsa Indonesia ini mungkin masih dan sedang diingat kembali oleh sebagian anak bangsa untuk dua tujuan utama, yang pertama, mengingat untuk jangan mengulang lagi, dan yang kedua, mengingat untuk mencari keuntungan pribadi...untuk menggerakkan massa?
Kesengsaraan suatu kelompok kadang dianggap sebagai hiburan bagi kelompok lain, naudzubillah himindzalik, betapa munafiknya manusia itu......kapan kita bisa bersyukur?, kapan kita bisa mau jujur?, dan kapan kita tidak akan mendewakan kemenangan dan kemegahan?....tetapi kini sistem politik kita terlanjur tidak lagi mengutamakan muyawarah untuk mufakat, sayangnya spirit dan jiwa perilaku belum mampu mengikuti perubahan cara itu....apapun harus serba voting untuk mengetahui siapa dan mana yang paling banyak, itulah yang dianggap benar dan harus dimenangkan...wouw!
Akhirnya, yang terjadi hanya berlomba menghamburkan uang......