Kamis, 19 Februari 2009

KENAPA HAL INI MASIH TERJADI

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,
Ada kiriman dari millis teman, saya kutip seluruhnya saja biar anda semua bisa tahu cerita lengkapnya.

Jika masih memiliki nurani yang sehat, peristiwa ini sungguh menikam rasa kemanusiaan kita. Sungguh terjadi di rumah sakit milik pemerintah, RSU Prof. Dr. WZ Johannes Kupang, Kamis (12/2/2009) dinihari.
Hidup sudah sulit, mati pun dipersulit.......Adalah Yakobus Anunut, ayah seorang balita, Limsa Setiana Katarina Anunut (2,5 tahun), penderita gizi buruk dan diare yang mengalami nasib yang memilukan itu.Gara-gara tak punya uang Rp 300.000,- untuk menyewa mobil ambulance rumah sakit, Yakobus Anunut (37 tahun), warga kelurahan Oesapa Selatan, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, nekat berjalan kaki kurang lebih 10 kilometer sambil menggendong jenazah anaknya. Beruntung ada sanak keluarganya yang datang menolong menggunakan mobil saat dia baru berjalan lebih kurang lima kilometer.Si kecil Limsa yang menderita gizi buruk, terkena diare sehingga Yakobus pun membawanya ke RSU Kupang, NTT, Rabu (11/2/2009). Karena ruang perawatan sudah penuh, Limsa dirawat di salah satu ruangan instalasi gawat darurat (IGD). Dengan jaminan kartu kesehatan untuk orang miskin, Yakobus berharap anaknya mendapat perawatan untuk disembuhkan.Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain. Baru beberapa saat dirawat, Limsa meninggal dunia, Kamis dinihari, sekitar pukul 03.00 Wita. Petugas medis kemudian membawa jenazah Limsa ke kamar jenazah rumah sakit. Ternyata, di ruangan instalasi pemulasaran jenazah (IPJ), Limsa diterlantarkan begitu saja. Padahal, biasanya setiap jenazah yang dititipkan di ruangan itu dimandikan oleh petugas rumah sakit dan disuntik formalin agar tidak membusuk.Orang tua korban yang hanya berprofesi sebagai petugas cleaning service di sebuah instansi pemerintah, hanya pasrah dengan perlakuan petugas rumah sakit. Sekitar dua jam menunggu, Yakobus akhirnya menemui petugas ambulance untuk meminta jenazah anaknya dibawa pulang ke rumahnya. Namun, petugas ambulance meminta biaya Rp 300.000,-. Mereka memberikan kesempatan kepadanya untuk mencari pinjaman."Saya katakan kepada petugas ambulance bahwa untuk membayar ojek saja saya tidak punya uang. Dari mana saya harus mendapatkan uang sebanyak Rp 300.000,- untuk membayar bapak?", katanya.Kasih sayang yang mendalam terhadap buah hatinya, membuat Yakobus tak tega melihat anaknya tidur membujur kaku tanpa perhatian. Tak sedikitpun ada niat dari petugas IPJ untuk memandikan bayi malang ini. Karena mengaku tak mampu membayar, petugas ambulance rumah sakit langsung pergi, tak menghiraukan Yakobus. Hati bagai disayat sembilu. Perih dan sakit, namun tak bisa ditumpahkan karena tak punya kuasa untuk melakukannya.Yakobus akhirnya memutuskan untuk menggendong jenazah anaknya sambil berjalan kaki sejauh kurang lebih 10 kilometer untuk kembali ke rumahnya. "Akhirnya saya putuskan membawanya berjalan kaki saja", ujar Yakobus.Yakobus tidak bisa menyembunyikan kedukaannya karena putri satu-satunya itu meninggal dalam perawatan di rumah sakit. "Seharusnya anak saya tidak meninggal kalau ditangani secara baik di rumah sakit", ujarnya sedih.Dia mengaku tidak dipedulikan pihak rumah sakit. Pasalnya, Yakobus yang tercatat sebagai keluarga miskin, membawa kartu jaminan kesehatan untuk orang miskin, tetap saja diminta membayar sewa ambulance. Padahal dengan memperlihatkan kartu tersebut kepada petugas, seharusnya jenazah langsung diantar pulang.Ia berjalan dari RSU Kupang menuju kediamannya di belakang Rumah Penitipan Barang Sitaan (Rumpasan) Kelas I Kupang, kompleks Lembaga Permasyarakatan (LP) Kupang. Dengan linangan airmata dan berbagai rasa yang berkecamuk di hatinya, Yakobus tidak menghiraukan dinginnya udara pagi yang menusuk disertai gerimis yang terus turun. Yakobus nekad berjalan sendirian. Hanya dibungkus sebuah kain lusuh, Yakobus terus mendekap jenazah buah hatinya agar tidak terkena percikan gerimis.Ia sempat membangunkan kerabatnya di bilangan Oebobo untuk memberitahukan kematian Limsa, lalu terus berjalan. Tiba di kompleks Flobamora Mall (sekitar 5 kilometer), Yakobus yang kecapekan, sejenak beristirahat. Semalaman bergadang menjaga Limsa ditambah belum ada sesuap nasi pun yang mengganjal perutnya sejak malam, Yakobus butuh waktu untuk melepaskan lelah.Ternyata masih ada yang berbaik hati. Sanak saudaranya di Oebobo ternyata diam-diam mencari kendaraan untuk membantunya. Saat masih melepaskan lelah, menggunakan sebuah kendaraan pick-up, saudaranya yang berasal dari Oebobo berhasil menemui Yakobus. Terus mendekap Limsa di dadanya, jenazah pun diantar sampai di kediamannya.Tak ada yang perlu disalahkan. Yakobus Anunut pun tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Dia hanya ingin agar jenazah bayinya segera dimakamkanSumber : Tribun Batam, 15 Februari 2009, Halaman Muka

Itulah kawan…….memilukan, serba salah dan membingungkan, kalau petugas ambulance mengantar jenazah tanpa ada biaya….jangan-jangan dia dianggap melanggar aturan, lalu dipecat atau diperkarakan….kalau tidak diantar, ya beginilah jadinya. Ada yang mengganjal dan menyesakkan dalam hidup ini……..maka dari itu, berdo’a…berdo’a, dan berdo’a, agar terhindar dari hal-hal yang tidak baik, terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat, dan terhindar dari perbuatan yang membuat orang lain sakit….
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Rabu, 18 Februari 2009

Limbah di Kali Tapak Menimbulkan Bau Busuk

Berita Koran Suara Merdeka Semarang tanggal 6 Februari 2009 menyatakan bahwa Kali tapak di Tugurejo tercemar limbah lagi.

Warga RW 6, Kelurahan Tugurejo, mengeluhkan limbah industri yang dibuang ke Kali Tapak. Limbah tersebut menimbulkan bau busuk yang sangat mengganggu kenyamanan mereka.Limbah tersebut diduga berasal dari pabrik pengolahan hasil laut di kawasan Tambakaji yang membuang ampas produksinya tanpa diproses melalui instalasi pengolahan limbah (IPAL). Pembuangan dilakukan pada malam hari, terutama pada saat hujan deras.Meski bercampur air hujan, bau busuk limbah tidak serta merta hilang. Bau itu menguap ke permukiman di sepanjang saluran pembuangan yang bermuara di Kali Tapak. Baunya amis dan busuk menusuk hidung. Warga sangat merasa terganggu. Praktik pembuangan limbah semacam itu telah dilakukan semenjak dulu. Warga sudah menyampaikan keluhan mereka kepada pihak kelurahan dan diteruskan ke Bapedalda (kini Badan Lingkungan Hidup/BLH) Kota Semarang, yang kebetulan berkantor di kawasan Tapak. Kendati demikian, limbah berbau busuk masih terus mengganggu warga.Warga tidak menuntut macam-macam. Mereka hanya menginginkan perusahaan-perusahaan itu mengolah limbahnya terlebih dahulu sebelum dibuang ke Kali Tapak. Kalau mereka mengaku telah membuang limbah sesuai dengan prosedur, fakanya bau busuk masih tercium.”Kami sadar, keberadaan pabrik-pabrik itu juga membawa manfaat bagi warga sekitar. Banyak di antara warga di sini yang bekerja di tempat itu. Tapi kami minta mereka memperhatikan kenyamanan warga,” tandasnya.Kepala BLH Kota Semarang mengatakan, pihaknya siap memberi sanksi bila memang ada perusahaan terbukti menyalahi regulasi soal IPAL. ‘’Ada ancaman pidana bila memang melakukan pencemaran,’’ katanya. Ia memaparkan instansinya selalu mengecek pemanfaatan IPAL bagi perusahaan yang memproduksi limbah. Sebelum sanksi pidana, ada sanksi adminitrasi, seperti mencabut izin usaha. Ia menyebutkan warga yang dirugikan oleh limbah hasil kegiatan produksi bisa langsung melaporkan.

Memang dilematis, suatu kawasan yang diijinkan untuk digunakan sebagai lahan industri kalau tidak diawasi dan dikendalikan dalam pemanfaatannya, biasanya akan berbenturan dengan permukiman yang menempel pada kawasan industri tersebut. Bagi mereka yang punya hubungan langsung dengan kegiatan industri pastilah lebih permisif dibandingkan penghuni yang tidak ada hubungannya dengan industri di wilayah itu. Ibarat bengkel motor, pemilik akan senang dengar raungan suara motor yang berbunyi, tetapi penghuni yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan bengkel akan merasa terganggu sekali. Pabrik wajib buat IPAL dan membuang limbah sesuai prosedur, tetapi masyarakat yang salah pilih tempat tinggal harus juga mau menerima kenyataan bahwa lingkungan sekitar pabrik pasti lebih bising, lebih kotor, lebih bau dibanding yang khusus untuk permukiman.

Ada orang yang selalu mengeluh kalau tinggal dekat masjid, katanya bising dengar suara adzan. Tetapi bagi umat islam yang senang melakukan sholat jama’ah di masjid, justru sangat mengharapkan mendengar suara panggilan adzan. Sejauh adzan dikumandangkan pada jam-jam waktu sholat, hal itu tidaklah salah, apalagi suara muadzinnya bagus. Tetapi kalau dikumandangkan di luar waktu sholat, itu baru pencemaran.
Nah limbah di Kali Tapak pun barangkali demikian, perlu diteliti dengan benar, apakah limbah yang ada masih dalam batas toleransi atau sudah masuk kategori mencemari lingkungan. Apakah pabrik sudah membuang sesuai prosedur yang dipersyaratkan, kalau tidak sesuai berarti pelanggaran. Apakah alat IPALnya masih layak, kalau sudah tak layak harus diperbaiki/diganti, dst.

PARFI KHADIYANTO

Sabtu, 14 Februari 2009

TENGKORAK PALING BERHARGA

Seorang yang disebut Bahlul di Bagdad pada masa hidupnya dikenal sebagai seorang yang pandir namun bijaksana. Suatu hari, ia duduk di sebuah pasar. Ia menempatkan tiga buah tengkorak di hadapannya. Di depan tengkorak pertama, ia letakkan tulisan “gratis”. Di depan tengkroak kedua, ia letakkan tulisan “satu sen”. Di depan tengkorak ketiga, ia letakkan tulisan “tak ternilai”.Orang-orang yang melihat itu menganggap Bahlul telah gila. Hanya orang gila yang menjajakan tengkorak. Apalagi tiga tengkorak dengan harga yang berbeda. Apa yang membedakan ketiga tengkorak itu ? Ketiganya tampak sama.Akhirnya, karena penasaran ada seseorang yang mendekatinya. Ia bertanya tentang perbedaan harga itu.Bahlul mengambil sebuah tusuk daging dan mencoba memasukkan pada lubang telinga tengkorak yang bertanda gratis. Ia tidak dapat memasukkannya sama sekali. Ia berkata, “Lihatlah ! Tidak ada yang dapat masuk ke dalam. Tengkorak ini sama sekali tak berharga”Kemudian, ia mencoba memasukkan tusuk daging itu ke dalam tengkorak yang bertanda satu sen. Tusuk daging itu denganmudah masuk. Dari satu telinga langsung menembus keluar melalui telinga yang lain. Ia berkata, “Anda lihat ? Tidak ada yang tertingal di dalamnya. Tengkorak ini hanya satu sen”.Selanjutnya, ia mencoba pada telinga tengkorak yang bertanda tak ternilai. Tusuk daging itu masuk dengan mudah melewati telinga yang pertama, namun tidak dapat keluar melalui telinga kedua. Ia berkata, “Tengkorak ini tak ternilai harganya. Apa yang masuk ke dalamnya akan tetap di dalamnya, tidak keluar lagi”

Jumat, 13 Februari 2009

Australia Lebih Islami

Australia yang merupakan tetangga putih Indonesia di selatan jauh lebih Islami dan berhasil menerapkan nilai-nilai Islam dalam sistem kehidupan mereka daripada Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim di dunia karena keadilan, kebersihan, kemakmuran dan kedamaian ada di negara benua itu.
"Dalam konteks sistem, Australia tampak sekali Islaminya. Artinya Islam secara fungsional terjadi di negara yang berpenduduk mayoritas bukan Muslim ini, sedangkan di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, nilai-nilai Islami justru tidak tampak," kata intelektual Muslim Indonesia Dr Eggi Sudjana SH MSi.
Otokritik terhadap Indonesia itu disampaikan Eggi kepada Antara seusai berceramah tentang "Islam Fungsional" di depan puluhan anggota jemaah pengajian bulanan Perhimpunan Masyarakat Muslim Indonesia di Brisbane (IISB). Intelektual yang juga pelopor perjuangan buruh Muslim, politisi, peneliti, dan pengacara itu mengatakan, Australia berhasil mengfungsionalisasikan nilai-nilai Islami ke dalam sistem kehidupannya adalah satu kenyataan sehingga para penganggur sekalipun diberikan jaminan sosial di Australia.
Di Indonesia, kehidupan sebagian besar rakyatnya justru susah, angka pengangguran dan kriminalitas tinggi, pendidikan bermutu belum berpihak kepada rakyat kecil, dan bahkan penerapan upah minimum regional bagi para buruh pun berbeda-beda di setiap daerah padahal harga minyak sama dimana-mana, katanya.
Kondisi demikian justru tidak terjadi di Australia. Dalam kondisi kehidupan yang semakin berat di Indonesia itu, aksi perampokan dan pencurian semakin tampak biasa di negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia itu, katanya. Kondisi demikian, menurut mantan ketua Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Jakarta (1984-1985) dan Ketua Umum HMI MPO (1986-1988) itu, tidak dapat dilepaskan dari tanggungjawab pemerintah.
Aktivis yang pernah mencalonkan diri menjadi ketua umum Partai Persatuan Pembangunan dan duduk sebagai anggota Dewan Pakar DPP PPP itu pun secara panjang lebar mengupas perihal tanggung jawab besar pemerintah yang berkuasa terhadap kondisi yang ada dalam ceramahnya di forum pengajian bulanan IISB.
Umat Islam Indonesia, lanjutnya, sudah saatnya menyamakan visi dan misi mereka di tengah keberagaman keyakinan politik mereka untuk mendorong berfungsinya nilai-nilai Islam dalam sistem kehidupan di Indonesia. "Visi itu adalah ridho Allah dan misi amar ma`ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan)," katanya.
Eggi Sudjana berada di Australia sejak dua minggu lalu untuk memasyarakatkan ide "Islam fungsional" melalui kegiatan dakwah dan pelatihan di Sydney, Brisbane, dan Melbourne. Penulis buku "Islam Fungsional Paradigma Baru PPP" (2006) itu akan bertolak ke Melbourne pada 14 Maret 2008. Acara pengajian bulanan IISB yang berlangsung di salah satu ruang kuliah Universitas Queensland itu juga diisi dengan penampilan kelompok musisi pemuda Muslim Indonesia dan pemilihan pengurus baru IISB.

Kamis, 05 Februari 2009

Mencari Teman Lama







Semakin tua seseorang semakin terasa bahwa hidup itu akan menjadi sendiri lagi, seperti ketika kita ada di dalam rahim ibu, hanya detak jantung dan degub nafas ibu yang kita dengar. Betapa hebatnya seorang ibu, disaat setua ini kita baru merasa membutuhkan ibu lagi
Satu persatu teman-teman pada pergi dengan kesibukannya....
dan menuju alamnya masing-masing
Kalau ada yang tahu dan ingat dimana temanku ini.......
Mereka adalah alumni Arsitektur UGM dan teman dalam Kuliah Kerja Nyata di Gunung Kidul, ada yang seangkatan denganku, ada yang jauh di atas dan di bawahku, yang kuingat hanya sebagian, maaf kawan, semakin tua semakin lupa akan nama-nama yang dulu pernah menjadi panggilanmu........
Pak Sonny (fak Geografi), Pak Suwito, Pak Bambang Supriyadi, (pak....??), Pak Sujadi, Pak Sunandar (almarhum), Pak Tedjo Suminto
Pak Gatot Wardianto, Ibu Lena (di Palangka Raya), Pak Eko Budihardjo
Pak Djatmiko Waluyono, Pak Andi Siswanto, Pak Henky, Pak Pujo
Mas Darwis Khudori, Mas Mikok, dan Dik..........???? maaf aku sudah lupa






MENGATUR PENEMPATAN FOTO DI KOTA

Kalau kita keliling kota Semarang melihat di sepanjang jalan protokol di kota ini, ada terpampang banyak foto wajah orang yang kebanyakan menggunakan peci atau berjilbab bagi yang perempuan, itu adalah foto calon anggota legislatif dari Jawa Tengah, yang mengajak orang-orang yang lewat di depannya untuk mengingat wajahnya dengan senyum manis.
Setiap orang pasti ingin tampil ke depan untuk bisa dilihat orang lain, apalagi calon pemimpin, ingin dikenal wajahnya, ingin dikenal pribadinya, dan sebagainya.
Seandainya kota Semarang bisa menyediakan suatu tempat khusus untuk menempel wajah-wajah calon anggota legislatif dengan tertib dan rapi, alangkah indahnya suasana kota Semarang ini, gambar atau foto tersebut disamping akan terpelihara kebersihannya, juga wajah kota tidak tampak semrawut, kotor, dan kumuh oleh sobekan kain poster foto tersebut.
Konon Semarang sudah punya perangkat rancangan fisik kota yang berupa Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL), yaitu suatu perangkat yang dijadikan panduan dalam menyusun rancangbangun perwajahan arsitektur kota secara tiga dimensional. Rancangan (RTBL) ini mengatur arahan bentuk, dimensi, gubahan massa bangunan, perletakan, komposisi bangunan, sampai ke pengaturan tata letak bangunan terhadap ruang terbuka (open space), dan pengendalian facade bangunan pada koridor jalan yang akan berpengaruh pada streetspace koridor jalan. Akan tetapi yang menyangkut perletakan iklan, baliho, dan foto dengan ukuran besar, belum dipikirkan secara serius, atau sudah dipikirkan tetapi tidak ada kontrol dalam pemasangannya. Ibarat sebuah bangunan, belum merencanakan penempatan air condition (AC) secara benar. Sehingga ketika bangunan sudah berdiri megah, selang beberapa bulan kemudian terlihatlah tempelan-tempelan AC dengan segala merk di atas jendela kantor.
Saya kira sudah saatnya Semarang punya rancangan kota yang menjamin keindahan, sekaligus mengatur perawatannya, melalui pengaturan tempat khusus untuk poster dan foto yang berukuran besar. Setelah pemilu untuk legislatif, sebentar lagi ada pemilu untuk presiden, dilanjutkan pemilu untuk cawali, cagub, dan mungkin juga akan dipenuhi lagi dengan poster dan bendera menyambut ultah parpol. Bayangkan sekarang ini ada 39 parpol, artinya dalam sebulan ada 3 kali pesta ultah yang mengotori kota dengan poster dan bendera. Kapan kota bisa bersih? Produk RTBL mestinya menjangkau hal tersebut secara serius agar kota terhindar dari tempelan poster dan bendera yang sudah lecek.

PARFI KHADIYANTO

Rabu, 04 Februari 2009

PEMAHAMAN tentang PERSEPSI

Hasil interaksi individu dengan obyek menghasilkan persepsi in­dividu tentang obyek itu. Jika persepsi berada dalam batas-batas optimal maka individu dikatakan dalam keadaan homeostatis, yaitu keadaan yang serba seimbang. Keadaan ini biasanya ingin diper­tahankan oleh individu karena menimbulkan perasaan-perasaan yang paling menyenangkan (Sarwono, 1992). Sebaliknya, jika obyek dipersepsikan se­bagai di luar batas-batas optimal (terlalu besar, kurang keras, kurang dingin, terlalu aneh, terlalu jelek, dan sebagainya) maka individu itu akan mengalami stres dalam dirinya. Tekanan-tekanan energi dalam dirinya meningkat sehingga orang itu harus melakukan coping (penyesuaian) untuk menyesuaikan dirinya atau menyesuaikan lingkungan pada kondisi dirinya. Selanjutnya mereka harus melakukan perbuatan penyesuaian diri (coping behavior). Sebagai hasil dari coping behavior, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, tingkah laku coping itu tidak membawa hasil sebagaimana diharapkan. Gagalnya tingkah laku coping ini me­nyebabkan stres berlanjut dan dampaknya bisa berpengaruh pada kondisi individu maupun persepsi individu. Kemungkinan kedua, tingkah laku coping yang berhasil, maka terjadi pe­nyesuaian antara diri individu dengan lingkungannya (adaptasi) atau penyesuaian keadaan lingkungan pada diri individu (adjustment). Dampak dari keberhasilan ini juga bisa mengenai individu maupun persepsinya. Jika dampak dari tingkah laku coping yang berhasil terjadi berulang-ulang maka kemungkinan akan terjadi penurunan tingkat toleransi terhadap kegagalan atau kejenuhan. Di samping itu, terjadi peningkatan kemampuan untuk menghadapi stimulus berikutnya. Kalau efek dari kegagalan yang terjadi berulang-ulang, kewaspadaan akan meningkat. Namun, pada suatu titik akan terjadi gangguan mental yang lebih serius seperti keputus-asaan, kebosanan, perasaan tidak berdaya, dan menurunnya prestasi sampai pada titik terendah.
Otto Soemarwoto (1987), mengungkapkan bahwa adaptasi itu ada tiga macam yaitu adaptasi fisiologi, adalah proses adaptasi melalui faal, contohnya orang yang hidup di lingkungan tercemar, dalam tubuhnya berkembang kekebalan terhadap infeksi muntah berak, mereka tahan terhadap kondisi ini karena tubuhnya sudah mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang kurang baik. Maka dari itu sering kita lihat orang bisa enjoy hidup di daerah kumuh. Kemudian yang kedua adaptasi morfologi, yaitu terjadi perubahan bentuk fisik pada dirinya. Orang Eskimo yang hidup di daerah Arktik (Es Kutub) yang dingin mempunyai bentuk tubuh yang pendek dan kekar, bentuk yang demikian mempunyai nisbah luas permukaan tubuh terhadap volume tubuh yang kecil, sehingga panas yang hilang dari tubuh dapat berkurang, berbeda dengan orang Afrika yang hidup di daerah panas, biasanya memiliki tubuh yang kurus dan tinggi (langsing), agar panas badan dapat mudah terlepas. Yang ketiga adalah adaptasi kultural, yaitu adaptasi yang terjadi dengan melakukan perubahan pada lingkungan tempat hidup agar tercapai keseimbangan dengan dirinya. Contohnya, penggunaan alat pendingin ruangan, bentuk rumah panggung di daerah banjir, ruang tamu yang tanpa kursi bagi guru ngaji karena sering dipakai kelas dengan jumlah siswa yang banyak, dsb. Jadi sebenarnya, adjusment adalah bagian dari adaptasi juga, yaitu adaptasi dengan melakukan perubahan bentuk tempat hidup, dan mungkin tanpa mengurangi keinginan yang ada dalam diri manusia, atau kalau terjadi pengurangan relatif kecil. Maka di sini proses adjusment dimasukkan dalam pemahaman perilaku adaptasi. Adaptasi dengan melakukan perubahan bentuk lingkungan, adalah adaptasi kultural (adjusment), manusia sebagai pelaku adaptasi merubah lingkungan agar sesuai dengan harapannya.
Penjelasan mengenai bagaimana manusia mengerti dan menilai ling­kungan dapat didasarkan pada dua cara pendekatan. Pendekatan pertama adalah yang dinamakan pandangan konvensional. Bermula dari adanya rangsang dari luar individu (stimulus), individu menjadi sadar akan adanya stimuli ini melalui sel-sel syaraf reseptor (penginderaan) yang peka terhadap bentuk-bentuk energi tertentu (cahaya, suara, suhu). Bila sumber energi itu cukup kuat untuk merangsang sel-sel reseptor maka terjadilah penginderaan. Jika sejumlah penginderaan disatukan dan dikoordinasikan di dalam pusat syaraf yang lebih tinggi (otak) sehingga manusia bisa me­ngenali dan menilai obyek-obyek, maka keadaan ini dinamakan per­sepsi.
Secara umum, pandangan konvensional ini menganggap persepsi sebagai kumpulan penginderaan (sen­sation). Jadi, kalau kita melihat sebuah benda yang bisa bergerak cepat, punya roda empat maka kumpulan penginderaan itu akan diorganisasikan secara tertentu, dikaitkan dengan pengalaman dan ingat­an masa lalu, dan diberi makna tertentu sehingga kita bisa mengenal benda itu sebagai mobil. Cara pandangan seperti ini dinamakan juga pendekatan konstruktivisme.
Akan tetapi, aktivitas mengenali obyek atau benda itu sendiri adalah aktivitas mental, yang disebut juga sebagai aktivitas kognisi (kesadaran yang didapat dari proses kerja pikiran yang dengannya orang akan waspada terhadap obyek yang ada dalam pikirannya). Maka sebetulnya otak tidak secara pasif menggabung-gabungkan kumulasi (tumpukan) pengalaman dan memori, melainkan aktif untuk menilai, untuk memberi makna, dan sebagainya. Karena adanya fungsi aktif dari kesadaran manusia, pandangan ini digolongkan juga kepada pandangan fungsionalisme. Jadi secara konvensionalisme, persepsi adalah kegiatan mengkonstruksikan dari suatu fungsi.
Pendekatan kedua adalah pendekatan ekologik. Pendekatan ini dikemukakan oleh Gibson (Fisher et al, dalam Sarwono 1992). Menurut Gibson, individu tidaklah menciptakan makna-makna dari apa yang diinderakannya karena sesungguhnya makna itu telah terkandung dalam stimulus itu sendiri dan tersedia untuk organisme yang siap menyerapnya. Ia berpendapat bahwa persepsi terjadi secara spontan dan langsung. Jadi, bersifat holistik. Spontanitas itu terjadi karena organisme selalu menjajaki (eksplorasi) lingkungannya dan dalam penjajakan itu ia melibatkan setiap obyek yang ada di lingkungannya dan setiap obyek menonjolkan sifat-sifatnya yang khas untuk or­ganisme bersangkutan. Sebuah pohon, misalnya tampil dengan sifatnya yang berdaun rindang dan berbatang besar maka sifat ini menampilkan makna buat manusia sebagai tempat berteduh. Sifat-sifat yang menampilkan makna ini oleh Gibson dinamakan affordances (afford = memberikan, menghasilkan, bermanfaat). Affordances atau kemanfaatan dari setiap obyek adalah khas untuk setiap jenis makhluk (spesies) walaupun kadang-kadang ada juga tumpang tindihnya. Pohon rindang yang memberikan sifat keteduhan untuk manusia, mungkin memberikan sifat lain untuk burung, semut, atau anjing sehingga masing-masing makhluk men­dapatkan maknanya sendiri-sendiri dari pohon tersebut. Burung membuat sarangnya di ranting-ranting pohon dan semut membuat rumahnya dalam batang pohon, sedangkan anjing menggunakan pohon itu untuk kencing. Dengan kata lain, menurut Gibson, obyek-obyek atau stimuli itu sendiri pun aktif berinteraksi dengan makhluk yang mengindera sehingga akhirnya timbullah makna-makna spontan itu. Adapun kelebihan manusia dari makhluk lainnya adalah ia bisa mengubah kemanfaatan dari suatu stimulus sehingga lebih memenuhi keperluannya sendiri. Kalau ia memerlukan sebuah rumah, maka pohon yang rindang itu bisa ditebang dan kayunya dibuat rumah. Sebagai rumah tentu saja kemanfaatan dari bekas pohon itu berbeda.Dengan akal dan budi yang dimiliki manusia, dan dengan pengalaman hidup yang dipunyai, manusia mampu mempersepsikan suatu kondisi, dan persepsi ini sangat individualistis sifatnya, yaitu berbeda untuk setiap manusia, tergantung dari pengalaman hidup yang dijalani dan ekspektasi yang diinginkan. Ketika seseorang menempati suatu lingkungan permukiman yang memiliki jalan beraspal atau di paving, akan merasa bangga dan senang apabila sebelumnya tidak pernah bertempat tinggal pada suatu lokasi yang demikian, tetapi sebaliknya akan merupakan hal biasa bagi yang lainnya, bahkan mungkin yang dipentingkan bukan jenis materialnya, tetapi lebih ke lebar jalan dan penghijauannya, demikian pula dalam hal mempersepsikan kondisi lingkungan yang selalu tergenang banjir, masing-masing individu akan berbeda dalam pemaknaan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki sebelumnya.