Jumat, 31 Desember 2010

Merefleksikan Pendidikan by Angelina Veni (seri 2)

Trust, Expectation, Responsibility

Saya kaget banget waktu ujian pertama saya di sini.
Kita masuk ke auditorium, duduk sesuka hati, dibagiin
kertas ujian, lalu semua lecturer/TA keluar dari ruangan
dan nunggu di luar. Ga ada orang yang jaga ruang ujian.
Yang ada cuma 1 paragraf di depan kertas ujian “Saya
mengerti dan menjalankan Honor Code. Saya tidak
menerima bantuan yang tidak diizinkan sebelum,
ataupun selama tes berlangsung.” dan tanda tangan
kita. Kalau mau mencontek, gampang aja. Di sini
murid bener2 dipercaya… Ekspektasi awal orang
terhadap murid positif, bukan negatif. Kami
dipercaya membuat keputusan sendiri, bahwa kita
bisa bertanggung jawab atas kepercayaan itu. Ini
tercermin juga dari kelas online wajib AlcoholEdu,
tentang alkohol di kampus. Yang menarik, di
pendahuluan kelas itu, ditulis : “Kami tidak akan
menggurui kamu untuk tidak minum. Kami hanya akan
memberikan informasi, dan adalah kebebasan kamu
untuk memutuskan.”

Ini buat saya breath of fresh air. Saya biasa
dibilang, jangan begini, jangan begitu. Rasanya
selalu ada prasangka yang unspoken, seperti kita
harus selalu diarah-arahkan untuk bisa berbuat
benar. Seperti kita akan mencontek kalo nggak ada
yang melihat. Seperti kita bakal melakukan hal buruk
kalo kita nggak ada yang melarang. Rasanya, kepercayaan
seperti yang diterapkan di sini lebih ampuh. Karena
merasa dipercaya, ada rasa tanggung jawab. Dan nggak
ada bahan untuk ‘diberontakkan’, seperti yang,
rasanya, banyak terjadi pada orang-orang yang
terlalu banyak diatur. Poin saya di sini : expect
yang terbaik dari murid, dan pastikan kalau murid
menyadari itu.

Diversitas dan Individualitas

Pendidikan di US membawa apresiasi akan diversitas ke
level yang lebih jauh, dengan membentuk jurusan-jurusan
baru yang menggabungkan jurusan2 berbeda yang saling
berkaitan (interdisciplinary study). Misalnya,
Symbolic Systems (contoh lulusan : Google’s Marissa
Mayer) yang menggabungkan Computer Science, Philosophy,
Psychology, Linguistics, Communication, dan Education –
memberikan programmer2 spesialisasi dalam mengerti
dan mengkomunikasikan keinginan user. Management
Science & Engineering yang seperti menspesialisasikan
MBA ke bidang-bidang sains dan engineering. Human
Biology, yang menggabungkan biologi, farmasi obat2an,
nutrisi, dan antropologi. Interdisciplinary study
seperti ini membawa pendidikan ke arah yang lebih
spesifik dan terspesialisasi, serta mendayagunakan
orang-orang yang punya beragam interest. Hampir
semua (atau semua?) departemen memungkinkan
mahasiswa untuk mendesign majornya sendiri.

Pendidikan di sini menghargai individualitas – tugas-
tugas di kelas banyak yang sangat open-ended dan
memungkinkan siswa melakukan apa yang jadi passionnya
tanpa banyak pembatasan. Tugas akhir kelas humanities
saya, misalnya, hasilnya bermacam2: film, film bisu,
skit, rap, bahkan dunia virtual hasil permainan The
Sims. Dan para profesor pun bisa menghargai hasil-hasil
yang nggak konvensional. Salah satu hal yang paling
sering ditekankan kepala asrama saya adalah kata-kata :
“Don’t judge.” Jangan mengomentari atau mempertanyakan
preferensi teman kamu dalam aspek apapun. Kalau kamu
ditanya kenapa suka The Beatles, misalnya, jawaban
“Because I do.” adalah jawaban yang valid, dan orang
lain nggak punya hak bertanya lebih jauh.

Dua aspek ini terkadang hilang dari sistem pendidikan
Indonesia. Murid didikte akan kelas-kelas apa yang
harus diambil, dan ada semacam persepsi akan pelajaran
mana yang lebih penting daripada yang lain. Pertanyaan
yang tidak open-minded menjuruskan pikiran murid ke
satu arah tertentu, dan sering kali pelajaran
memojokkan orang dengan cara pandang yang berbeda.

Merefleksikan Pendidikan - by Angelina Veni

Tiga bulan ini sangat berarti buat saya – saya
melihat kultur yang berbeda, mengadaptasi cara pandang yang berbeda,
merasakan gaya pendidikan yang berbeda. Dalam post ini saya ingin
berbagi aspek-aspek pendidikan Stanford yang mengesankan saya,
refleksi saya terhadap pendidikan yang saya dapat di Indonesia
sebelumnya dan apa yang saya harap bisa diterapkan di Indonesia.

Moral, bukan agama

Sebulan sesudah saya mulai bersekolah, saya bertemu His Holiness
the Dalai Lama saat beliau berbicara di Stanford mengenai
compassion. Poin speechnya yang paling berkesan buat saya,
adalah ketika beliau bilang bahwa compassion itu tidak
melihat agama, dan bahwa pendidikan seharusnya tidak
religiocentric atau berpusat pada suatu ideologi agama,
namun pada moral values, compassion, yang universal.
Menarik, mengingat beliau adalah pemimpin agama.

Saya setuju dengan beliau. Rasanya struktur pendidikan
agama di Indonesia tidak sesuai dengan semboyan Bhinneka
Tunggal Ika itu sendiri. Katanya negara kita negara
toleransi dan understanding antar 5 agama, tapi saya
merasa hampir tidak tahu apa2 tentang Buddha, Hindu,
dan Islam dari sekolah, selain nama kitab suci mereka,
nama tempat ibadah, nama hari raya, nama tokoh besar.
Yup, hal-hal penting. Tapi superfisial. Pertama
kalinya saya merasa ‘mengerti’ agama, adalah ketika
saya sekamar dengan teman beragama Islam sewaktu
pelatihan, dan dia mengajarkan saya arti gerakan-
gerakan sholat. Di Stanford, saya belajar meditasi
Buddhisme Zen dan belajar ideologi mereka, dan
ternyata banyak yang bisa saya pelajari dari sana.

Pendidikan agama di Indonesia yang cuma berpusat
pada 1 agama tertentu, membawa notion bahwa agama
lain adalah “bukan agama saya, bukan urusan saya.”
Menurut saya, pendidikan moral seharusnya menarik
ideologi kelima agama dan menelaahnya secara universal,
yang berlaku pada semua orang. Bila ada aspek2
di mana ajaran mereka berlawanan, telaahlah tentang
semuanya. Jangan take side tentang mana yang benar.
Pelajarpun akan tumbuh menjadi orang-orang yang dunianya
tidak berpusat pada kepercayaannya sendiri, tapi peduli
dan punya deeper understanding tentang kepercayaan lain.
Pelajaran bukan mestinya berarah pada membuat murid
beriman, tapi memberikan pengetahuan dan latar
belakang untuk mendorong murid menemukan imannya
sendiri.


CARA MUDAH UNTUK MENGETAHUI KEASLIAN UANG



Cara mudah untuk mengetahui keaslian uang:
  1. uang seribu: lipat menjadi 4 bagian, tekan kuat2 dan buka lipatannya, jika pedang patimura bengkok berarti palsu
  2. uang 5 ribu: ambil sisir lalu gesekkan pada uang, jika jenggot imam bonjol rontok berarti palsu
  3. uang 10 rb, 20 rb, 50 rb dan 100 rb: letakkan di depan rumah, jika hilang berarti asli

Minggu, 26 Desember 2010

lebih dari 1.000 orang meninggal karena kecelakaan



Oleh Soelastri Soekirno
Tahukah Anda, tiap hari di Jakarta dan sekitarnya ada tiga orang meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Artinya dalam setahun, lebih dari 1.000 orang meninggal karena kecelakaan. Sayang, masyarakat dan pemerintah belum melihat hal ini sebagai situasi gawat yang mendesak untuk segera diatasi.

Bagi sebagian orang Indonesia, termasuk Jakarta, meninggal karena kecelakaan lalu lintas sudah dianggap hal biasa. Dianggap takdir yang harus diterima. Bisa jadi karena pola pikir seperti itu, akhirnya membuat banyaknya nyawa melayang sia-sia di jalan bukan menjadi sesuatu yang mengejutkan dan memancing perhatian untuk segera dicari jalan keluar.

Padahal, kepergian anggota keluarga yang menjadi sandaran hidup secara mendadak sudah pasti memunculkan dampak merugikan bagi keluarga yang ditinggalkan. Yang paling nyata, ekonomi keluarga hancur karena sandaran hidup tiba-tiba pergi untuk selamanya atau cacat tetap.

Andi (bukan nama sebenarnya), warga Bekasi, yang ditemui beberapa waktu lalu saat mendapat kaki palsu gratis di Posko Pelayanan Terpadu Penanganan Korban Lalu Lintas Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya di Jakarta Selatan bisa menjadi contoh.

Lelaki 40-an tahun itu merasa beruntung lolos dari maut dalam kecelakaan yang ia alami delapan bulan lalu. Namun, ia harus kehilangan kaki kanannya yang remuk akibat tergencet truk. Sepeda motornya yang setia menemani bekerja sebagai kurir lepas di sebuah kantor juga rusak parah. "Cicilan motor itu belum lunas," tuturnya.

Dampak ekonomi akibat kecelakaan baru terasa saat ia tak bisa berjalan normal seperti sebelumnya. Sehari-hari Andi memakai tongkat kurk dan tentu tak bisa lagi menjadi kurir. Ekonomi rumah tangga pun morat-marit karena ia memiliki istri dan seorang anak balita. Kebetulan istrinya tak bekerja. "Berbulan-bulan saya harus menggantungkan hidup dari belas kasihan mertua. Malu rasanya," lanjutnya lirih.

Ketika mendapat panggilan dari Ditlantas Polda Metro Jaya untuk menerima kaki palsu bantuan Yayasan Kick Andy dan Jasa Raharja, semangat hidupnya bak menyala lagi. Andi yang diantar istrinya tak kuasa menahan tangis saat mencoba kaki palsu selutut yang ia terima. "Dengan adanya kaki ini, saya bisa bekerja lagi," katanya sambil tak henti bersyukur.

Kecelakaan lalu lintas, menurut Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Royke Lumowa, biasanya tidak disebabkan satu faktor, misalnya karena kelalaian manusia. "Pasti karena dua faktor atau lebih. Dari hasil evaluasi, ada empat penyebab kecelakaan, yaitu faktor manusia, kendaraan, jalan atau sarana dan prasarana, serta cuaca atau lingkungan," kata Royke, Rabu (22/12/2010).

Ia menjelaskan, faktor manusia misalnya mengantuk, kebut-kebutan, melawan arus, tak memakai helm. Contoh kondisi kendaraan misalnya rem blong dan ban gundul. Faktor sarana dan prasarana seperti jalan rusak, jalan lurus dan mulus tetapi licin, marka jalan kurang, tak ada lampu penerangan pada malam hari, serta perbedaan antara badan jalan dan bahu yang terlalu mencolok. Sementara faktor cuaca seperti hujan yang berakibat jalan licin.

Mengingat banyak faktor penyebab kecelakaan, wajar bila upaya menurunkan korban meninggal dan angka kecelakaan tak hanya menjadi pekerjaan satu pihak, misalnya masyarakat. "Memang, pemerintah menjadi faktor penting dalam kondisi ini," kata Royke.

Sebagai orang yang bertanggung jawab atas kondisi lalu lintas di jalan, ia berupaya menurunkan jumlah korban meninggal dengan membuat kompetisi antarkepolisian resor. Sasarannya bagaimana bisa menekan angka kecelakaan dan korban meninggal dunia.

Sementara pihak swasta membantu dengan mendidik masyarakat agar berlalu lintas secara baik, benar dan aman. Ini antara lain dilakukan oleh PT Shell Indonesia. General Manager Communication and Extern Affairs PT Shell Indonesia Budiman Moerdijat menyebut upaya itu dilakukan dengan memberi pengetahuan berlalu lintas secara benar di 25 SD di Jakarta lalu mengadakan kompetisi berkendara secara aman.

Namun, pemerintah tetap memegang peran utama sebab membuat sarana dan prasarana layak adalah tugas pemerintah. Saatnya pemerintah berbenah. Kalau tidak, sesuai UU tentang Lalu lintas, korban kecelakaan, karena sarana tak memenuhi syarat, bisa menuntut pejabat pemerintah untuk diadili secara pidana. Nah, lho....

sumber: Kompas Cetak

Memuliakan Kehidupan




Memuliakan Kehidupan
Jumat, 24 Desember 2010 | 02:59 WIB

Komaruddin Hidayat

Banyak tokoh sejarah yang telah memperkaya dan mewariskan peradaban unggul, baik yang dikelompokkan sebagai figur pembawa ajaran agama maupun tokoh ilmuwan dan negarawan. Salah satunya adalah sosok Yesus Kristus.

Sesungguhnya, apa pun kategori seorang tokoh sejarah, pada akhirnya warisannya akan bermuara pada panggung kemanusiaan. Oleh karena itu, untuk menimbang kebesaran dan kontribusi seorang tokoh agama seperti Yesus, akan lebih mudah jika ditempatkan dalam konteks dampak yang ditinggalkan bagi kemanusiaan. Sedangkan aspek teologis dan keyakinan eskatologis biarlah itu menjadi urusan Tuhan.

Begitu banyak keyakinan agama di muka Bumi yang tidak mungkin diseragamkan manusia karena pluralitas agama, bahasa, dan bangsa merupakan bagian dari desain Tuhan agar kehidupan menjadi warna-warni. Tentu saja dalam pluralitas itu selalu ada kandungan wilayah yang abu-abu sehingga menjadi bahan perdebatan.

Saat ini dari jumlah penduduk bumi yang sekitar enam miliar, dua pertiganya mengaku sebagai pengikut Yesus Kristus. Mereka merasa terinspirasi dan memperoleh panutan serta fondasi hidup, terlepas apakah mereka rajin datang ke gereja atau tidak. Agama apa pun yang dipeluk, bagi sebagian orang memang ada yang sekadar menjadi identitas sosial ketimbang sebagai penghayatan dan pengalaman spiritual.

Meski Yesus lahir di wilayah Jerusalem, secara sosial-kultural agama Kristen—juga Yahudi—lebih berkembang dan dipersepsikan sebagai agama Barat, lalu Islam dipersepsikan sebagai agama Arab. Namun, sejak tiga dekade terakhir ini di Barat mulai populer istilah Abrahamic religions yang berusaha mencari titik-titik temu tiga agama di atas yang pembawanya sama- sama keturunan Ibrahim dan pengaruh ajarannya sangat besar ke dalam agama Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Stop kekerasan

Dalam kajian filsafat dan antropologi agama, ajaran Yesus menonjol dengan pesan feminisme Ilahi yang mengutamakan cinta kasih, kelembutan, dan perdamaian. Ini kebalikan dari aspek maskulinisme yang mengetengahkan hukum dan kekuatan seperti ajaran Musa yang membawa misi membebaskan Bani Israel dari penindasan Firaun.

Pesan feminitas Ilahi ini sangat cocok untuk lebih dihayati ketika dunia sudah lelah dengan kekerasan dan peperangan. Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Mengakhiri sebuah peperangan jauh lebih sulit ketimbang memulainya. Anak-cucu dan generasi penerusnya yang merasa orangtua mereka menjadi korban kezaliman pasti menyimpan dendam dan berusaha membalasnya.

Maka, jika pengikut Yesus Kristus ditanya, pesan dan ajaran apa yang paling fundamental, jawabannya adalah kasih sayang dan pesan perdamaian untuk memuliakan kehidupan. Hidup itu anugerah Tuhan yang mesti dijaga kemuliaannya. Namun, tak ada kemuliaan tanpa didasari sikap untuk saling mengasihi dan memuliakan sesama.

Yesus mengajarkan, jika ingin dicintai Tuhan, maka cintailah sesama manusia. Jika ingin dekat dengan Tuhan, maka dekatilah mereka yang tengah menderita. Etos cinta kasih dan pelayanan inilah yang mendorong umat Kristiani menaruh perhatian untuk mendirikan rumah sakit dan sekolah bagi orang-orang miskin, baik di kota maupun di daerah pedalaman.

Masalah penyebaran berita gembira (Injil) yang menawarkan cinta kasih dan keselamatan ini muncul ketika kekuatan politik merangkul dan menjadikannya sebagai kendaraan agenda politik dan ekonomi. Fenomena serupa juga terjadi pada agama-agama lain. Namun, sejarah mengajarkan dan umat beragama sebaiknya juga mulai belajar dari sejarah, bahwa jebakan dan kubangan yang menyeret agama ke ranah pertikaian politik dan ekonomi mesti diakhiri, minimal sekali disadari dan dikurangi.

Lembaran hitam Perang Salib setelah sekian ratus tahun berlalu terlihat lebih gamblang dan mudah diurai anatomi penyebabnya. Sumbernya tak lain adalah konflik dan perebutan politik yang memanipulasi simbol dan emosi agama untuk mengerahkan massa.

Tokoh-tokoh politik di Eropa waktu itu melakukan provokasi dan mobilisasi massa, bahwa melawan umat Islam di Jerusalem adalah pintu terdekat untuk masuk surga, persis provokasi jihad dengan bom bunuh diri yang terjadi akhir-akhir ini. Agama dan kekerasan begitu menyatu, begitu dijanjikan pintu surga telah menunggu di balik kekerasan untuk saling membunuh dengan nama Tuhan.

Menjunjung kehidupan

Semua agama tentu saja memiliki keunikan doktrin dan ritual, tetapi semua agama juga memiliki dimensi kesamaan dalam etika sosial untuk sama-sama menjunjung tinggi kehidupan. Di sinilah sesungguhnya keunikan negara Pancasila yang mewajibkan pemeluknya untuk bertuhan dan saling menghormati agama-agama yang ada.

Keragaman dan kerukunan hidup beragama di Indonesia akhir-akhir ini semakin memperoleh perhatian negara-negara Eropa khususnya karena saat ini mereka mesti menerima komunitas agama yang berbeda, terutama para imigran Muslim, yang sering memicu gesekan sosial.

Meski demikian, mereka yang secara teologis-kultural dianggap kelompok minoritas kondisinya sangat berbeda antara Indonesia dan Eropa. Umat Islam di Eropa umumnya adalah para imigran yang tidak mudah melebur dalam pergaulan sosial sehari-hari dengan warga setempat. Bahkan loyalitas pada negara tempat tinggal barunya juga diragukan. Mereka mengalami split integrity and identity, satu kaki berada di negara asalnya yang satu lagi berada di Eropa. Sedangkan di Indonesia, baik yang dianggap mayoritas maupun minoritas adalah sama-sama warga setempat sehingga dalam pergaulan sehari-hari di dalam masyarakat, kita semua sudah melebur tidak bisa lagi dibedakan.

Di beberapa daerah ketika datang pesta Natal bagi umat Kristiani dan Lebaran bagi umat Islam semua saling berkunjung ikut memeriahkan. Begitu pun masyarakat Islam di sekitar Candi Borobudur turut memeriahkan upacara Waisak. Dengan demikian, pesan dan keteladan Yesus yang sangat mencintai dan menghargai sesamanya sangat relevan untuk dihayati dan diterapkan mengingat setiap agama sesungguhnya juga memiliki pesan dan ajaran yang sama.

Maka, dari begitu banyak tokoh sejarah yang menjadi sumber inspirasi dan penerang zaman, salah satunya adalah Yesus yang dikagumi, dicintai, dan dibela oleh miliaran hati penduduk Bumi meski tidak hidup sezaman.

Pemerintah dan masyarakat Indonesia saat ini sangat membutuhkan pemimpin yang jadi penerang dan penggerak zaman untuk keluar dari suasana keluh-kesah dan jenuh dengan bombardir berita korupsi yang tak kunjung menyusut, yang telah membuat rapuh pilar-pilar bernegara dan berbangsa.

Komaruddin Hidayat Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta

Kamis, 23 Desember 2010

Litografi pantai utara Jawa dekat Semarang (Franz Wilhelm Junghuhn, 1853)

PETRUK




Petruk adalah tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa, di pihak keturunan/trah Witaradya. Petruk tidak disebutkan dalam kitab Mahabarata. Jadi jelas bahwa kehadirannya dalam dunia pewayangan merupakan gubahan asli Jawa. Di ranah Pasundan, Petruk lebih dikenal dengan nama Dawala atau Udel

Menurut pedalangan, ia adalah anak pendeta raksasa di pertapaan dan bertempat di dalam laut bernama Begawan Salantara. Sebelumnya ia bernama Bambang Pecruk Panyukilan. Ia gemar bersenda gurau, baik dengan ucapan maupun tingkah laku dan senang berkelahi. Ia seorang yang pilih tanding/sakti di tempat kediamannya dan daerah sekitarnya. Oleh karena itu ia ingin berkelana guna menguji kekuatan dan kesaktiannya.

Di tengah jalan ia bertemu dengan Bambang Sukodadi dari pertapaan Bluluktiba yang pergi dari padepokannya di atas bukit, untuk mencoba kekebalannya. Karena mempunyai maksud yang sama, maka terjadilah perang tanding. Mereka berkelahi sangat lama, saling menghantam, bergumul, tarik-menarik, tendang-menendang, injak-menginjak, hingga tubuhnya menjadi cacat dan berubah sama sekali dari wujud aslinya yang tampan. Perkelahian ini kemudian dipisahkan oleh Smarasanta (Semar) dan Bagong yang mengiringi Batara Ismaya. Mereka diberi petuah dan nasihat sehingga akhirnya keduanya menyerahkan diri dan berguru kepada Smara/Semar dan mengabdi kepada Sanghyang Ismaya. Demikianlah peristiwa tersebut diceritakan dalam lakon Batara Ismaya Krama.

Karena perubahan wujud tersebut masing-masing kemudian berganti nama. Bambang Pecruk Panyukilan menjadi Petruk, sedangkan Bambang Sukodadi menjadi Gareng.

Petruk mempuyai istri bernama Dewi Ambarwati, putri Prabu Ambarsraya, raja Negara Pandansurat yang didapatnya melalui perang tanding. Para pelamarnya antara lain: Kalagumarang dan Prabu Kalawahana raja raksasa di Guwaseluman. Petruk harus menghadapi mereka dengan perang tanding dan akhirnya ia dapat mengalahkan mereka dan keluar sebagai pemenang. Dewi Ambarwati kemudian diboyong ke Girisarangan dan Resi Pariknan yang memangku perkawinannya. Dalam perkawinan ini mereka mempunyai anak lelaki dan diberi nama Lengkungkusuma.

Oleh karena Petruk merupakan tokoh pelawak/dagelan (Jawa), kemudian oleh seorang dalang digubah suatu lakon khusus yang penuh dengan lelucon-lelucon dan kemudian diikuti dalang-dalang lainnya, sehingga terdapat banyak sekali lakon-lakon yang menceritakan kisah-kisah Petruk yang menggelikan, contohnya lakon Petruk Ilang Pethele menceritakan pada waktu Petruk kehilangan kapak/pethel-nya.

Dalam kisah Ambangan Candi Spataharga/Saptaraga, Dewi Mustakaweni, putri dari negara Imantaka, berhasil mencuri pusaka Jamus Kalimasada dengan jalan menyamar sebagai kerabat Pandawa (Gatutkaca), sehingga dengan mudah ia dapat membawa lari pusaka tersebut. Kalimasada kemudian menjadi rebutan antara kedua negara itu. Di dalam kekeruhan dan kekacauan yang timbul tersebut, Petruk mengambil kesempatan menyembunyikan Kalimasada, sehingga karena kekuatan dan pengaruhnya yang ampuh, Petruk dapat menjadi raja menduduki singgasana kerajaan Lojitengara dan bergelar Prabu Welgeduwelbeh (Wel Edel Bey). Lakon ini terkenal dengan judul Petruk Dadi Ratu. Prabu Welgeduwelbeh/Petruk dengan kesaktiannya dapat membuka rahasia Prabu Pandupragola, raja negara Tracanggribig, yang tidak lain adalah kakaknya sendiri, yaitu Nala Gareng. Dan sebaliknya Bagong-lah yang menurunkan Prabu Welgeduwelbeh dari tahta kerajaan Lojitengara dan badar/terbongkar rahasianya menjadi Petruk kembali. Kalimasada kemudian dikembalikan kepada pemilik aslinya, Prabu Puntadewa.

Petruk dan panakawan yang lain (Semar, Gareng dan Bagong) selalu hidup di dalam suasana kerukunan sebagai satu keluarga. Bila tidak ada kepentingan yang istimewa, mereka tidak pernah berpisah satu sama lain. Mengenai Punakawan, punakawan berarti ”kawan yang menyaksikan” atau pengiring. Saksi dianggap sah, apabila terdiri dari dua orang, yang terbaik apabila saksi tersebut terdiri dari orang-orang yang bukan sekeluarga. Sebagai saksi seseorang harus dekat dan mengetahui sesuatu yang harus disaksikannya. Di dalam pedalangan, saksi atau punakawan itu memang hanya terdiri dari dua orang, yaitu Semar dan Bagong bagi trah Witaradya.

Sebelum Sanghyang Ismaya menjelma dalam diri cucunya yang bernama Smarasanta (Semar), kecuali Semar dengan Bagong yang tercipta dari bayangannya, mereka kemudian mendapatkan Gareng/Bambang Sukodadi dan Petruk/Bambang Panyukilan. Setelah Batara Ismaya menjelma kepada Janggan Smarasanta (menjadi Semar), maka Gareng dan Petruk tetap menggabungkan diri kepada Semar dan Bagong. Disinilah saat mulai adanya punakawan yang terdiri dari empat orang dan kemudian mendapat sebutan dengan nama ”parepat/prapat”.
(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Selasa, 21 Desember 2010

BERDO'A dan BERMUSYAWARAH




Pendidikan anak yang sukses bukan dimulai setelah anak itu lahir. Apalagi menunggunya sampai usia masuk sekolah. Dalam Islam, pendidikan anak bahkan dimulai sebelum anak itu berada di dalam rahim sang ibu. Karenanya, Rasulullah memerintahkan memilih pasangan hidup karena pertimbangan agama.

"Dengan demikian," kata Abdullah Nasih Ulwan dalam Tarbiyatul Aulad, "pendidikan anak dalam Islam harus dimulai sejak dini. Yakni dengan pernikahan ideal yang berlandaskan prinsip-prinsip yang secara tetap mempunyai pengaruh terhadap pendidikan dan pembinaan generasi."

Lalu bagaimana jika keluarga itu telah terbentuk dengan permulaan yang tidak ideal? Alih-alih membubarkannya, kita hanya perlu memperbaikinya. Masih ada waktu. Jika kita menginginkan anak-anak yang baik, jadikanlah diri kita terlebih dahulu sebagai (calon) orang tua yang baik. Jika kita merindukan anak-anak yang berbakti, jadikanlah diri kita menjadi orang tua yang pantas dihormati dan mendapatkan bakti.

Jauh sebelum Ismail lahir, Ibrahim selalu berdoa kepada Allah; bukan hanya bermunajat agar dikaruniai anak karena kini ia telah berusia tua, tetapi bermunajat agar dikarunia anak yang shalih. "Ya Rabbi...," demikian doa Ibrahim sebagaimana dicantumkan dalam QS. Ash-Shaaffaat ayat 100, "anugerahkanlah kepadaku (anak) yang termasuk orang-orang yang shalih."

"Doa adalah senjata mukmin," sabda Rasulullah SAW ribuan tahun kemudian. Maka untuk mendapatkan anak yang shalih, senjata itu harus dipakai setiap orang tua muslim. Menjadikan anak menjadi shalih berarti mengubah hati. Sedangkan penguasa hati adalah Allah. Kalau bukan Allah yang mengubahnya, kepada siapa lagi kita menyerahkan urusan yang luar biasa besar ini?

"Banyak orang tua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena kepandaiannya mendidik anak," tutur M. Fauzil Adhim dalam Saat Berharga untuk Anak Kita, "tetapi karena doa-doa mereka yang tulus. Banyak orang tua yang caranya mendidik salah jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk mata yang membawa kebaikan dikarenakan amat besarnya pengharapan orang tua."

Inilah tradisi parenting Nabi Ibrahim. Ia mengajak anaknya bermusyawarah, meskipun dalam persoalan kewajiban yang diketahuinya perintah Tuhan. Kita pun kemudian terkenang dengan kalimat Ibrahim yang dikabarkan Al-Qur'an dalam bahasa yang menyentuh: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" (QS. Ash-Shaaffaat : 102).

"Ibrahim tidak mengambil anaknya dengan paksa untuk menjadikan isyarat Rabbnya itu hingga cepat selesai," tulis Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur'an ketika menafsirkan ayat ini, "Tapi... menyampaikan hal itu kepada anaknya seperti menyampaikan sesuatu hal yang biasa."

Anak yang biasa dimintai pendapatnya, ia akan merasa dirinya penting dan berharga. Sebuah emosi positif yang sangat mendukung perkembangan kecerdasannya. Anak yang diajak bermusyawarah dan didengarkan apa keinginannya, -kalaupun kurang tepat kemudian diarahkan- akan tumbuh kepercayaan dirinya. Ia menjadi subyek, bukan obyek. Dan itulah yang dilakukan Ibrahim pada Ismail.

tulisan utama oleh Muchlisin, dikutip pada bagian2 yang dibutuhkan saja.

Senin, 20 Desember 2010

KAYA HATI, KAYA MATERI

Kaya hati, kaya materi

Hari itu Abu Bakar kembali mencatat prestasi yang tidak bisa dilampaui Umar, apalagi orang lain. Sahabat Nabi bergelar Ash-Shidiq ini menginfakkan seluruh hartanya untuk jihad kali ini; perang Tabuk.

Meski demikian, sejarah tidak pernah mencatat Abu Bakar jatuh miskin, pailit, apalagi dikejar-kejar utang. Abu Bakar tetap diabadikan sejarah sebagai orang kaya. Saudagar besar yang dermawan. Yang kekayaannya selalu membawa kemanfaatan bagi umat. Hartanya yang banyak menopang jihad, menguatkan perjuangan. Ia tidak bermewah-mewahan dengan hartanya. Ia tetap sederhana dalam kekayaannya.

"Dua perangkap terbesar dalam hidup itu adalah", kata ayah yang kaya saat mengajari Robert T. Kiyosaki dan Michael, " ketakutan dan ketamakan."

"Takut hidup tanpa uang memotivasi kita untuk bekerja keras dan kemudian setelah menerima slip gaji, ketamakan mengajak kita untuk mulai berpikir tentang semua hal indah yang bisa dibeli dengan uang."

Orang-orang seperti itu hidup dengan membentuk pola: bangun, bekerja, membayar tagihan. Bangun, bekerja, membayar tagihan. Ketika mendapatkan uang lebih banyak, mereka meneruskan siklus itu dengan meningkatkan pengeluaran. Dan mereka –selamanya - terjebak dalam lingkaran menyesakkan: takut tidak punya uang, sekaligus tamak untuk menggunakan ketika memilikinya. Hutang kemudian menghantui kehidupan mereka. Kalaupun dengan bekerja keras kemudian menjadi kaya, ia tetap dihantui rasa takut. Ketenangan jiwa terenggut. "Inilah yang saya sebut perlombaan tikus", kata ayah yang kaya, yang menjadi inspirator Robert T. Kiyosaki menjadi investor kaya dan pakar marketing dunia.

Apa yang dicontohkan Abu Bakar lebih dari 1000 tahun yang lalu bukan saja jauh mendahului teori Rich Dad, Poor Dad. Namun itu juga teladan dan amal generasi Islam terbaik. Kecerdasan finansial yang sempurna telah dipraktikkan Abu Bakar. Mudah memperoleh kekayaan, dan mudah pula menginfakkannya. Tidak ada ketakutan tidak punya uang. Tidak ada ketakutan jatuh dalam kemiskinan. Juga tidak ada kata tamak dalam kamus Abu Bakar. Harta dalam genggaman tangan, bukan menghuni hati.

Kemampuan mendapatkan kekayaan dengan mudah dan kerelaan menginfakkannya adalah dua keterampilan utama dalam kecerdasan finansial. Keduanya sekaligus menjadikan seseorang kaya hati kaya materi.

Masalahnya adalah, keduanya sangat sulit dimiliki oleh sebagian muslim hari ini. Termasuk saya, dan mungkin Anda juga. Entahlah, mengapa dulu para ulama tidak membukukan teori mendapatkan kekayaan dengan mudah ala Abu Bakar, atau Umar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf. Lalu kita tidak gagap dengan serbuan teori Barat yang disodorkan Napoleon Hill, Robert T. Kiyosaki, dan sebagainya. Namun menyalahkan generasi terdahulu karena keterputusan ilmu adalah masalah di atas masalah. Karena sesungguhnya, masalahnya ada pada diri kita, bukan pada orang lain. Dengan demikian, tidak ada kata terlambat untuk belajar mendapatkan kekayaan dengan mudah. Ikhtiar mendapatkan sebanyak-banyaknya harta yang halalan thayyibah bukan sesuatu yang dilarang.

Jika keterampilan pertama tidak kita miliki, tidak berarti itu jaminan keterampilan kedua ada pada kita. Ia sama sulitnya. Bahkan lebih sulit. Mungkin kita beralasan, andaikan kita kaya, kita infaq sebanyak-banyaknya. Andaikan kita investor atau pengusaha kaya raya, kita shadaqah dengan nilai yang luar biasa. Kita tidak sadar, bahwa kata "andaikan" telah menjadi senjata syeitan dalam mengalahkan kita. Menggelincirkan kita dalam angan-angan, menjauhkan kita dari amal.

Sahabat yang lain memberi kita teladan pada keterampilan kedua ini. Ia sehari-hari bekerja membuat keranjang. Dari modal 1 dirham, ia jual keranjangnya 3 dirham. 1 dirham untuk nafkah keluarga. 1 dirham menjadi modal untuk esok hari. Dan 1 dirham lagi ia infaqkan; hari ini juga. Nama sahabat itu Salman Al-Farisi.

Mungkin kita memandang kecil infaq Salman Al-Farisi yang hanya hitungan dirham. Tetapi jika diakumulasikan setahun, bahkan sepanjang usianya, betapa luar biasa infaq Salman Al-Farisi ini. Infaqnya setara dengan kebutuhannya. Kita jadi merenung, kalau satu bulan kita menghabiskan 1 juta untuk kebutuhan kita, apakah bisa kita infaq 1 juta pula setiap bulannya? Subhaanallah. Belum lagi, saat itu ia menjabat Gubernur dan tidak mau mengambil gajinya. Semuanya ia infakkan.

Jika Abu Bakar mengeluarkan infaq besar yang luar biasa dan Salman Al-Farisi mengeluarkan infaq rutin yang istiqamah setiap harinya, keduanya mengajarkan hal yang sama: kesuksesan finansial. Potret ideal umat ini. Bebas ketakutan. Bebas ketamakan. Kaya hati kaya materi. Lalu, maukah kita berupaya ke sana? Ya Allah, mudahkanlah... [Muchlisin]

Jumat, 17 Desember 2010

Salam dari Jayapura (kiriman teman MIIAS)




Salam dari Jayapura!

Kami bertiga baru saja keluar dari pedalaman Tolikara menyaksikan Olimpiade Astronomi se Asia-Pacific.
Hasilnya?
Pelajar2 Indonesia menduduki urutan ke-2 dari 9 negara, dengan perolehan 1 medali emas, 2 perak dan 4 perunggu. Korea Selatan di urutan pertama dengan 2 emas. Indonesia berada diatas China, Rusia, Kazakshtan, Kyrgistan, Nepal, Cambodia, dan Bangladesh. Lebih mengejutkan lagi, 3 medali perunggu Indonesia di raih oleh pelajar asal Tolikara, kabupaten terpencil di Tolikara, yang selama ini mengalami keterbelakangan pendidikan dan SDM. Dari
Tolikara, Indonesia belajar!
Kisahnya dimulai dengan seorang "gila" bernama Yohanes Surya, pendiri Surya Institute dan salah satu aktivis olimpiade science dunia, yang telah
sukses mempromosikan banyak anak Indonesia ke ajang olimpiade science dunia, memprakarsai dilaksanakannya Olimpiade Astronomi Asia Pacific (APAO) di Indonesia. Program ini ditawarkan ke berbagai pemda di Indonesia, namun tidak ada yang tertarik. Hingga suatu hari ...
Yohanes Surya ketemu dengan seorang "gila" lainnya bernama John Tabo, orang Papua, Bupati Tolikara, pegunungan tengah Papua, kabupaten baru yang terisolir dan hanya bisa dicapai dengan naik pesawat kecil dari Jayapura ke Wamena disambung berkendaraan off-road selama 4 jam, daerah dimana laki-laki tanpa celana dan perempuan tanpa penutup dada, ditemukan dimana-mana. John Tabo, tanpa diduga, bersedia menjadi sponsor pelaksanaan APAO di Indonesia, selain menjadi tuan rumah, dia juga mendanai seluruh biaya persiapan tim olimpiade Indonesia yang datang dari berbagai daerah di Indonesia termasuk dari Papua, selama 1 tahun.
John Tabo membangun tempat khusus (hotel) untuk menjadi venue
olimpiade ini. Orang yang berfikir normal pasti bilang, untuk apa John gila ini urusin Olimpiade astronomi seperti ini? bukankah masih banyak persoalan internal kabupaten yang harus dia selesaikan? mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi dan berbagai infrastruktur dasar? Cari kerjaan dan masalah saja!
John Tabo melakukan terobosan "gila".
Dana diambil dari APBD, mau dari mana lagi? Dia tidak takut BPK atau BPKP yang akan menilainya salah prosedur. Untuk John Tabo, membangun adalah untuk rakyat, jangan dibatasi oleh hal-hal administratif. Yang penting misi dia untuk membangun SDM Tolikara yang mendunia dapat tercapai, dan itu "breakthrough" untuk mengatasi kemiskinan Tolikara, tidak perlu menunggu sampai infrastruktur jalan akses terbuka.
Dikumpulkanlah 15 anak Indonesia sejak februari 2010 di Karawaci untuk, kesemuanya "gila". 8 dari 15 anak tersebut direkrut dari SMP/SMU Tolikara, yang semuanya memiliki kemampuan matematika yang rendah,
menyelesaikan soal matematika tingkat kelas 4 SD saja tidak mampu.
Bahkan ada yang namanya Eko, ketika ditanya 1/5 + 1/2, langsung dijawab 1/7!
Seorang anak dari Kalimantan Tengah, malah tidak diijinkan kepala sekolah dan gurunya untuk mengikuti persiapan olimpiade ini. Guru-gurunya mengatakan bahwa apa yang akan dia ikuti itu sia-sia saja. Dia melawan ini dan lari dari sekolah!
Ke-15 anak ini dilatih oleh pelatih2 "gila", yang tidak bosan dan kesal melatih anak-anak ini. Dalam 10 bulan ke-8 anak Tolikara ini mampu mengerjakan problem matematika paling sulit yang diajarkan pada tingkat terakhir SMA atau tingkat awal universitas.
Pendekatan mengajarnya juga "gila". Astronomi adalah kumpulan dari berbagai ilmu science: matematika, fisika, kimia dan biologi menjadi satu mempelajari fenomena jagad raya.
Ini juga ilmu gila. Bayangkan seorang anak seperti Eko dari pedalaman Tolikara dapat menjadi salah seorang anak terpandai
dibidang astronomi didunia hanya dalam waktu 10 bulan??!!
Urusan ijin ternyata juga "gila-gilaan" .
Ternyata even APAO ini tidak diakui oleh Kemdiknas. Akibatnya, untuk mendatangkan peserta luar negeri, tidaklah mungkin mendapatkan fasilitas visa dari negara. Pake prosedur normal ijin dari Pemerintah cq Mendiknas tidak keluar.
Entah gimana ceritanya ...
Surya Institute akhirnya bertemu dengan seorang "gila" dari UKP4. Orang inilah yang mengetok Menteri Diknas, sehingga kemdiknas mau mengeluarkan ijin. Lalu orang ini memfasilitasi ijin visa disaat-saat terakhir, ketika semua sudah pasrah, bahkan orang ini mempertemukan anak-anak Indonesia dengan wakil presiden RI. Orang normal mungkin akan berfikir, apa urusannya astronomi dengan wapres??!!
Lalu siorang gila dari UKP4 ini menugaskan 3 orang anggotanya yang kebetulan juga "agak gila" untuk datang menghadiri kegiatan olimpiade di Tolikara. jadilah 3 orang itu sebagai satu2nya unsur
pemerintah pusat dalam even Olimpiade di Tolikara. Lalu 3 orang ini membawa-bawa nama Wakil Presiden RI dan Kepala UKP4 untuk memotivasi anak2.
Dalam percakapan hati ke hati dengan 15 orang anak, semalam sebelum pengumuman, tidak kurang 7 orang anak terharu menangis, melihat begitu besarnya perhatian pemerintah RI kepada mereka, sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan dari pemerintah di Jakarta selama 10 bulan mereka di godok di Karawaci. Datang dan duduk bersama dengan mereka, ternyata lebih dari segalanya bagi anak-anak ini.
Anak-anak Tolikara begitu terharu, menangis terisak, melihat ada orang Jakarta mau datang melihat mereka di Tolikara.
Apa hasil dari semua kegilaan ini? Selain perolehan medali-medali diatas:
1. Indonesia dikenal lewat Tolikara! Tolikara, meskipun tidak dikenal Indonesia, namun telah membuktikan kepada dunia bahwa dari tempat yang sedikit sekali dijamah pembangunan, bisa lahir juara-juara olimpiade science, yang akan
mengharumkan nama Indonesia ditingkat dunia,
2. Tolikara mulai membenahi sumber daya manusianya menuju SDM berkualitas dunia. Hasil olimpiade ini telah memotivasi semua anak Tolikara bahwa keterbatasan fisik dan fasilitas bukanlah halangan bagi anak Tolikara untuk menjadi SDM terbaik dunia. 8 anak Tolikara yang bersaing ditingkat dunia menjadi saksi hidup bahwa SDM Tolikara dapat bersaing ditingkat dunia.
3. Tolikara membuktikan bahwa mereka dapat membangun "lebih cepat" jika cara berfikir "gila" ini diterapkan. Hanya dengan cara gila seperti ini pembangunan Papua dapat dipercepat.
4. Kita perlu "A Tolikara Approach" untuk sebuah percepatan pembangunan Papua!
Pesan moral dari kisah ini:
jadilah orang gila untuk membangun Indonesia lebih baik!
Never underestimate things!
Kesempatan ke Tolikara telah memberikan pelajaran berharga bagi saya. Belajar tidak harus selalu dari tokoh dunia. Dari seorang anak SMP yang tidak pernah
diperhitungkan dipelosok Tolikara, kita dapat belajar untuk berbuat yang terbaik bagi Indonesia dan dunia.

Partogi Samosir
Counsellor
Embassy of the Republic of Indonesia
Washington, D.C

Professor Johannes Surya (kiriman teman MIIAS)

sy terharu dengan usaha Professor Johannes Surya. Beliau
adalah doktor yang cum-laude dari College of William and Mary, Virginia USA.
Berasal dari keluarga yang prihatin dari sejak kecil dan krn ini mungkin
beliau lebih peka dengan lingkungan sekitar.

Menurut beliau (yg pernah sy tonton di Kick Andy), bahwa tidak ada
siswa/mahasiswa yang bodoh. Yang terjadi adalah siswa itu belum
mendapatkan guru/dosen yang dapat menjelaskan dengan pemahaman
yang "make sense".

jadi pengajar yang baik adalah salahsatunya memiliki kemampuan mengadaptasi
kompleksitas dari defenisi2, hukum2 alam menjadi simplisitas yang
bisa masuk dalam alur logika yang sedang diajar. Sesederhana apapun alur
logika si pembelajar, si pengajar harus bisa masuk ke alur itu.

Professor Surya sudah bisa membuktikan ini. Masuk ke alur berfikir anak2
SD di Tolikara, (lebih terpencil di Papua, pulau paling terbelakang di Indonesia).
Sesungguhnya, upaya Professor Surya sebunyi dengan filosofi Einstein dengan
mottonya "make it simple but not simplifying"..Fenonema fisika dan mathematika
ternyata bisa dimasukkan dalam alur logika anak2 di Tolikara. Ide beliau adalah
PEMBELAJARAN GASING (Gampang, Asyik dan Menyenangkan).

Kira2 bagaimana dengan upaya kita sebagai dosen di kampus2?
Mungkin sudah dianggap "lebay" jika masih dosen killer minded, senang dan bangga
jika mahasiswanya dapat nilai rata kanan  hehehehe (D dan E). Tantangan
kita semua bisa memulai pembelajaran GASING.

Jika Anis Baswedan sudah memulai gerakan "Indonesia Mengajar" (agak tersedot ke
politisasi), maka Professor Surya sudah berkarya dan jauh dari Du-gem (dunia gemerlap)
politik tanah air.

Salut utk professor Surya......

Senin, 13 Desember 2010

Migrasi dan Brain Drain



Ardy Arsyad wrote:
Berbicara tentang Tahun Baru Islam, baru saja khatib jumat kemarin yangustad dari Malaysia itu menuturkan bahwa, Rasulullah SAW memulai hijrah denganmeninggalkan Makkah bukan pada bulan Muharram, namun pada akhir bulan Safar.Beliau keluar dari gua Tsur pada bulan Rabiul Awal. Dan tiba di Madinah, padaakhir Rabiul Awwal tahun 22 (tahun gajah).

Namun mengapa Umar bin Khattab RA memilih Muharram sebagai permulaan penanggalan Hijriah, karena perencanaan hijrah ke Madinah di-rapatkan Rasulullah SAWdengan sahabat pada bulan Muharram ketika selesai perjalanan haji. Pada saattersebut, konsensus juga dengan sahabat di Madinah (kaum Ansar) tentang akan dimulainyamigrasi besar-besaran kaum muslim di Makkah ke Madinah.

Ada yang menarik untuk dikaji dalam konteks ini. Pertama, kalender Islam tentunya berbeda dengan penanggalan lain seperti kalender Masehi yang sebenarnya dimulai dari kelahiranYesus atau Isa tanggal 25 December. Atau 1 January yang menurut kepercayaan yahudi adalah hari ketika Nabi Isa AS di-sirkumsisi (atau disunat). Kalender Islam juga berbeda dengan kalenderHindu yang dimulai ketika musim semi datang.

Yang kedua, penentuan Muharram sendiri oleh Khalifah Umar bin Khattab yang sepertinyamemberikan keistimewaan pada tahapan niat atau perencanaan serta adanya kesepakatan bersama, jauh lebih menentukan dari proses itu sendiri.

Kita tentunya bisa bertanya pula, mengapa tarikh Islam tidak dimulai saja hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Namun ternyata hijrah itu sendiri diperingati sebagai awal tahun.Mungkin Umar bin Khattab RA menyadari bahwa awal kebangunan Islam atauturning point sebagai ummat yang diperhitungkan dalam sejarah peradaban dunia adalahketika mereka mengadakan migrasi, perpindahan tempat.

Bukankah peradaban besar dunia juga berawal dari migrasi sekte2 agama. Sejarah mencatat bagaimana Amerika Serikat dibangun dari mereka yang merasa kurang bebas mempraktekkanagamanya di Eropa terutama di Inggris dan Jerman. Lalu dengan kapal yang pertamakali Mayflower I pada 1620 meninggalkan Plymouth England  menuju benua baru Amerika.Uniknya, tempat yang mereka tuju akhirnya mereka namakan mirip dengan tempatasal mereka, yaitu Plymouth Massachusetts.

Peradaban besar Islam di Andalusia juga memulai kejayaannya ketika seorang pangerandari Dinasti Umayyah harus diusir keluar dari Baghdad dan harus bermigrasi ke Semenanjung Iberia.Golden age dari kekhalifan Andalusia ketika cucunya, Abdurrahman III memerintah.Peradaban besar yang kemudian mentransmisikan renaissance di Eropa 500 tahun kemudian.

Dinasty Ming juga diawali oleh Zhu Yuanzhang yang berasal darikeluarga miskin kemudian meninggalkan kampungnya di Zhongli dan menjadi pendeta budha.Hingga berusia 24 tahun, bergabung menjadi pemberontak kepada Dinasti Yuan yang dikuasaiorang Mongol. Menaklukkan Nanjing dan juga kemudian menjadi kaisar Hongwu memulai era Dinasti Ming, salah satu dinasti era keemasan Cina. Pada era kaisar Hongwu, hubungan Cina dan Islam jugasangat erat. Masjid dibangun di kota Nanjing, Guandong, Fujian, Yunandan sepuluh jenderal kaisar dari kaum muslimin Cina.

Migrasi juga lah yang banyak membesarkan kerajaan besar di nusantara. Bahkan agama Islam inidisebarkan oleh migrasinya pendakwah yang hidup dari berdagang, hingga berasimiliasikawin mawin dengan penduduk setempat.

Memaknai kembali hijrah bisa diartikan dari meninggalkan tempat yang buruk ke tempat yang lebih baik.Perpindahan ini bisa dimaknai dalam arti fisik dan juga non fisik.

Mario Teguh saja percaya bahwa "apabila sebuah tempat tidak bisa membesarkan potensimu,maka carilah tempat yang potensimu dihargai dan kamu bisa besar dengan itu". Maka nampaknya,gejala brain drain ketika kaum teknokrat Indonesia lebih memilih hijrah dan menetap di luar negeri, adalahsebuah mekanisme pilihan ketika tempat yang seharusnya kita kembali sepertinya kurangmemberi ruang untuk menghargai potensi yang ada. Hasilnya adalah keluar dan memilihtempat yang lebih baik, walaupun ribuan mil jauhnya dari bumi pertiwi.

Brain drain akan sulit dibendung selama atmosfir di tanah air lebih menghargai pilihan2 politik ketimbang pertimbangan teknis sains dan akademis. Apapun yang disarankan olehteknokrat akan menjadi berkas usang ketika kaum politisi lebih cenderung berkolaborasiuntuk mengamankan kekuasaaan mereka. Brain drain akan terus terjadi,selama kaum akademik hanya menjadi alat stempel akademisasi dari kebijakan pemerintah. Apalagi ketika menjadi dipaksakan melacurkan karya intelektual mereka demimelegalkan intrik-intrik politik dan kekuasaaan semata. Atau ketika harus menjadikonsultan pengemis pada proyek-proyek.

Brain drain bukanlah persoalan tentang hujan emas di negeri orang, dan hujan batu di negeri sendiri.Namun pada seberapa besar response masyarakat dan pemerintah akan perbaikannegeri ini dengan perlakuan yang berdasarkan apa yang sebaiknya dengan kajian yangyang jelas. Bukan pada memuaskan pesanan rezim kekuasaan.

Sebenarnya brain drain tidaklah perlu ditakutkan sebagai kehilangan negara atas potensi-potensi intelektual dan teknorat. Bukankah justru negara bisa berbangga karena turutmenyumbangkan manusia dari bumi pertiwi atas khasanah pergaulan dunia. Migrasinya mereka sebaiknya dapat mengikuti pola diaspora Yahudi dan migrasi orang Cina.Berpindah mencari tempat yang lebih baik, namun tidak melupakan asal muasal serta membangun jaringan yang membesarkan golongan mereka. Dua jaringan yang sangat kuat saat ini adalah Lobby Yahudi dan jaringan Cina perantauan.

Kembali ke makna hijriah Rasulullah, proses hijrah bukanlah upaya mencari penghidupanatas kesadaran material. Namun lebih kepada proses mencari ruang untuk bisamenjadi awal perbaikan, bukan saja kaum Muhajirin, namun juga kaum Ansar.Proses ini kemudian mencapai kulminasinya ketika fathul Makkah. Artinya Rasulullahtidaklah lari dari persoalan dasar, yakni memperbaiki keadaaan. Kembali ke negeriasal, kembali ke Makkah dan berupaya memperbaiki. Bahkan Rasulullah SAWtidaklah berfikir lokalisasi, namun menjadi titik tolak regionalisasi, dan internasionalisasiIslam. Islam menjadi rahmatan lil alamin.

Jadi brain drain bisa pula dimaknai sebagai proses yang pada tujuan akhirnya untukkemudian kembali menjadi bagian perbaikan kondisi bangsa. Sejauh apa pun migrasi kita, niatnya adalah untuk kemudian hari kembali memperbaikikondisi bangsa di tanah air, dan juga tentunya umat manusia secara keseluruhan.
beberapa contoh latihan menggambar design bangunan pada ruas jalan tertentu untuk mahasiswa D3 - PWK FT UNDIP

Tauhid,...Keutamaan dan Pembatalnya

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw.

Akhi Fillah! Kepadamu aku persembahkan kalimat-kalimat singkat ini yang membahas masalah keutamaan Tauhid dan peringatan dari hal-hal yang membatalkannya, seperti berbagai macam perbuatan syirik dan bid'ah, baik yang besar maupun yang kecil.

Sesungguhnya Tauhid itu adalah kewajiban pertama yang diserukan oleh para rasul, yang merupakan pondasi da'wah mereka, Allah swt berfirman: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah taghut (An-Nahl:36)

Dan tauhid itu adalah merupakan hak Allah yang paling besar atas hamba-Nya, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Mu'adz ra berkata: Rasulullah saw bersabda:'Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan yang lain'

Maka barangsiapa yang mengamalkan tauhid akan masuk surga, dan barangsiapa yang mengamalkan dan menyakini hal-hal yang bertentangan dengannya, maka ia termasuk penghuni neraka. Dan karena tauhid itu pulalah para rasul diperintahkan untuk memerangi kaumnya hingga mereka meyakininya, sebagaimana sabda Rasulullah saw: Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah.[H.R. Bukhari-Muslim]

Merealisasikan (mewujudkan) tauhid adalah jalan menuju kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, sedang melakukan hal-hal yang bertentangan dengannya adalah jalan menuju kepada kesengsaraan. Mengamalkan tauhid adalah jalan untuk menyatukan barisan dan kalimat umat, sedang kesalahan dalam tauhid adalah penyebab perpecahan dan terceraiberainya umat ini.

Ketahuilah wahai akhi fillah- semoga Allah merahmati kita semua- bahwa sesungguhnya tidak semua orang yang mengucapkan laa ilaha illallah termasuk ahli tauhid hingga terpenuhinya syarat-syarat tauhid yang tujuh itu, seperti yang disebutkan oleh ulama, yaitu:
1. Mengetahui makna dan maksudnya, dengan kedua dimensinya, baik dari segi peniadaan (laa ilaha) tiada tuhan maupun dari segi penetapan (illallah) kecuali Allah, jadi tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah swt.
2. Meyakini kandungannya dengan keyakinan yang kuat
3. Menerima apa yang dimaksudkan oleh kalimat ini dengan hati dan lisan
4. Tunduk kepada kandungannya
5. Jujur, yaitu ia menyibukkan dengan lisan yang dibenarkan oleh hatinya
6. Ikhlas yang tidak dicampuri oleh perasaan riya
7. Mencintai kalimat ini dengan segala kandungannya

Wahai saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah!. Sebagaimana kita wajib untuk mengamalkan tauhid dengan memenuhi syarat-syarat laa ilaha illallah maka kitapun diwajibkan untuk menghindari dan mencegah diri dari perbuatan syirik dengan segala bentuk, pintu dan tempat masuknya, baik syirik yang besar maupun syirik yang kecil, karena sebesar-besar kezaliman adalah syirik kepada Allah, dimana Allah swt mengampuni dosa-dosa hamba-Nya kecuali perbuatan syirik itu. Dan barangsiapa yang terperosok ke dalamnya maka Allah swt mengharamkan surga baginya dan nerakalah tempat kembalinya. Allah swt berfirman: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (An-Nisaa':48)

Kepadamu wahai akhi fillah! saya persembahkan beberapa hal yang membatalkan dan merusak tauhid, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama agar kita dapat menghindarinya, diantaranya adalah:

1. Memakai kalung atau benang (yang diikatkan di leher atau di tangan) dari apapun jenisnya, seperti kuningan , besi ataupun kulit dengan maksud mengangkat(menghilangkan) dan menolak bencana karena hal ini termasuk perbuatan syirik.

2. Menggunakan Ruqyah Bid'ah (pengobatan dengan membaca mantra) dan Tamimah (jimat). Ruqyah bid'ah yang dimaksud adalah yang mengandung coretan-coretan, gambar-gambar dan perkataan-perkataan yang tidak dimengerti serta meminta pertolongan kepada jin dalam mendeteksi suatu penyakit atau melepaskan diri dari sihir. Sedang yang dimaksud dengan Tamimah adalah apa-apa yang dikalungkan pada manusia atau hewan yang terbuat dari benang atau ikatan lainnya, baik yang tertulis dengan ucapan bid'ah yang tidak bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, ataupun yang bersumber dari keduanya-berdasarkan pendapat yang rajih (kuat)- karena ini termasuk hal yang melahirkan perbuatan syirik.
Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Ruqyah-yang mengandung syirik-, Tamimah, dan Tiwalah (sesuatu yang dibuat agar suami mencintai istrinya atau sebaliknya) adalah perbuatan syirik [H.R Ahmad dan Abu Daud]

Termasuk perbuatan ini adalah menggantungkan selembar kertas, sepotong logam kuningan atau besi di dalam mobil yang diatasnya tertulis 'Lafdhul Jalala' (Allah) atau ayat kursyi atau meletakkan mushaf Al-Qur'an di dalam mobil dengan keyakinan bahwa itu semua dapat menjaga dan mencegahnya dari kejelekan seperti mata yang mengandung sihir dan sejenisnya. Termasuk pula memasang sepotong kertas atau logam yang berbentuk telapak tangan atau terdapat gambar mata. Tidak boleh memasang itu semua dengan keyakinan dapat mencegah dari pandangan mata yang mengandung sihir.

Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang menggantungkan dirinya pada sesuatu maka Allah akan membuatnya tetap bergantung padanya. [H.R Ahmad, Tirmidzi dan Hakim]

3. Termasuk diantara yang membatalkan tauhid adalah mencari berkah pada orang-orang tertentu dengan menyentuh dan meminta berkahnya, atau mencari berkah pada pohon-pohon, batu-batu dan lain-lain, bahkan kepada Ka'bahpun tidak boleh disentuh dengan tujuan mencari dan mengambil berkahnya, Umar ra ketika mencium Hajar Aswad berkata: Sesungguhnya saya tahu bahwa kamu adalah batu yang tidak mendatangkan mudharat dan manfaat, seandainya saya tidak melihat Rasulullah saw menciummu, saya tidak akan menciummu.

4. Diantara yang membatalkan tauhid adalah menyembelih hewan bukan karena Allah, seperti untuk para wali, setan-setan, jin dengan tujuan mengambil manfaat dan mencegah kejahatan mereka, perbuatan ini termasuk syirik paling besar. Dan sebagaimana kita dilarang menyembelih untuk selain Allah, maka kitapun dilarang meyembelih pada tempat-tempat penyembelihan yang biasa digunakan menyembelih hewan untuk selain Allah, walaupun orang tersebut menyembelih dengan niat untuk Allah swt, dengan maksud mencegah seseorang terperosok ke dalam perbuatan syirik.

5. Termasuk pula, bernadzar untuk selain Allah, karena nadzar itu adalah ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah swt

6. Termasuk diantaranya adalah meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah swt. Rasulullah saw bersabda kepada Ibnu Abbas ra: Bila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah dan bila engkau memohon sesuatu, maka mohonlah kepada Allah. Oleh karena itu kita dilarang memohon kepada Jin.

7. Diantara yang menafikan (membatalkan) tauhid adalah sifat Ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap para wali dan orang-orang shaleh dan mengangkat mereka melebihi kedudukannya, yaitu dengan berlebih-lebihan dalam memuliakan atau mengangkat mereka sederajat dengan kedudukan para rasul, atau menganggap mereka sebagai orang-orang yang ma'sum (terbebas dari dosa)

8. Diantara yang merusak tauhid adalah thawaf di (sekeliling) kuburan, ini termasuk perbuatan syirik. Kita dilarang shalat di kuburan karena dapat menggiring seseorang kepada perbuatan syirik, maka bagaimana pula kita shalat dan beribadah kepadanya? Na'udzu billah.

9. Untuk menjaga tauhid, kita dilarang membangun sesuatu diatas kuburan atau membuat kubah dan masjid, serta dilarang meninggikan (tanah kuburan) nya.

10. Diantara yang merusak tauhid adalah sihir, mendatangi tukang sihir, dukun, ahli nujum dan sebagainya. Jadi tukang sihir itu adalah orang yang kafir, tidak boleh mendatangi, bertanya dan membenarkannya, walaupun mereka mengaku sebagai wali, syaikh dan sebagainya

11. Termasuk yang membatalkan tauhid adalah Thiyarah yaitu perasaan pesimis (karena melihat suatu jenis burung tertentu) kepada hari, bulan, atau orang tertentu. Ini semua dilarang, karena Thiyarah adalah sesuatu yang dilarang, sebagaimana disebutkan di dalam salah satu hadits.

12. Termasuk yang merusak tauhid adalah mengandalkan dan bergantung kepada-sesuatu-sebab (perantara) seperti dokter, pengobatan, jabatan, dan sebagainya dan tidak bertawakkal kepada Allah SWT. Dan yang diperintahkan adalah mencari perantara itu seperti mencari penyembuhan dan rejeki tetapi dengan tetap menggantungkan hati (tawakkal) kepada Allah SWT semata, tidak kepada perantara tersebut.

13. Termasuk yang menafikkan tauhid adalah ilmu nujum atau memanfaatkan bintang pada sesuatu yang tidak diciptakan untuk itu. Maka kita dilarang untuk menggunakan bintang untuk mengetahui atau meramal kejadian yang akan datang dan hal-hal ghaib, karena ini semua dilarang.

14. Termasuk pula meminta hujan berdasarkan musim, bintang dan benda langit lainnya dengan keyakinan bahwa bintang-bintang itulah yang menurunkan atau menahan hujan, akan tetapi yang menurunkan dan menahan turunnya hujan adalah Allah SWT, maka katakanlah, Hujan itu diturunkan kepada kami karena keutamaan (karunia) dan rahmat Allah.

15. Di antara yang membatalkan tauhid adalah memalingkan suatu ibadah kepada selain Allah, seperti memalingkan perasaan cinta yang tulus atau rasa takut kepada makhluk-makhluk.

16. Termasuk yang menghapuskan Tauhid adalah perasaan aman dari tipu daya dan adzab Allah serta berputus asa dari rahmat-Nya. Maka janganlah merasa aman dari tipu daya Allah dan jangan berputus asa dari rahmat-Nya, tetapi hendaklah berada di antara perasaan takut dan harapan.

17. Termasuk yang membatalkan tauhid adalah tidak sabar terhadap takdir-takdir Allah, mengeluh dan menentang takdir, seperti mengatakan: Ya Allah, Mengapa engkau melakukan ini terhadapku, atau terhadap si Fulan. atau mengucapkan: Mengapa Engkau melakukan ini semua, ya Allah. dan termasuk dalam jenis ini adalah meratap, merobek kantong dan memotong-motong rambut (karena perasaan sedih yang berlebih-lebihan).

18. Termasuk pula adalah riya' dan sum'ah (ingin memperdengarkan kebaikannya) dimana seseorang melakukan kebaikan karena dunia.

19. Di antara yang menafikkan tauhid adalah mematuhi para ulama, pemimpin dan sebagainya dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, karena taat kepada mereka dalam hal ini termasuk perbuatan syirik.

20. Termasuk yang membatalkan tauhid adalah ucapan: Apa yang Allah dan engkau kehendaki. atau ucapan: Seandainya bukan karena Allah dan si Fulan. atau ucapan: Saya bertawakkal kepada Allah dan kepada si Fulan. Hendaklah menggunakan kata kemudian dalam ungkapan-ungkapan tersebut di atas, berdasarkan perintah Rasulullah SAW bahwa ketika mereka ingin bersumpah hendaklah mengatakan: Demi Tuhan Ka'bah dan mengatakan: Apa yang dikehendaki Allah kemudian apa yang engkau kehendaki. [H.R Nasai]

21. Termasuk perbuatan yang merusak Tauhid adalah mencaci maki tahun, waktu, hari dan bulan.

22. Termasuk yang menafikan tauhid adalah menghina agama, rasul-rasul, Al-Qur'an dan Sunnah. Atau mengejek orang-orang shaleh dan ulama disebabkan oleh karena mereka mengamalkan sunnah dan menampakkannya kepada mereka seperti memelihara jenggot, memakai siwak, memendekkan pakaian hingga ke atas mata kaki dan lain-lain.

23. Termasuk pula penamaan Abdul Nabi, Abdul Ka'bah dan Abdul Husain. Ini semua dilarang karena mengandung makna penghambaan diri kepada selain Allah. Karena penghambaan diri hanya kepada Allah semata, seperti nama Abdullah dan Abdurrahman

24. Termasuk yang menafikan Tauhid adalah menggambar makhluk-makhluk yang memiliki roh lalu mengagungkan dan menggantungkan gambar tersebut di dinding, ruang tamu dan sebagainya

25. Diantara yang merusak Tauhid adalah meletakkan dan menggambar salib atau membiarkannya ada pada pakaian sebagai pengakuan. Hendaklah salib itu dipatahkan atau dibuang.

26. Diantara yang menafikan Tauhid adalah mengangkat orang-orang kafir dan munafiq sebagai pemimpin dengan mengagungkan dan memuliakan mereka atau memanggil mereka dengan sebutan sayyid (tuan), menyambut ataupun mencintai mereka.

27. Termasuk yang menafikan dan bertentangan dengan Tauhid adalah bertahkim (berhukum) kepada selain apa yang diturunkan oleh Allah serta mendudukkan undang-undang buatan manusia sejajar dengan hukum syariat Allah Yang Maha Bijaksana, atau melegalisir undang-undang manusia dalam hukum, atau menganggap undang-udang tersebut sama atau bahkan lebih baik dari hukum syariat dan lebih cocok dengan zaman, dan seseorang yang meridhai itu termasuk dalam jenis ini.

28. Termasuk yang membatalkan Tauhid adalah bersumpah dengan selain Allah, seperti bersumpah dengan nabi amanah dan semacamnya. Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah kafir atau musyrik [H.R. Tirmidzi dan dihasankannya]

Akhi fillah! Sebagaimana kita wajib mengamalkan Tauhid dan berhati-hati dari segala hal yang bertentangan dan membatalkannya, maka kita juga harus selalu berjalan diatas jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang dikenal dengan sebutan Al-Firqatun Najiyah (golongan yang selamat) yaitu jalan orang-orang salaf (dulu) umat ini seperti para sahabat dan yang datang sesudah mereka dalam segala aspek aqidah dan akhlak. Dan sebagaimana Ahlus Sunnah memiliki manhaj (jalan hidup) dalam hal aqidah pada masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah dan sebagainya, maka demikian pula mereka memiliki manhaj dalam hal tingkah laku, akhlak, muamalah, ibadah, dan dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Oleh karena itu ketika Rasulullah saw menyebutkan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan: Semua di neraka kecuali satu, Beliau ditanya: Siapa mereka? Lalu Beliau menjawab: Mereka adalah seperti apa yang aku dan para sahabatku jalani sekarang.
Beliau tidak mengatakan: Mereka yang mengatakan dan melakukan ini dan itu... saja Tetapi mereka yang mengikuti dan menjalani manhaj Rasulullah saw dan para sahabatnya dalam berbagai hal.

Maka yang harus anda lakukan adalah sebagai berikut:
1. Dalam masalah Sifat, hendaklah anda menyifati Allah dengan apa yang Dia sifati dirinya dan apa yang Rasulullah sifati dengan tanpa penyimpangan, penggambaran bentuk, penyerupaan dan peniadaan. Jadi tidak boleh menolak (sifat-sifat itu) kecuali (apa) yang diingkari oleh Allah swt dan tidak ada penyerupaan. Berdasarkan firman Allah swt: Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Asy-Syuura:11)

2. Bahwa Al-Qur'an itu adalah kalam Allah, bukan makhluk yang diturunkan oleh-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

3. Beriman dengan apa yang akan terjadi setelah mati seperti adzab kubur dan sebagainya

4. Keyakinan bahwa iman itu adalah perkataan dan perbuatan yang bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan

5. Tidak boleh mengkafirkan seseorang ketika melakukan dosa selain syirik selama ia tidak melakukannya. Dan bahwa pelaku dosa besar bila ia bertaubat kepada Allah, maka Allah akan menerima taubatnya, dan bila meninggal sebelum bertaubat, maka ia berada dalam kehendak Allah. Bila Dia menghendaki, maka Dia akan mengampuninya dan bila Dia mengendaki, maka Dia akan menyiksanya lalu memasukkannya ke dalam surga. Dan bahwa tidak ada yang akan kekal di dalam neraka kecuali orang yang tergelincir dalam lembah kekafiran dan syirik, dan meninggalkan shalat termasuk perbuatan kafir.

6. Ahlus-Sunnah mencintai, mengagumi dan mengikuti seluruh sahabat Rasulullah, apakah mereka termasuk Ahlul-Bait atau bukan. Dan tidak meyakini kemaksuman seorang pun di antara mereka. Dan bahwa sahabat yang paling mulia adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, kemudian Umar bin Khattab lalu Utsman bin 'Affan disusul Ali bin Abi Thalib, -semoga Allah meridhoi mereka-.

7. Mereka beriman kepada karomah para wali yaitu orang-orang yang bertakwa dan sholeh.
Sebagaimana firman Allah SWT: Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (Yunus: 62-63)

8. Mereka tidak melihat bolehnya keluar dari kepemimpinan seorang imam (pemimpin) selama ia masih menegakkan sholat. Dan mereka pun tidak menganggapnya kafir murtad selama ia memiliki dalil dan petunjuk dari Allah.

9. Mereka juga beriman kepada takdir baik dan buruk dengan seluruh tingkatannya, dan meyakini bahwa manusia itu berjalan dan memiliki ikhtiyar (pilihan untuk melakukan usaha atau perbuatan yang terbaik). Jadi mereka tidak menafikkan takdir dan tidak pula menafikkan ikhtiyar, tetapi menetapkan keduanya.

10. Mereka senang melakukan kebaikan untuk manusia, mereka adalah sebaik-baik manusia bahkan termasuk yang paling adil di antara manusia.
Shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad.

(Diambil dari buletin Darull Qasim,Keutamaan Tauhid dan Peringatan dari Hal-hal yang Membatalkannya. Penyusun: Darull Qasim, muraja'ah: Syaikh Abdullah bin Jibrin)

puasa tasyu’a dan puasa asyura




Di akhir pekan pertama Muharram 1432 H ini, cukup urgen bagi kita untuk membahas puasa tasyu’a dan puasa asyura. Dengan harapan, kita semakin memahami puasa yang disunnahkan pada bulan Muharram ini termasuk fadhilah-nya, kemudian kita termotivasi untuk mengerjakannya.

Apa yang dimaksud dengan puasa Tasyu’a dan Asyura?
Puasa tasyu’a adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram. Sedangkan puasa asyura adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.

Hukum Puasa Tasyu’a dan Puasa Asyura
Hukum puasa tasyu’a dan puasa asyura adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Sunnah yang kuat.

Nabi SAW berpuasa Asyura dan memerintahkan supaya orang-orang berpuasa. (Muttafaq alaih)

Ketika menjelaskan hadits ini dalam Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhus Shalihin, DR. Mustofa Said Al Khin, DR. Mustofa Al Bugho, Muhyidin Mistu, Ali Asy Syirbaji, dan Muhammad Amin Luthfi mengatakan: puasa asyura adalah sunah muakkad.

Hadits lain yang menunjukkan bahwa puasa Asyura termasuk sunnah adalah sebagai berikut:
Hari asyura adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah. Rasulullah juga biasa puasa pada saat itu. Ketika datang ke Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka ketika difardhukan puasa Ramadhan, beliau bersabda, “Siapa yang ingin berpuasa, ia berpuasa, dan siapa yang tidak, ia berbukalah.” (Muttafaq alaih)

Sedangkan tentang puasa tasu’a, para ulama’ biasanya memakai dalil hadits berikut ini:
Seandainya aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku benar-benar akan berpuasa pada hari kesembilan (HR. Muslim)

Rasulullah SAW memang belum sempat berpuasa tasu’a, tetapi hadits qauliyah di atas menjadi dalil bahwa puasa tasu’a juga disunnahkan. Dari sana kemudian para sahabat melakukan puasa tasu’a itu demikian juga tabi’in, tabi’ut tabiin, dan generasi sesudahnya.

Sejarah Puasa Tasu’a dan Asyura
Puasa asyura (10 Muharram) sebenarnya telah dilakukan Rasulullah SAW pada periode Makkiyah (sebelum hijrah). Bahkan, orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah juga melakukannya.

Ketika Rasulullah hijrah dan tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi melakukan hal serupa. Maka beliau bertanya pada mereka mengapa mereka berpuasa pada hari asyura itu. Setelah mendapatkan jawaban tentang kemuliaan hari itu bagi Nabi Musa a.s., maka Rasulullah SAW memberitahukan bahwa kaum muslimin lebih berhak atas hari itu. Kaum muslimin di Madinah pun mengerjakan puasa itu dengan sungguh-sungguh, hingga tiba kewajiban puasa Ramadhan pada tahun 2 H dan sejak saat itu Rasulullah menegaskan bahwa puasa Asyura adalah puasa sunnah.

Hari asyura adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah. Rasulullah juga biasa puasa pada saat itu. Ketika datang ke Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka ketika difardhukan puasa Ramadhan, beliau bersabda, “Siapa yang ingin berpuasa, ia berpuasa, dan siapa yang tidak, ia berbukalah.” (Muttafaq alaih)

Nabi SAW datang ke Madinah dan beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari asyura. Lalu Nabi SAW bertanya, “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Hari ini merupakan hari terbaik, yaitu saat Allah membebaskan Nabi Musa a.s dan Bani Israel dari kepungan musuh mereka, hingga hari itu dijadikan Nabi Musa a.s. sebagai hari puasa.” Lalu Nabi SAW bersabda, “Aku lebih berhak memuliakan hari ini dibandingkan kalian.” Kemudian beliau menyuruh kaum muslimin agar ikut berpuasa. (HR. Bukhari)

Pada tahun 9 H, tepatnya satu tahun sebelum Rasulullah SAW wafat, sebagian sahabat melapor kepada Rasulullah SAW bahwa hari asyura adalah hari yang dibesarkan Yahudi dan Nasrani. Sementara Islam memiliki semangat menghindari tasyabuh, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
Barangsiapa menyerupai orang-orang kafir, maka ia termasuk golongan mereka. (HR. Abu Dawud)

Maka Rasulullah SAW berazam di tahun yang akan datang beliau akan menjalankan puasa pada hari kesembilan juga, yang dikenal dengan puasa tasu’a. Namun, belum sampai tahun depan itu datang, Rasulullah SAW wafat.

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ - إِنْ شَاءَ اللَّهُ - صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memetintahkan orang agar berpuasa padanya, mereka berkata, “Ya Rasulullah, ia adalah suatu hari yang dibesarkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah bersabda, “Jika datang tahun depan, insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas berkata, “Maka belum lagi datang tahun berikutnya itu, Rasulullah SAW pun wafat.” (HR. Muslim dan Abu Dawud).

Fadhilah (Keutamaan) Puasa Tasyu’a dan Asyura
Puasa Tasyu’a dan puasa Asyura termasuk puasa sunnah yang memiliki fadhilah yang luar biasa. Diantara fadhilan puasa Tasyu’a dan puasa Asyura itu adalah sebagai berikut:

Pertama, menjadi puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan

سُئِلَ أَىُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ وَأَىُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلاَةُ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

Rasulullah SAW ditanya, “Shalat manakah yang lebih utama setelah shalat fardhu dan puasa manakah yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?” Nabi SAW bersabda, “Shalat yang paling uatama setelah shalat fardhu adalah shalat di tengah malamdan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (yang kamu namakan) Muharram.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)

Kedua, orang yang berpuasa asyura diampuni dosanya selama satu tahun sebelumnya

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Rasulullah ditanya tentang puasa asyura, beliau menjawab, “dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

PEMANASAN GLOBAL




Kota, Pemain Utama yang Mesti Berubah
KOMPAS - Senin, 13 Desember 2010 | 03:57 WIB

Oleh Brigitta Isworo L

Anda adalah warga kota besar. Berapa jumlah mobil yang Anda miliki? Bagaimana sampah rumah tangga Anda diurus? Berapa kali sebulan Anda terbang ke luar kota atau ke luar negeri demi tugas kantor atau sekadar berwisata? Bagaimana desain rumah Anda? Berapa banyak lampu di rumah dan apa jenisnya?

Mungkin tak banyak yang menyadari pertanyaan di atas amat terkait dengan kontribusi kita pada penambahan atau pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) sekaligus penambahan atau pengurangan dampak perubahan iklim. Kota sebagai sebuah wilayah harus disadari juga amat rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Inti persoalan tentang kaitan kota dengan perubahan iklim pada awal September lalu diuraikan oleh pakar ekonomi dan politik Philipp Rode dari London, Inggris, pada program Climate 4Media yang diadakan oleh British Council yang berkantor di Beijing, China. Program tersebut diikuti oleh sekitar 60 orang dari lebih 10 negara dengan berbagai profesi, mulai dari wartawan, dosen, peneliti, pegiat film, hingga pegiat seni peran.

Rode langsung membuka paparannya dengan foto sampul majalah Der Spiegel tahun 1986. Pada foto itu ditampilkan Katedral Cologne di kota Cologne, Jerman, yang nyaris separuh bangunannya tenggelam akibat banjir. Ingat kondisi Jakarta bulan lalu yang ”lumpuh” akibat banjir dan genangan di seluruh pelosok kota dan wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).

Lebih banyak di kota

Panel Para Ahli tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyatakan bahwa pemanasan global diakibatkan oleh faktor manusia (antropogenik) karena emisi GRK dari berbagai aktivitas manusia telah menjebak panas matahari yang akhirnya mengakibatkan naiknya suhu bumi.

Pada tahun 2007 untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, jumlah manusia yang tinggal di kawasan urban (kota) lebih banyak daripada mereka yang tinggal di pedesaan. Sekitar 50,6 persen penduduk dunia tinggal di kota dan 49,4 persen tinggal di pedesaan (United Nations Population Division, 2007). ”Angka itu bisa lebih besar sekarang karena melihat pertumbuhan berbagai kota, terutama di Asia,” ujar Rode. Ini masalah serius,” ucapnya lagi.

Dia mengungkapkan, ada lima hal yang menghubungkan kota dengan perubahan iklim, yaitu pertumbuhan dan kerentanan kota, pembangunan kota tidak berkelanjutan, kota bisa memelopori gaya hidup (ramah lingkungan), kota merupakan lingkungan yang progresif, dan masalah efektivitas pemerintahan kota. ”Kehidupan pemerintah kota jelas lebih dekat ke masyarakatnya dibandingkan dengan pemerintah pusat atau provinsi. Kondisi ini semestinya membawa pengertian lebih terhadap keseharian kehidupan penduduk. Ini hal krusial untuk perubahan,” ungkap Rode.

Rode mengungkapkan data jumlah penduduk pada waktu puncak—siang hari pada jam-jam kerja ketika mereka yang tinggal di pinggiran kota masuk ke kota. Mumbai, India, adalah salah satu kota terpadat dengan 101.066 orang per kilometer persegi (km), lalu Istanbul (Turki) dengan 68.602 orang per km, New York City 53.000 orang per km, Mexico City (48.300 orang per km), dan London sekitar 17.200 orang per km. Jakarta dari hasil sensus penduduk tahun ini, kepadatannya 14.476 per km.

Peran kota

Menurut IPCC, 75 persen emisi GRK adalah dari perkotaan, di antaranya dari konsumsi energi yang tidak efisien.

”Sepuluh kota terbesar di dunia jumlah emisinya lebih besar daripada emisi Jepang,” ujar utusan khusus perubahan iklim dari Bank Dunia, Andrew Steer (Reuters), suatu kali.

Sementara banyak kota di dunia rentan terhadap kenaikan muka air laut, apalagi jika pembangunannya dilakukan dengan tidak mengindahkan kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan. Kota-kota tersebut, antara lain, Jeddah (Arab), Kolkata (India), Bangkok (Thailand), Kuala Lumpur (Malaysia), Singapura (Singapura), Taipei (Taiwan), dan Jakarta. Kasus di Jakarta sebagai contoh, pembangunan gedung-gedung pencakar langit telah menyebabkan penurunan permukaan tanah sehingga Jakarta menjadi lebih rentan pada kenaikan paras muka air laut.

Pelepasan emisi GRK di kota terjadi, antara lain, karena perubahan tata guna lahan—ketika taman atau areal hijau diubah menjadi kawasan perumahan, pertokoan, dan berbagai fasilitas kota lainnya atau transportasi yang tidak efisien serta perlistrikan untuk perumahan dan perkantoran/pertokoan.

”Jika kegiatan produksi di suatu kota dipindahkan ke kota lain, tidak berarti emisi GRK dikurangi. Itu menipu karena emisi yang sama jumlahnya tetap ada, tetapi lokasinya saja yang berpindah,” ujar Rode menanggapi fenomena pemindahan pabrik-pabrik dari satu negara ke negara lainnya.

Menurut Rode, komponen-komponen kunci yang berpengaruh terhadap emisi GRK kota, di antaranya kepadatan kota, distribusi penduduk dan aktivitas, infrastruktur transportasi, serta ukuran kota. Kepadatan yang dimaksud adalah jarak antara permukiman dan perkantoran. ”Jika didekatkan, ini akan mengurangi pergerakan dan menurunkan penggunaan bahan bakar karena orang bisa berjalan kaki sehingga emisi dari kendaraan bermotor berkurang,” tutur Rode.

Demikian juga ketika infrastruktur transportasi dikembangkan dengan baik, orang berpikir mana lebih menguntungkan? ”Naik kendaraan umum dengan waktu tempuh lebih pasti atau naik kendaraan bermotor sendiri yang bisa terkena macet,” ujarnya.

Sekarang di Eropa dibangun citra ”bersepeda itu sehat”. Kini kota-kota seperti Kopenhagen (Denmark) dan Amsterdam (Belanda) sudah menjadi ”kota sepeda”. Di bidang perumahan, di berbagai kota di dunia diperkenalkan penerapan insulasi yang baik sehingga penggunaan alat pengatur suhu udara dalam rumah bisa dikurangi. Demikian pula pemenuhan kebutuhan energi dengan tenaga matahari.

Para pemimpin 40 kota besar pada 2006 mengikat kemitraan dengan tekad mengurangi emisi GRK (baca: emisi karbon) dan meningkatkan efisiensi energi. Mereka disebut sebagai C40.

Dari berbagai kota yang mengikatkan diri dalam C40—diprakarsai yayasan Clinton Climate Initiative—sudah ada beberapa yang menerapkan pembangunan berkelanjutan dengan mengurangi konsumsi energinya.

Di antaranya Kopenhagen, 97 persen energinya berasal dari pengolahan limbah sampah, sementara Den Haag (Belanda) menggunakan air laut untuk pemanas rumah.

Untuk masalah transportasi, Tirana, ibu kota Albania, mendapatkan pujian sebagai pemilik sistem transformasi paling berkelanjutan, sementara kota Stockholm, Swedia, telah berhasil mengurangi emisinya sebanyak 200.000 ton per tahun dengan kendaraan berbahan bakar energi bersih. Di Oslo, Norwegia, dipasang 10.000 lampu jalan yang bisa mengurangi konsumsi energi hingga 70 persen dan mengurangi emisi GRK 1.440 ton CO.

Peserta dari India, Jayanta Basu, menegaskan, persoalan kota dan perubahan iklim yang tak kunjung selesai antara lain disebabkan oleh mental sulit berubah masyarakat kota, masyarakat kota disibukkan oleh aktivitas tinggi sebagai rutinitas mereka, pemerintah yang tidak meletakkan isu ini sebagai isu penting dan prioritas, serta rendahnya akses masyarakat terhadap isu tersebut yang sebenarnya mengancam masa depan mereka.

Hal serupa menghinggapi Jakarta. Kini kita tinggal menunggu kiprah Jakarta. Apa guna menjadi anggota C40? Sekadar sebagai atribut ataukah memang bertujuan untuk menjadi salah satu kota besar dunia yang berkelanjutan? Sebagai catatan: berbagai proyek terkait transportasi ternyata mangkrak dan yang sudah adapun tetap amburadul.…

kiriman millis teman


APAKAH MASIH ADA MANFAATNYA?
Oleh Ust Cahyadi Takariawan

“Seminar ini tidak mengubah apa-apa”, kata seorang wanita peserta Seminar Nasional yang digelar Lemhannas RI tadi pagi (09/12/2010). “Ada, walaupun sedikit”, jawab Kombes Pol Suko Raharjo yang menjadi mitra bicaranya.

Saya sering mendengar ungkapan seperti itu. Ungkapan keputusasaan, kegelisahan, kekecewaan, dan tiada harapan. John Rambo pernah mengucapkan kalimat seperti itu kepada rombongan misionaris gereja di bawah pimpinan Michael Burnet dan Sarah Miller, yang akan berangkat ke Myanmar. “Kamu tidak akan mengubah apapun”, kata Rambo. Namun para misionaris tetap berkeyakinan ada yang bisa mereka perbuat di Myanmar. Tapi ini terjadi di film Rambo IV.

Dalam kehidupan keseharian di tanah air kita, terlalu banyak kekecewaan dan keputusasaan masyarakat menghadapi realitas yang sulit berubah. Sikap apatis muncul dari kondisi seperti ini, sehingga banyak corak praktis dan pragmatis yang mewarnai pola hidup masyarakat. Dalam Pemilihan Umum untuk Anggota Legislatif misalnya, banyak masyarakat memilih berdasarkan transaksi praktis, karena mereka sudah tidak percaya bahwa akan ada perubahan mendasar. Siapapun yang menjadi anggota legislatif, hasilnya sama saja. Itu cara berpikir mereka.

Demikian pula dalam Pemilu Kepala Daerah (Pemilukada) yang bersifat langsung, terjadi pula sifat transaksional yang pragmatis. Sebagian masyarakat percaya, siapapun yang terpilih, tidak akan membawa perubahan yang signifikan. Maka, cara memilih berdasarkan kepentingan pragmatis, siapa yang memberi kemanfaatan paling banyak dan paling dirasakan menjelang masuk bilik TPS, itulah calon yang akan dipilih.

Sesungguhnya semua orang percaya, kalau setiap warga negara Indonesia baik tua maupun muda, besar maupun kecil, membawa satu sendok madu untuk dikumpulkan di Gedung Olah Raga Senayan, maka akan terkumpul 237.556.363 sendok madu. Semua orang percaya, kalau setiap warga negara Indonesia menyerahkan uang Rp. 100 (seratus Rupiah) kepada Panitia Pembangunan Rumah Korban Merapi dan Mentawai, maka akan terkumpul Rp. 23.755.636.300 atau duapuluh tiga milyar tujuhratus limapuluh lima juta enamratus tigapuluh enam ribu tigaratus rupiah.

Banyak masyarakat kita tidak percaya kepada hal yang kecil dan sederhana. Mereka tidak percaya kalau uang seratus rupiah yang mereka sumbangkan bisa menghasilkan akumulasi hampir 24 milyar rupiah, yang apabila disumbangkan untuk membangun rumah layak huni bagi korban Merapi atau Mentawai, akan bisa membangun 1.000 rumah seharga Rp. 24.000.000 per rumahnya. Ini lebih layak dari rumah yang dibangun oleh Pemerintah untuk korban gempa Jogja tahun 2006 yang nilainya Rp. 15.000.000 per rumahnya. Bukankah di rumah kita uang seratus rupiah dianggap sebagai pecahan yang tak ada nilainya ?

Sebuah nilai bisa terdiri dari dirinya sendiri yang memang telah bernilai, atau terdiri dari kumpulan berbagai bagian yang kurang bernilai. Kalau dalam dunia hadits, kita mengenal istilah hadits sahih lidzatihi dan sahih lighairihi, atau hadits hasan lidzatihi dan hasan lighairihi. Sahih karena dirinya sendiri, atau sahih karena banyaknya hadits serupa yang nilainya hasan. Tumpukan pasir bahan bangunan yang menjulang menyerupai gunung adalah kumpulan dari butir-butir pasir yang sangat kecil. Sering kali kita baru menghargai pasir ketika sudah satu truk, atau ketika sudah tampak menggunung.

Saya teringat teman lama, Ahmad Ghanzali, semoga Allah merahmatimu dimanapun kini kau berada. Dia seorang aktivis Jamaah Tabligh, yang semenjak masa kuliah di UGM dulu, sekitar kurun waktu tahun 1987 – 1990 dia sangat aktif menjalankan aktivitas dakwah. Ada ungkapan penuh keyakinan yang sering dia ceritakan kepada saya, “Kalau orang kita ajak ke masjid belum mau, ajak lagi lain kali. Jika belum mau juga, ajak lagi lain kali. Jika belum mau juga, ajak lagi, dan seterusnya. Nanti lama-lama ia akan mau ke masjid”. Ia yakin, perubahan adalah buah dari konsistensi, buah dari kesungguhan, buah dari ketekunan, buah dari keterusmenerusan.

Saat saya mengajar di Pesantren Darush Shalihat Yogyakarta pekan kemarin, ibu Nyai Pesantren bertanya kepada saya, “Bagaimana cara menumbuhkan kepekaan sosial kepada santriwati ? Berbagai usaha sudah saya lakukan tetapi belum ada hasilnya”. Saya menjawab singkat, “Tidak ada yang sia-sia dari proses pembinaan yang kita lakukan. Semua pasti memiliki pengaruh, mungkin bukan sekarang, namun suatu saat nanti baru kelihatan hasilnya”.

Kita ingin melihat uang duapuluh empat milyar rupiah itu sekarang, karena kita sudah tidak bisa menghargai proses dan waktu lagi. Kita tidak percaya bahwa uang recehan seratus rupiah itu ada manfaatnya. Kita ingin melihat pasir itu menumpuk bak gunung, baru kita percaya bahwa memang ada manfaatnya untuk membangun rumah dan bangunan tinggi. Kita tidak percaya bahwa satu butir pasir ada manfaatnya. Kita selalu ingin melihat lautan lepas yang dipenuhi air laut, karena kita tidak lagi menghargai bahwa air laut itu kumpulan dari partikel-partikel H2O.

Kita ingin melihat Indonesia berubah sekarang, menjadi baik sekarang, bebas korupsi sekarang, menjadi negara kuat dan maju sekarang, mandiri sekarang. Ya, sekarang. Bukan besok, bukan lusa. Kita sulit menghargai proses, bahwa hal-hal yang besar bisa dimulai dari yang kecil. “Saya cuma menebang satu pohon”, kata seorang warga saat diingatkan banjir bandang itu datang karena gunung yang gundul lantaran penebangan liar. Dia merasa tidak bertanggung jawab atas banjir yang datang, karena “bagaimana mungkin menebang satu pohon bisa mendatangkan banjir?”

“Saya cuma membuang satu keranjang sampah setiap hari”, kata seorang ibu rumah tangga saat diingatkan agar tidak membuang sampah ke sungai, karena banjir itu muncul dari aliran sungai yang dipenuhi sampah. Ia tidak merasa bertanggung jawab atas munculnya banjir di wilayah kampungnya, karena “bagaimana mungkin satu keranjang sampah bisa menyumbat aliran sungai?”

“Apakah kalau saya baik, Indonesia akan baik ?” Pertanyaan ini kurang lebih sama nilainya dengan, “Apakah kalau saya rusak, Indonesia akan rusak?” Kita sering lupa, penduduk Indonesia itu terdiri dari 237.556.363 “saya”.

“Apakah kalau saya tertib dan sopan di jalan, kondisi lalu lintas akan aman?” Pertanyaan ini mirip dengan, “Apakah kalau saya ugal-ugalan di jalan, lalu lintas akan kacau?” Kita sering lupa, bahwa keramaian jalan raya itu adalah kumpulan dari banyak “saya”.

“Apakah kalau saya jujur dan bersih, korupsi bisa hilang dari Indonesia?” Pertanyaan ini kurang lebih juga sama jawabannya dengan, “Apakah kalau saya korup, Indonesia akan menjadi negara terkorup?” Kita sering lupa, bahwa birokrasi dan lembaga negara itu adalah kumpulan dari para “saya”.

Masyarakat kita telah digilas oleh budaya instan, semua pengin terjadi secara cepat tanpa proses. Teman ronda saya di kampung, Pak Narno, sering meledek orang yang tidak merokok. “Katanya kalau berhenti merokok, dalam waktu dua tahun akan bisa membeli sepeda motor. Buktinya, orang-orang kampung yang tidak merokok itu juga tidak punya sepeda motor”. Teman saya itu tidak percaya proses, dia hanya ingin melihat hasil tanpa proses.

Apakah pendidikan yang kita lakukan tidak ada manfaatnya ? Terlalu pesimistik dan vatalistik pertanyaan seperti itu. Kita ingin melihat anak didik yang baik sekarang, tanpa harus sekolah. Tanpa harus diingatkan, tanpa harus dinasehati, tanpa harus diluruskan. Atau, kita ingin setiap nasihat langsung diikuti, setiap ajakan kepada kebaikan langsung dilaksanakan, semua larangan langsung dihindari. Tanpa proses, tanpa jeda waktu, karena kita ingin melihat kebaikan itu sekarang. Sungguh, kita sudah sulit menghargai proses dan waktu.

Apakah nasihat tidak ada lagi manfaatnya ? Apakah seminar sudah tidak memberikan makna ? Apakah tulisan sudah tidak ada artinya ? Apakah penataran sudah tidak ada fungsinya ? Apakah khutbah sudah tidak ada gunanya ? Apakah kuliah sudah tidak ada pengaruhnya ? Apakah aturan dan undang-undang sudah tidak ada tempatnya ? Apakah semua usaha itu pasti sia-sia ?

Berkacalah kita kepada Nabi Mulia, Muhammad Saw. Saat beliau dimusuhi oleh masyarakat Thaif yang mengusir beliau, malaikat datang menawarkan sebuah alternatif untuk menghancurkan orang-orang Thaif yang durhaka. Namun dengan arif beliau menolak tawaran itu, “Bahkan saya berharap, dari Thaif ini kelak lahir generasi yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya”. Demikian yang dikutip oleh Munawar Khalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi.

Ajakan beliau kepada kebaikan ditolak mentah-mentah oleh penduduk Thaif. Apakah ajakan itu tidak ada gunanya ? Pasti berguna. Nyatanya telah muncul generasi yang beriman dari Thaif, buah dari usaha dan doa beliau. Kita ingat pula kisah Maryam yang lemah saat melahirkan.

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan” (Maryam : 23).

“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu” (Maryam : 24).

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu” (Maryam : 25).

Dalam kondisi lemah karena melahirkan, adakah gunanya menggoyang pangkal pohon korma yang sangat kokoh itu ? Sepuluh orang lelaki perkasa akan kesulitan menggoyang pangkal pohon korma agar terjatuh buahnya, bagaimana dengan seorang perempuan yang tengah dalam kondisi lemah ? Apakah ada gunanya usaha itu ? Pasti ada. Dengan usaha itu, ada “alasan” bagi Allah untuk menolong Maryam.

Sangat banyak kegunaan dan kemanfaatan dari setiap bentuk usaha kita menuju kebaikan. Batu yang keras bisa terkikis oleh tetes air yang konsisten. Hati yang keras bisa dilembutkan oleh nasihat yang kontinyu. Pikiran yang kotor bisa bersih oleh penyadaran yang berkelanjutan. Jiwa yang lusuh kusut bisa bangkit oleh sentuhan yang mengena.

Saya selalu memiliki keyakinan, tidak ada usaha kebaikan kita yang sia-sia. Bahkan seandainya kita tidak melihat hasil usaha itu di dunia, Allah akan menghargai dengan sangat pantas semua usaha kita di hadapan-Nya. Teringat nasihat Tutor Pembimbing kepada rekan pendidikan di Lemhannas, mas Andi Zaenal Dulung, “Kalau nilai Taskap-mu ini jelek saat ujian, saya yakin nilai kamu di hadapan Allah sangat baik”. Taskap adalah Kertas Karya Perorangan, sebagai tugas akhir pendidikan sembilan setengah bulan di Lemhannas. Sang Tutor yakin, isi Taskap mas Andi mengajak kepada kebaikan, maka pasti Allah akan memberikan nilai yang baik.

Inilah keyakinan saya. Tak ada yang sia-sia, tak akan merugi, semua usaha kita melakukan perbaikan dan kebaikan, selalu ada manfaatnya. Selalu ada hasilnya, di masa sekarang, atau di masa yang akan datang. Di dunia, atau nanti di surga. Fahal jaza-ul ihsan illal ihsan…….

Maka, teruslah bekerja, teruslah berkarya, hingga akhir usia.

Pancoran Barat, 9 Desember 2010

KOMPAS, 13 DES 2010 - kolom opini

Lingkungan atau Kemiskinan?
oleh: Arianto A Patunru

Being green is costly. Itu adalah ungkapan dalam diskusi tentang pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Artinya kira-kira adalah membangun ekonomi sekaligus menjaga lingkungan itu susah. Apalagi bagi negara miskin: boro-boro melindungi lingkungan, menjamin orang agar tidak kelaparan saja susah.

Anggapan itu yang ingin ikut diluruskan oleh konferensi ”The Environment of the Poor: Making Sustainable Development Inclusive” di New Delhi, India, beberapa waktu lalu.

Populasi orang miskin cenderung terkonsentrasi di daerah terpinggirkan: wilayah kumuh, lahan gersang, lokasi rentan banjir, dan sebagainya. Saat ini upaya pemberantasan kemiskinan di Asia dan Pasifik menunjukkan cukup banyak kemajuan. Namun, pada saat kemiskinan dalam dimensi sosial dan pendapatan menurun, kemiskinan lain cenderung meningkat: kemiskinan lingkungan.

Ancaman dampak negatif dari perubahan iklim juga ikut mempersulit upaya pengentasan orang miskin. Kebanyakan negara miskin berorientasi rural dan pertanian tradisional, maka sangat rentan dengan perubahan iklim. Tanpa antisipasi dan mitigasi yang tepat, kemiskinan bisa malah bertambah.

Kemiskinan di Indonesia memiliki beberapa karakteristik penting. Saat ini ia masih diasosiasikan dengan pedesaan (rural), pertanian dan informal. Di samping itu, kemiskinan nonmoneter (akses pada sanitasi, air bersih, dan lain lain) lebih parah ketimbang kemiskinan moneter. Isu ini sudah banyak dibahas dan kebijakan penanganannya juga memperlihatkan kemajuan. Namun, hubungan kemiskinan dengan lingkungan masih belum banyak dibicarakan.

Indonesia adalah salah satu negara dengan emisi karbondioksida terbesar. Sebagian besar emisi datang dari sektor kehutanan. Laju deforestasi di Indonesia masih sangat tinggi, sementara negara-negara seperti China, India, dan Vietnam menunjukkan reforestasi.

Komitmen Indonesia

Maka, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi 26-41 persen emisinya sebelum 2020. Penurunan emisi bukan hanya untuk kepentingan dunia, tetapi lebih untuk kepentingan Indonesia sendiri. Pertanian (termasuk kehutanan) adalah sektor yang mengeluarkan emisi besar. Namun, ia juga tempat bergantung banyak orang miskin.

Mengurangi ketergantungan ekonomi kepada sektor pertanian tanpa mekanisme realokasi bisa menimbulkan beban tambahan. Deforestasi adalah pengurangan jumlah sumber daya alam neto. Artinya, ia tidak berkelanjutan: akses generasi mendatang atas kesempatan ekonomi yang sama dengan generasi sekarang akan terancam. Hal sama terjadi di sektor pertambangan.

Pertanyaannya kemudian adalah apa yang harus (dan bisa) dilakukan. Kita bisa muncul dengan daftar jawaban yang sangat panjang. Namun secara realistis dan dalam jangka pendek kita hanya bisa melakukan beberapa hal. Maka prioritisasi menjadi penting sekali. Isu pembangunan yang mengemuka saat ini adalah kemiskinan. Beberapa studi (misalnya McCulloch et al, 2007) menunjukkan bahwa salah satu jalan keluar dari kemiskinan di Indonesia adalah dengan membantu migrasi pekerja dari sektor pertanian dan informal ke sektor non-pertanian dan formal. Di sini faktor yang penting adalah fleksibilitas pasar kerja.

Tingkat kemiskinan juga menunjukkan disparitas regional dan dikotomi desa-kota (rural-urban). Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan mempunyai tingkat kemiskinan di bawah rata-rata nasional. Namun, tempat lain, terutama di bagian timur, memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi. Tingkat kemiskinan rural mencapai 17,4 persen dan urban 10,7 persen. Kesenjangan ini bahkan lebih parah pada dimensi kemiskinan nonmoneter. Di sini faktor yang penting berhubungan dengan konektivitas regional serta desa-kota: infrastruktur.

Kemudahan bermigrasi—baik pekerja maupun transportasi barang—antar sektor akan membantu pengurangan jumlah kemiskinan, karena akses bagi mereka yang miskin pada kesempatan ekonomi makin terbuka. Maka, beban pada sumber daya alam tak terbarukan seperti hutan dan tambang juga berkurang sehingga emisi karbondioksida bisa lebih dikendalikan.

Saat ini sektor manufaktur menunjukkan pertumbuhan yang masih rendah. Padahal, sektor ini menyerap tenaga kerja relatif banyak. Ekspor Indonesia masih bergantung pada komoditas primer. Di sini ada peran penting dari sistem logistik terutama infrastruktur. Dibanding komoditas primer, komoditas manufaktur harus berhadapan dengan biaya logistik dengan frekuensi lebih tinggi. Infrastruktur yang buruk menimbulkan disinsentif yang secara tak langsung mengalihkan kegiatan produksi dari sektor penyerap tenaga kerja ke sektor yang lebih bertopang modal.

Membangun infrastruktur

Tentu pembangunan infrastruktur adalah hal yang kompleks, termasuk pendanaannya. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah perbaikan pada struktur APBN. Saat ini alokasi untuk subsidi mencapai hampir Rp 200 triliun, atau 2,5 persen dari PDB—lebih besar daripada defisit APBN. Sebagian besar subsidi diarahkan untuk konsumsi energi (BBM dan listrik); jumlahnya melebihi pengeluaran untuk infrastruktur. Selain praktik anggaran seperti ini tidak produktif, ia juga membawa dampak buruk terhadap lingkungan.

Murahnya konsumsi energi berbasis fosil (berkat subsidi) menyebabkan insentif untuk investasi pada energi terbarukan menjadi sangat kecil. Produknya tak akan mampu bersaing dengan produk energi yang disubsidi. Selain itu, dengan alokasi begitu besar untuk subsidi, kesempatan membangun infrastruktur dengan lebih baik juga tak dapat dimanfaatkan dengan optimal, sehingga migrasi antarsektor dan antarwilayah menjadi terhambat. Maka, masalah kemiskinan dan lingkungan tak dapat ditangani dengan baik.

Dalam jangka pendek mungkin ada hubungan substitusi (saling meniadakan) antara pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Namun, ia akan berubah menjadi komplementer dalam jangka lebih panjang jika ada upaya berkelanjutan—gradual sekalipun—untuk menginternalkan eksternalitas lingkungan.

Salah satu upaya itu adalah dengan mulai menyadari bahwa praktik subsidi pada konsumsi energi berbasis fosil justru mendistorsi insentif menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan; pembangunan inklusif yang mampu memberi akses lebih besar bagi orang miskin untuk keluar dari kemiskinan.

Arianto A Patunru Direktur LPEM FE UI