Rabu, 31 Desember 2008

DO'A AKHIR dan AWAL TAHUN

Do'a Akhir Tahun (versi Majmu' Syarif)

Bismillaahir rahmaanir rahiim
Semoga tetaplah rahmat Allah atas junjungan dan pemimpin kami Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabat beliau, dan demikian pula keselamatan senantiasa dilimpahkan Allah SWT kepada seluruh umat manusia yang bertaqwa

Ya Allah, segala amal yang aku (bisa diganti menjadi 'kami' kalau do'a bersama orang banyak) lakukan pada tahun yang telah silam, dari hal-hal yang Engkau larang tentangnya, dan Engkau tidak melupakannya, dan menyantuni atasku sesudah kekuasaanMU atas siksa-siksa padaku, Engkau menyeru aku untuk bertaubat darinya setelah aku lakukan durhaka kepadaMU, maka aku memohon ampun kepadaMU ya Allah, berkenanlah Engkau mengampuni aku
Dan segala apa yang aku lakukan di dalamnya dari hal-hal yang Engkau ridhoi, dan Engkau telah menjanjikan pahala kepadaku, maka aku memohon kepadaMU ya Allah Dzat Yang Mulia, Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemulyaan, hendaklah Engkau terima diriku, janganlah Engkau memutuskan harapanku dari rahmatMU wahai Dzat Yang Mulia
Shalawat dan salam tetapkanlah kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya, amin

Do'a Awal Tahun

Bismillahir rahmaanir rahiim
Shalawat dan salam mudah-mudahan selalu terlimpahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya

Ya Allah, Engkau Dzat yang kekal selamanya, yang Qadim dan Awal, atas anugerahMU yang agung, dan pemberianMU yang sangat kami harapkan
Tahun baru ini sungguh telah datang, kami memohon kepada Engkau penjagaan yang kuat di dalamnya dari gangguan terhadap amalan yang dapat mengganggu untuk mendekatkan aku kepadaMU
Dekatkanlah aku denganMU, jagalah amalku agar aku tidak akan bergeser sedikitpun untuk menjauh dariMU, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemulyaan, Dzat yang penuh belas kasih

Washallaahhu 'alaa sayyidinaa wamaulana Muhammadin wa'alaa aalihhii wa ash haabihhii wasallam, aamiin

Selasa, 30 Desember 2008

RACUN ARSENIC TRIOXIDE

Dear All, cerita di bawah ini mohon untuk bisa diinformasikan kepada semua teman/orang yg anda sayangi (saya dapat dari millis teman)
Peristiwa ini terjadi di Menado, ada seorang wanita meninggal mendadak dengan lima panca indera keluar darah, setelah diselidiki ternyata wanita ini meninggal bukan karena bunuh diri atau dibunuh, melainkan karena ketidaktahuan tentang racun akibat dari campuran makanan. Wanita ini ada kebiasaan minum Vitamin C tiap hari. Ini tidak masalah.
Masalahnya karena malam itu wanita ini kebanyakan makan udang. Sebenarnya cuma makan udang saja tidak masalah, orang serumahnya juga banyak makan udang malam itu dan tak ada yg meninggal.
Tetapi, karena udang yang mengandung Arsenic Pentoxide (As2O5), dan setelah habis makan udang, wanita itu minum Vitamin C, terjadilah reaksi kimia di dalam perut yang membuat As2O5 berubah menjadi Arsenic Trioxide (As2O3) yang sangat beracun.
Hal ini mengakibatkan hati, jantung, ginjal, pembuluh darah rusak, usus keluar darah, pembuluh darah melebar hingga wanita itu meninggal mengenaskan dengan kelima panca indera mengeluarkan darah.
Jadi hati-hatilah, sehabis banyak makan udang, jangan minum Vit C pada saat bersamaan.

KONTAMINASI PESTISIDA PADA AIR SUSU IBU

Priyo Wahyudi dalam Harian Sore Sinar Harapan (2001) mengatakan bahwaPenggunaan pestisida kimiawi yang berlebihan memberi dampak negatif terhadap lingkungan dan manusia. Keseimbangan alam terganggu dan akan mengakibatkan timbulnya hama yang resisten, ancaman bagi predator, parasit, ikan, burung dan satwa lain. Salah satu penyebab terjadinya dampak negatif pestisida terhadap lingkungan adalah adanya residu pestisida di dalam tanah sehingga dapat meracuni organisme nontarget,terbawa sampai ke sumber-sumber air dan meracuni lingkungan sekitar. Bahkan, residu pestisida pada tanaman dapat terbawa sampai pada matarantai makanan, sehingga dapat meracuni konsumen, baik hewan maupun manusia. Bahkan akhir-akhir ini diantisipasi adanya kontaminasi pestisida pada air susu ibu. Keracunan akibat kontak langsung dengan pestisida dapat terjadi pada saat aplikasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sampai tahun 2000 mencatat sedikitnya terjadi tiga juta kasus keracunan pestisida setiap tahun dengan 220.000 korban jiwa.

Senin, 22 Desember 2008

INDIKATOR KINERJA KOTA, APA ITU? (Jo Santoso, 2006:68)

Kalau ada sekelompok ahli yang mengajukan hipotesis bahwa kondisi kota-kota kita akan dengan sendirinya membaik bila ekonomi negara ini pulih, bisa jadi para ahli itu mengerti ekonomi, tetapi tidak cukup mengerti mengenai perkembangan kota. Jelas pula bahwa para ahli ini tidak mengerti bahwa krisis yang dihadapi kota-kota kita sesungguh­nya disebabkan oleh terhambatnya proses transformasi sistem perko­taan, bukan karena kegagalan sistem ekonomi saja. Pembahasan me­ngenai problematika proses transformasi tersebut akan memberi kita pengertian yang lebih baik mengenai karakter dari krisis yang ada, dan membuka perspektif baru dalam mencari pemecahannya. Tetapi, sebelum memulai dengan usaha untuk memecahkan berbagai masalah perkotaan tersebut, seharusnya para stakeholder sepakat dahulu ten­tang apa yang mau kita capai atau perbaiki. Hal ini membawa kita pada satu kesimpulan bahwa kita memerlukan indikator-indikator yang rasional dan terukur, yang dapat membantu kita menentukan kondisi dan kinerja kota. Perbaikan dari indikator-indikator inilah yang harus dijadikan tujuan bersama.
Bagaimana cara mengukur kinerja kota? Pertama marilah kita meli­hat secara lebih terperinci bagaimana sebuah sistem perkotaan beker­ja dan bagaimana mengembangkan sebuah sistem perkotaan yang mampu berkompetisi. Berkaitan dengan hal tersebut, kami akan memperkenalkan metode untuk mengukur kinerja kota, yang disebut Indikator Kinerja Kota dan Indikator Kinerja Pengelolaan Kota (Santoso, 2000). Pemantauan kinerja kota melalui indikator-indikator kinerja kota dilakukan pertama kali oleh negara-negara Eropa Barat pada akhir 1960-an atau awal 1970-an, guna mengindentifikasi kota-­kota atau daerah-daerah yang terbelakang. Konsep yang menjadi lan­dasannya adalah pemikiran bahwa negara kesejahteraan antara lain bertugas memberi kesempatan yang sama bagi semua penduduk negara untuk berkembang. Alasan lainnya berkaitan dengan Perang Dingin, yaitu untuk menjaga agar daerah yang berbatasan dengan Eropa Timur jangan sampai terlantar. Indikator kinerja kota pada waktu itu terutama dipakai untuk mengukur kemampuan berkom­petisi sebuah kota terhadap kota-kota lain dalam satu wilayah (Santoso, 2000).
Pada perkembangan selanjutnya, pengukuran dilakukan untuk menilai kinerja pengelola kota dalam kurun waktu tertentu-misalnya dalam masa jabatan seorang walikota. Keberhasilan perbaikan infra­struktur dan pelayanan terhadap masyarakat, di samping perbaikan ekonomi, selalu menjadi kriteria terpenting dalam menilai prestasi seo­rang walikota. Program kerja pemerintah kota dalam periode tertentu harus dipresentasikan melalui indikator-indikator yang disepakati, dan pada akhir periode tertentu dapat digunakan sebagai legitimasi politik bagi mereka yang duduk di tingkat eksekutif. Perubahan positif atau negatif dari indikator-indikator tersebut berfungsi sebagai parameter keberhasilan untuk memeriksa sejauh mana partai yang berkuasa berhasil memperbaiki kinerja kota. Dalam Tabel lampiran, dapat di­lihat daftar tak lengkap indikator kinerja kota yang biasa digunakan dalam perbandingan internasional, dibagi menjadi delapan kelompok utama. Kelompok-kelompok indikator lainnya dapat ditambahkan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Masih perlu dibicarakan secara lebih mendalam sejauh mana pengukuran melalui berbagai indikator tersebut dapat membantu pengelola kota melaksanakan pekerjaannya. Dalam kenyataannya, setiap kota harus memilih sendiri indikator­indikator mana saja yang akan menjadi perhatian utama.
Kota-kota besar di Asia menghadapi masalah pencemaran ling­kungan yang berat, antara lain akibat lalu-lintas dan pertumbuhan industri. Di beberapa tempat seperti Jakarta, pencemaran udara sudah melewati ambang batas bahaya bagi penduduk dan berakibat fatal, seperti cacat otak pada anak-anak. Berapa besar biaya sosial semacam itu? Contoh lainnya: Salah satu sebab utama menurunnya kualitas lingkungan hidup di kota besar adalah kemacetan lalu-lintas. Di Bangkok, sebelum dibangun sarana transportasi massal (MRT), per­nah ada perhitungan bahwa kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh kemacetan berkisar USD270 - 1000 juta setiap tahun. Di Seoul, kemacetan menimbulkan kerugian USD154 juta per tahunnya, dan saya kira di Jakarta kondisinya tidak terlalu berbeda. Sebagai per­bandingan, biaya pembangunan sky-train di Bangkok sebesar USD1300 juta, bisa dianggap tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan manfaatnya (Asiaweek 1999). Inilah salah satu peran penting indikator kinerja kota: sebagai alat pembanding kuantitatif untuk melakukan analisa perbandingan biaya (cost-comparative analysis) dalam mengambil keputusan-keputusan jangka panjang. Karena itu, sejak awal konsep pengukurannya harus mengacu pada indikator-indikator yang relevan terhadap pengembangan kota. Bagi para calon investor, indikator kinerja kota juga dapat dipakai dalam penyusunan rencana investasi. Dengan demikian, para investor properti dapat mendasarkan inves­tasinya pada kebutuhan yang rill akan rumah, kantor, atau pun per­tokoan (Santoso, 2000). Angka-angka mengenai jumlah rumah, harga jual atau sewa rumah atau ruang kantor bisa secara berkala diumum­kan oleh pemerintah kota. Dengan cara ini property-crash sehebat yang terjadi pada 1997 di Jakarta, dapat dihindari paling tidak sebagian. Fungsi indikator lainnya adalah sebagai argumen penunjang yang rasional bagi pemerintah kota dalam mengambil keputusan-keputusan menajemen seperti membangun sky-train, menyetop pemberian izin pembangunan tipe produk properti tertentu, atau membangun fasili­tas kota tertentu berdasarkan angka-angka kebutuhan yang dipantau secara rutin. Yang terakhir adalah bahwa pengukuran indikator kiner­ja kota secara rutin diperlukan dalam rangka mengukur daya saing sebuah kota terhadap kota-kota lain. Sementara itu peningkatan daya saing itu sendiri dapat dicapai dengan memperbaiki indikator-indika­tor tersebut.
(Tulisan Jo Santoso, 2006: Menyiasati Kota Tanpa Warga, penerbit KPG & Centropolis)

Kampung Lapter





Saat survey bangunan kuno bersejarah di Sintang Kalbar, salah satunya adalah Masjid Nata, peninggalan raja-raja Sintang, dibangun tahun 1936. Sayang perawatan dari Pemkab kurang serius, atau sebenarnya sudah serius hanya kurang dana. Kota Sintang sangat menarik untuk dijadikan kajian morfologi kota. Letak kota terbelah oleh pertemuan sungai Melawi dan sungai Kapuas, dua sungai besar di Kalbar. Ada 3 titik pertumbuhan pada masing-masing bidang tanah, seberang Kapuas adalah kota lama (asli), kemudian jepitan antara Melawi dan Kapuas, dibangun kota baru oleh Belanda, dan seberang Melawi merupakan kampung (permukiman) masyarakat setelah Belanda masuk ke Sintang, masyarakat bermukim di dekat bandara tua (sudah tak berfungsi), yang sekarang terkenal sebagai kampung lapter (lapangan terbang).

Pak Udin dan Ibu Sukoco

Sudah sepekan Pak Udin (60), warga Gedawang Semarang, tak beranjak dari rumah. Hal ini terjadi sebagai buntut hilangnya surat tanda nomor kendaraan (STNK) sepeda motor atas namanya. Sebenarnya ia bisa menggunakan sepeda motor itu tanpa dilengkapi STNK, kalau sekedar keliling kelurahan atau sampai ke Mall disekitar Banyumanik. Tetapi, sebagai orang yang melek hukum, Pak Udin tak bersedia melanggar dengan mengendarai sepeda motor tanpa dilengkapi STNK.
Bapak dua anak dan kakek lima cucu ini sudah bosan mengobrak-abrik lemari, menguras laci, dan menengok dompet demi mencari STNK-nya.
Pak Udin kemudian merekonstruksi kejadian-kejadian terakhir di luar rumah. Ia ingat, antara lain, memenuhi undangan sebuah keluarga tetangga kelurahan yang menikahkan anaknya. Pak Udin ingat ia mengenakan setelan jas dengan tiga saku, masing-masing sebuah di bagian kiri atas dan dua buah di bawah.
Ingatan lain adalah ia memasukkan STNK di saku sebelah kanan, sedangkan amplop kecil berisi uang sumbangan bagi yang punya hajat dimasukkan ke saku sebelah kiri. ”Wah. Jangan-jangan tangan keliru masuk...,” gumam Pak Udin kepada istrinya.
Tanpa rasa bersalah dan malu, Pak Udin mendatangi rumah keluarga yang telah mengundangnya ke resepsi pernikahan. Sebelum Pak Udin berbicara lebih lanjut, si pemangku hajatan, Bu Sukoco (56), sudah keburu tahu apa maksud kedatangan Pak Udin. ”Mau mengambil STNK, Pak?” tutur Bu Sukoco. Pak Udin pun mengangguk.
Rupanya benar, Pak Udin salah mengambil amplop dari sakunya. Bu Sukoco sendiri semula mengira Pak Udin akan ”menghadiahi” si pengantin sepeda motor dan yang diserahkan lebih dulu adalah STNK-nya.
”Setelah STNK diambil, kok, enggak diganti dengan amplop berisi uang ya?” tutur Bu Sukoco kepada salah satu anaknya, Rofa yang kini tinggal di Boyolali dan terus mengenang ”insiden lucu” tersebut.

WARNA

WARNA memiliki efek psikologis. Efeknya berpengaruh terhadap pikiran, emosi, tubuh, dan keseimbangan. Aplikasi warna pada sebuah ruangan dapat menghasilkan kesan perasaan yang semakin luas atau justru kebalikannya. Berikut ini sifat-sifat psikologis beberapa warna:

Merah - Berani, penuh semangat, agresif, memicu emosi, dan menarik perhatian. Secara positif, warna merah mengandung arti cinta, gairah, berani, kuat, agresif, merdeka, kebebasan, dan hangat. Negatifnya adalah punya arti bahaya, perang, darah, anarki, dan tekanan.

Kuning - Menciptakan perasaan optimis, percaya diri, pengakuan diri, akrab, dan lebih kreatif. Kuning juga dapat merugikan kita karena menyampaikan pesan perasaan ketakutan, kerapuhan secara emosi, depresi, kegelisahan, dan keputusasaan. Pilihan warna kuning yang tepat dan penggunaan yang sesuai akan mengangkat semangat kita dan lebih percaya diri.

Hijau - berarti kesehatan, keseimbangan, rileks, dan kemudaan. Unsur negatif warna ini diantaranya memberi kesan pencemburu, licik, terasa jenuh, serta dapat melemahkan pikiran dan fisik. Di dalam sejarah China, warna hijau adalah warna perempuan. Lain dengan budaya muslim, yang menganggap warna hijau adalah warna yang suci. Warna untuk perdamaian juga hijau.

Biru - Melambangkan intelektualitas, kepercayaan, ketenangan, keadilan, pengabdian, seorang pemikir, konsistensi, dan dingin. Selain itu, dapat memicu rasa depresi dan ragu-ragu. Biru gelap akan membantu berpikir tajam, tampil jernih, dan ringan. Biru muda akan menenangkan dan menolong berkonsentrasi dengan tenang. Terlampau banyak biru akan menimbulkan rasa terlalu dingin, tidak akrab, dan tak punya emosi atau ambisi.

Ungu - Memberi efek spiritual, kemewahan, keaslian, dan kebenaran. Ungu mampu menunjang kegiatan bermeditasi dan berkontemplasi. Kemerosotan dan mutu yang jelek adalah sifat-sifat negatif warna ini.

Putih - Warna murni, suci, steril, bersih, sempurna, jujur, sederhana, baik, dan netral. Warna putih melambangkan malaikat dan tim medis. Warna ini juga bisa berarti kematian karena berkonotasi kehampaan, hantu, dan kain kafan.

Abu-abu - Bijaksana, dewasa, tidak egois, tenang, dan seimbang. Warna abu-abu juga mengandung arti lamban, kuno, lemah, kehabisan energi, dan kotor. Karena warnanya tergolong netral atau seimbang, warna ini banyak dipakai untuk warna alat-alat elektronik, kendaraan, perangkat dapur, dan rumah.

Hitam - Berkesan elit, elegan, memesona, kuat, agung, teguh, dan rendah hati. Kesan negatifnya adalah hampa, sedih, ancaman, penindasan, putus asa, dosa, kematian, atau bisa juga penyakit. Tak seperti putih yang memantulkan warna, hitam menyerap segala warna. Dengan hitam, segala energi yang datang akan diserap. Walau mampu memesona dan berkarakter kuat, tapi banyak orang yang takut akan "gelap". Warna hitam berkonotasi gelap, mistik.

Pesan dan Pembawa Pesan

Ada seseorang yang disuruh mengirimkan pesan penting.
Dan dia itu juga yang disuruh menjelaskan tentang pesan penting itu kepada semua orang.

Coba bayangkan kalau orang itu tukang bohong?
Bisakah kita percaya dengan pesan penting itu?
Bayangkan kalau orang itu tidak amanah?
Bisakah kita percaya dengan pesan penting itu?

Kita tahu bahwa pesan yang dibawa adalah berisi tentang pesan penting, tetapi pembawanya kok tukang bohong,.....kok gak amanah...??

Antara Pesan dan Pembawa Pesan tidaklah dapat dipisahkan, karena kedua-duanya untuk menunjukkan kebenaran. Orang yang Jujur (bukan tukang bohong) dan orang yang amanah sangatlah penting, sepenting isi pesan yang dia bawa. Maka dari itu pilihlah orang yang benar-benar bisa jaga amanah dan jujur, bukan orang yang sekedar hanya bisa memimpin.
Renungkanlah......................

Minggu, 21 Desember 2008

Manfaat Khitan

Khitan sekarang memang banyak menjadi pembicaraan di kalangan kedokteran. Sebagai contoh, kongres AIDS sedunia di Meksiko tahun ini membahas secara khusus manfaat khitan untuk pencegahan AIDS.
Ternyata khitan pada laki-laki dapat menurunkan risiko penularan HIV sekitar 60% sehingga khitan sekarang dimasukkan sebagai cara pencegahan HIV melalui intervensi biomedis lain (kondom, jarum suntik steril, dan obat antiretroviral).
Sudah lama sebenarnya diketahui khitan juga dapat menurunkan risiko penularan kanker serviks (kanker leher rahim). Perempuan yang pasangan seksualnya dikhitan ternyata lebih kecil kemungkinannya tertular kanker serviks.
Nah, karena itu khitan sekarang semakin marak dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit.
Filipina yang penduduknya sebagian besar beragama Katolik juga sekarang marak melakukan khitan untuk tujuan pencegahan penyakit.
Sebenarnya khitan merupakan operasi kecil.
Biaya yang diperlukan untuk khitan adalah untuk obat suci hama, penghilang rasa (anestesi) lokal, penggunaan alat khitan, benang jahitan, dan obat pencegah rasa sakit setelah selesai khitan. Sudah tentu biaya ini juga harus ditambah jasa dokter.
Harga obat cukup mahal. Peralatan kedokteran untuk khitan masih diimpor.

Memang memprihatinkan, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, masih mengimpor alat khitan. Pantasnya kita tidak menjadi konsumen, tetapi produsen yang mengekspor alat khitan ke negara lain. Ini tugas para dokter, teknisi kesehatan, pakar industri, atau siapa?
Biaya khitan perlu lebih terjangkau. Di rumah sakit pemerintah biaya khitan lebih rendah karena jasa medisnya dapat ditekan. Memang perlu dipikirkan subsidi biaya khitan karena pada dasarnya khitan merupakan upaya pencegahan.
Khitan massal telah banyak membantu keluarga yang kurang mampu. Selain dikhitan gratis, anak juga memperoleh baju, sarung, dan sedikit uang penggembira. Tetapi, keamanan khitan massal harus dijaga, artinya mutu layanan harus menjamin keamanan pasien.
Penyulit yang dapat timbul pada khitan, seperti infeksi dan perdarahan, harus dapat dicegah. Mudah-mudahan perhatian masyarakat terhadap manfaat khitan akan semakin meningkat. Lembaga-lembaga kesehatan yang bernafaskan Islam harusnya giat mengkampanyekan khitan murah sampai ke gratis, pahala dan manfaat dunia akherat pasti besar sekali. Demikian juga Pemerintah dan profesi kedokteran perlu memikirkan layanan khitan yang dapat dijangkau masyarakat luas.

Jumat, 19 Desember 2008

PERUBAHAN IKLIM

Iklim adalah esensi kehidupan. Oleh karena itu, dalam perspektif derajat kualitas hidup sebagai mahluk hidup, iklim menjadi bagian amat penting untuk terpenuhinya hak asasi paling dasar yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. Pemanasan global, seperti dilaporkan pakar Intergovernmental Panel on Climate Change - 2007, akan menyebabkan naiknya suhu permukaan Bumi pada lima tahun mendatang plus dampak lanjutan berupa kegagalan panen, kelangkaan air, tenggelamnya daerah pesisir, merebaknya wabah penyakit berbahaya, banjir, dan kekeringan.
Diperkirakan Asia akan terkena dampak paling parah, produksi pertanian China dan Banglades akan anjlok 30 persen, India akan mengalami kelangkaan air, dan 100 juta rumah warga pesisir akan tergenang. Pada tahun-tahun terakhir bencana iklim telah mengambil nyawa lebih dari tiga juta orang di dunia, 800 juta korban, dan kerusakan langsung yang melebihi 23 miliar dollar AS. Dari semua kerusakan itu, 90 persen terjadi di negara-negara berkembang.
Kita lihat, semua dampak yang akan muncul diakibatkan perubahan iklim itu terkait masalah Hak Hidup Manusia, khususnya hak yang tercantum dalam konvensi internasional tentang hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya.
Sifat perubahan iklim tidak mengenal batas negara. Begitu pula distribusi dan dampaknya, bahkan akan menimbulkan ketidakseimbangan dan ketidakadilan antarmanusia ataupun antarnegara.
Negara-negara industri yang kaya, terutama AS, adalah penyumbang terbesar gas rumah kaca yang berdampak pada perubahan iklim. Yang perlu diingat, mereka bisa mencapai kemakmuran untuk memenuhi tanggung jawab perlindungan dan pemenuhan hak atas ekonomi sosial dan budaya warganya, tidak bisa dilepaskan dari pengabaian mereka atas hak-hak yang hilang dari warga negara yang lain yang hidup di negara berkembang. Salah satu ketidakadilan itu, misalnya, AS, Kanada, dan Eropa (20,1 persen dari total warga dunia) mengonsumsi 59,1 persen energi dunia. Adapun warga Afrika dan Amerika Latin (21,4 persen dari populasi dunia) hanya mengonsumsi 10,3 persen.
Fatalnya lagi, dalam konteks perubahan iklim, cara pandang negara di utara bahwa dengan meng-uangkan tanggung jawab pelanggaran dan kerusakan yang dilakukan itu, dengan cara memberi proyek reservasi, dsb, sudah dianggap sebagai jawaban dari tanggung jawab untuk melindungi dan memenuhi semua proses pemanasan global dan pelanggaran yang mereka lakukan. Padahal kenyataannya, inilah bentuk pengingkaran dari tanggung jawab dan keadilan iklim itu sendiri karena telah menafikan banyak hal, terutama terkait dengan kesejahteraan rakyat dan keberlanjutan kehidupan.
Krisis dan masalah pemanasan global merupakan problem struktural yang terkait pada orientasi, kebijakan, strategi, dan urgensi kemanusiaan yang dihadapkan ke seluruh manusia tanpa terkecuali.
Krisis dan masalah pemanasan global merupakan problem ekonomi dan politik global, nasional, serta lokal yang bersentuhan langsung dengan semua hak dan sektor penghidupan yang lain.
Krisis dan masalah pemanasan global merupakan problem yang terkait dengan ketimpangan, dominasi, dan kurangnya akses orang, kelompok, serta negara terhadap sumber daya global, nasional, dan lokal. Tiap warga negara harus menyadari dan memiliki hak dalam kehidupan dan pembangunan negara dan dunia.
Parfi Kh: pemerhati masalah Lingkungan Hidup & Tata Ruang

BUMI MAKIN PANAS

Posisi emisi gas rumah kaca pada saat ini, yang mencapai 20% di atas emisi tahun 1990, menyebabkan stabilisasi gas rumah kaca ke masa dasar menjadi sangat berat. Bahkan boleh dikata tidak mungkin dilakukan, karena membutuhkan investasi teknologi dan biaya sangat besar. Tidak tercapainya stabilisasi gas rumah kaca pada periode komitmen pertama (2008-2012) menyebabkan kenaikan suhu permukaan bumi 2 derajat celsius dipercepat. Akibatnya, bumi pun makin panas, dan bencana lingkungan tinggal menunggu eksplosinya.Pembangunan yang tidak sensitif terhadap climate change dengan lebih mengutamakan pertumbuhan sesaat yang tidak berkesinambungan menyebabkan reduksi emisi dan stabilisasi gas rumah kaca tak dapat dilakukan. Pilihan membangun jalan tol sebagai moda transportasi utama yang memerlukan pembebasan tanah sangat mahal, merusak lingkungan, mengalihfungsikan lahan sawah, boros bahan bakar minyak dibandingkan dengan moda transportasi kereta api - yang murah, efisien, dan ramah lingkungan karena jalurnya sudah tersedia - merupakan teladan rendahnya sensitivitas dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.Lambatnya implementasi program penanaman tanah kosong untuk hutan (afforestation), penghutanan kembali (reforestation), dan pengurangan emisi kegiatan deforestasi menyebabkan sumber emisi terus bertambah tanpa diikuti peningkatan wadah penyerap yang signifikan. Kegagalan penurunan emisi gas rumah kaca peratifikasi Kyoto Protokol dan strategi pembangunan yang tidak sensitive climate change memosisikan bumi terus memanas. Akibat lain, antisipasi perubahan iklim pun berada di simpang jalan. Negara-negara kepulauan (island countries) maupun negara-negara lintang rendah (khatulistiwa) merupakan korban/victim pertamanya. Indonesia adalah contoh kongkret dampak buruk itu.Peningkatan suhu permukaan bumi dan laut yang ekstrem akibat pemanasan global akan menenggelamkan pulau-pulau kecil Indonesia yang jumlahnya ribuan, menaikkan intensitas dan besaran gelombang, mengacaukan musim, menurunkan produksi ikan, sehingga sangat mengganggu sistem dan kemampuan produksi pangan nasional.Abrasi pantai, ancaman pada permukiman pesisir, tingginya banjir, dan kekeringan merupakan dampak pemanasan global dengan petani dan rakyat miskin sebagai korban. Ketidakadilan asasi ekonomi dan lingkungan ini, apa pun alasannya, harus dihentikan secepatnya, karena negara-negara korban pemanasan global terampas hak hidup dan kehidupannya.

Parfi Kh: disarikan dari Gatra Nomor 52, 2007

Jumat, 12 Desember 2008

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

Aku dilahirkan di sebuah dusun di pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku anak perempuan dan mempunyai seorang adik laki-laki, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya."Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadiBeliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batubata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumahsekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masamendatang?... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkinkita bisa membiayai keduanya sekaligus?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini".
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang". Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu". Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih padakakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa ragu dan bahkan tanpa berpikir ia menjawab, "Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan selalu akan baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunanperayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

terjemahan dari : "I cried for my brother six times"

Kamis, 11 Desember 2008

JALAN KAKI JINAKKAN 9 PENYAKIT

STUDI dalam beberapa tahun terakhir semakin mengukuhkan bahwa berjalan tergopoh-gopoh dan bukan jalan santai memang memberi banyak manfaat bagi kesehatan kita. Inilah sembilan manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas jalan kaki:

(1) Serangan Jantung.
Pertama-tama tentu menekan risiko serangan jantung. Kita tahu otot jantung membutuhkan aliran darah lebih deras (dari pembuluh koroner yang memberinya makan) agar bugar dan berfungsi normal memompakan darah tanpa henti. Untuk itu, otot jantung membutuhkan aliran darah yang lebih deras dan lancar. Berjalan kaki tergopoh-gopoh memperderas aliran darah ke dalam koroner jantung. Dengan demikian kecukupan oksigen otot jantung terpenuhi dan otot jantung terjaga untuk bisa tetap cukup berdegup. Bukan hanya itu. Kelenturan pembuluh darah arteri tubuh yang terlatih menguncup dan mengembang akan terbantu oleh mengejangnya otot-otot tubuh yang berada di sekitar dinding pembuluh darah sewaktu melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh itu. Hasil akhirnya, tekanan darah cenderung menjadi lebih rendah, perlengketan antar sel darah yang bisa berakibat gumpalan bekuan darah penyumbat pembuluh juga akan berkurang. Lebih dari itu, kolesterol baik (HDL) yang bekerja sebagai spons penyerap kolesterol jahat (LDL) akan meningkat dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh. Tidak banyak cara di luar obat yang dapat meningkatkan kadar HDL selain dengan bergerak badan. Berjalan kaki tergopoh-gopoh tercatat mampu menurunkan risiko serangan jantung menjadi tinggal separuhnya.

(2). Stroke.
Kendati manfaat berjalan kaki tergopoh-gopoh terhadap stroke pengaruhnya belum senyata terhadap serangan jantung koroner, beberapa studi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tengok saja bukti alami nenek-moyang kita yang lebih banyak melakukan kegiatan berjalan kaki setiap hari, kasus stroke zaman dulu tidak sebanyak sekarang. Salah satu studi terhadap 70 ribu perawat (Harvard School of Public Health) yang dalam bekerja tercatat melakukan kegiatan berjalan kaki sebanyak 20 jam dalam seminggu, risiko mereka terserang stroke menurun duapertiga.

(3). Berat badan stabil.
Ternyata dengan membiasakan berjalan kaki rutin, laju metabolisme tubuh ditingkatkan. Selain sejumlah kalori terbuang oleh aktivitas berjalan kaki, kelebihan kalori yang mungkin ada akan terbakar oleh meningkatnya metabolisme tubuh, sehingga kenaikan berat badan tidak terjadi.

(4). Menurunkan berat badan.
Ya, selain berat badan dipertahankan stabil, mereka yang mulai kelebihan berat badan, bisa diturunkan dengan melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh itu secara rutin. Kelebihan gajih di bawah kulit akan dibakar bila rajin melakukan kegiatan berjalan kaki cukup laju paling kurang satu jam.

(5). Mencegah kencing manis.
Ya, dengan membiasakan berjalan kaki melaju sekitar 6 km per jam, waktu tempuh sekitar 50 menit, ternyata dapat menunda atau mencegah berkembangnya diabetes Tipe 2, khususnya pada mereka yang bertubuh gemuk (National Institute of Diabetes and Gigesive & Kidney Diseases). Sebagaimana kita tahu bahwa kasus diabetes yang bisa diatasi tanpa perlu minum obat, bisa dilakukan dengan memilih gerak badan rutin berkala. Selama gula darah bisa terkontrol hanya dengan cara bergerak badan (brisk walking), obat tidak diperlukan. Itu berarti bahwa berjalan kaki tergopoh-gopoh sama manfaatnya dengan obat antidiabetes.

(6). Mencegah osteoporosis.
Betul. Dengan gerak badan dan berjalan kaki cepat, bukan saja otot-otot badan yang diperkokoh, melainkan tulang-belulang juga. Untuk metabolisme kalsium, bergerak badan diperlukan juga, selain butuh paparan cahaya matahari pagi. Tak cukup ekstra kalsium dan vitamin D saja untuk mencegah atau memperlambat proses osteoporosis. Tubuh juga membutuhkan gerak badan dan memerlukan waktu paling kurang 15 menit terpapar matahari pagi agar terbebas dari ancaman osteoporosis. Mereka yang melakukan gerak badan sejak muda, dan cukup mengonsumsi kalsium, sampai usia 70 tahun diperkirakan masih bisa terbebas dari ancaman pengeroposan tulang.

(7). Meredakan encok lutut.
Lebih sepertiga orang usia lanjut di Amerika mengalami encok lutut (osteoarthiris). Dengan membiasakan diri berjalan kaki cepat atau memilih berjalan di dalam kolam renang, keluhan nyeri encok lutut bisa mereda. Untuk mereka yang mengidap encok lutut, kegiatan berjalan kaki perlu dilakukan berselang-seling, tidak setiap hari. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada sendi untuk memulihkan diri. Satu hal yang perlu diingat bagi pengidap encok tungkai atau kaki: jangan keliru memilih sepatu olahraga. Kita tahu, dengan semakin bertambahnya usia, ruang sendi semakin sempit, lapisan rawan sendi kian menipis, dan cairan ruang sendi sudah susut. Kondisi sendi yang sudah seperti itu perlu dijaga dan dilindungi agar tidak mengalami goncangan yang berat oleh beban bobot tubuh, terlebih pada yang gemuk. Bila bantalan (sol) sepatu olahraganya kurang empuk, sepatu gagal berperan sebagai peredam goncangan (shock absorber). Itu berarti sendi tetap mengalami beban goncangan berat selama berjalan, apalagi bila berlari atau melompat. Hal ini yang memperburuk kondisi sendi, lalu mencetuskan serangan nyeri sendi atau menimbulkan penyakit sendi pada mereka yang berisiko terkena gangguan sendi. Munculnya nyeri sendi sehabis melakukan kegiatan berjalan kaki, bisa jadi lantaran keliru memilih jenis sepatu olahraga. Sepatu bermerek menentukan kualitas bantalannya, selain kesesuaian anatomi kaki. Kebiasaan berjalan kaki tanpa alas kaki, bahkan di dalam rumah sekalipun, bisa memperburuk kondisi sendi-sendi tungkai dan kaki, akibat beban dan goncangan yang harus dipikul oleh sendi.

(8) Depresi.
Ternyata bergerak badan dengan berjalan kaki cepat juga membantu pasien dengan status depresi. Berjalan kaki tergopoh-gopoh bisa menggantikan obat antidepresan yang harus diminum rutin. Studi ihwal terbebas dari depresi dengan berjalan kaki sudah dikerjakan lebih 10 tahun.

(9). Kanker juga dapat dibatalkan muncul bila kita rajin berjalan kaki, setidaknya jenis kanker usus besar (colorectal carcinoma). Kita tahu, bergerak badan ikut melancarkan peristaltik usus, sehingga buang air besar lebih tertib. Kanker usus dicetuskan pula oleh tertahannya tinja lebih lama di saluran pencernaan. Studi lain juga menyebutkan peran berjalan kaki terhadap kemungkinan penurunan risiko terkena kanker payudara.

tulisan Dr. Handrawan Nadesul, dalam kompas.com

Selasa, 09 Desember 2008

Manusia yang Bagaikan Bola

Pada suatu ketika iblis bertemu muka dengan Nabi Yahya bin Zakariya a.s. lalu Iblis berkata, "Maukah engkau kunasihati?" Nabi Yahya menjawab, "Aku tidak mem­butuhkan nasihatmu. Tetapi coba kau jelaskan bagaimana keadaan manusia dalam pandangan kalian?"
Iblis menjawab, "Dalam pandangan kami, manusia itu terbagi ke dalam tiga golongan: Golongan pertama, yaitu mereka yang sangat sulit dihadapi, sebab setelah kami berhasil menggodanya, dia segera beristighfar, sehingga kami merasa berputus asa terhadap mereka; Golongan kedua, adalah orang-­orang yang ma'shum seperti dirimu, kami tidak mampu menggodanya; Golongan ketiga, adalah orang-orang yang di tangan kami seperti layaknya bola yang dapat kami permainkan sesuka hati kami."

Gerakan Tanah (Longsoran)

Gerakan tanah adalah suatu konsekuensi fenomena dinamis alam untuk mencapai kondisi baru akibat gangguan keseimbangan lereng yang terjadi, baik secara alamiah maupun akibat ulah manusia. Gerakan tanah akan terjadi pada suatu lereng, jika ada keadaan ketidakseimbangan yang menyebabkan terjadinya suatu proses mekanis, mengakibatkan sebagian dari lereng tersebut bergerak mengikuti gaya gravitasi, dan selanjutnya setelah terjadi longsor, lereng akan seimbang atau stabil kembali. Jadi longsor merupakan pergerakan massa tanah atau batuan menuruni lereng mengikuti gaya gravitasi akibat terganggunya kestabilan lereng. Apabila massa yang bergerak pada lereng ini didominasi oleh tanah dan gerakannya melalui suatu bidang pada lereng, baik berupa bidang miring maupun lengkung, maka proses pergerakan tersebut disebut sebagai longsoran tanah. Menurut Suripin (2002) tanah longsor adalah merupakan bentuk erosi dimana pengangkutan atau gerakan massa tanah terjadi pada suatu saat dalam volume yang relatif besar. Ditinjau dari segi gerakannya, maka selain erosi longsor masih ada beberapa erosi akibat gerakan massa tanah, yaitu rayapan (creep), runtuhan batuan (rock fall), dan aliran lumpur (mud flow). Karena massa yang bergerak dalam longsor merupakan massa yang besar maka sering kejadian longsor akan membawa korban, berupa kerusakan lingkungan, yaitu lahan pertanian, permukiman, dan infrastruktur, serta hilangnya nyawa manusia.
Proses terjadinya gerakan tanah melibatkan interaksi yang kompleks antara aspek geologi, geomorfologi, hidrologi, curah hujan, dan tata guna lahan.
Secara umum faktor pengontrol terjadinya longsor pada suatu lereng dikelompokan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari kondisi geologi batuan dan tanah penyusun lereng, kemiringan lereng (geomorfologi lereng), hidrologi dan struktur geologi. Sedangkan faktor eksternal yang disebut juga sebagai faktor pemicu yaitu curah hujan, vegetasi penutup, penggunaan lahan pada lereng, dan getaran gempa.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan bahwa daerah yang memiliki kerawanan terhadap bencana tanah longsor dikategorikan dalam kawasan fungsi lindung. Sedangkan batasan kawasan lindung diatur lebih lanjut dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 837/KPTS/UM/11/1980 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya.
Daerah perbukitan atau pegunungan yang membentuk lahan miring merupakan daerah rawan terjadi gerakan tanah. Kelerengan dengan kemiringan lebih dari 20o (atau sekitar 40%) memiliki potensi untuk bergerak atau longsor, namun tidak selalu lereng atau lahan yang miring punya potensi untuk longsor tergantung dari kondisi geologi yang bekerja pada lereng tersebut.

Potensi terjadinya gerakan tanah pada lereng tergantung pada kondisi tanah dan batuan penyusunnya, dimana salah satu proses geologi yang menjadi penyebab utama terjadinya gerakan tanah adalah pelapukan batuan (Selby, 1993).
Proses pelapukan batuan yang sangat intensif banyak dijumpai di negara-negara yang memiliki iklim tropis seperti Indonesia. Tingginya curah hujan dan penyinaran matahari menjadikan tinggi pula proses pelapukan batuan. Batuan yang banyak mengalami pelapukan akan menyebabkan berkurangnya kekuatan batuan yang pada akhirnya membentuk lapisan batuan lemah dan tanah residu yang tebal. Apabila hal ini terjadi pada daerah lereng, maka lereng akan menjadi kritis. Faktor geologi lainnya yang menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah adalah aktivitas volkanik dan tektonik, faktor geologi ini dapat dianalisis melalui variabel tekstur tanah dan jenis batuan. Tekstur tanah dan jenis batuan merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gerakan tanah yang diukur berdasarkan sifat tanah dan kondisi fisik batuan.
Disamping itu curah hujan yang meningkatkan presepitasi dan kejenuhan tanah serta naiknya muka air tanah, maka jika hal ini terjadi pada lereng dengan material penyusun (tanah dan atau batuan) yang lemah maka akan menyebabkan berkurangnya kuat geser tanah/batuan dan menambah berat massa tanah. Pada dasarnya ada dua tipe hujan pemicu terjadinya longsor, yaitu hujan deras yang mencapai 70 mm hingga 100 mm perhari dan hujan kurang deras namun berlangsung menerus selama beberapa jam hingga beberapa hari yang kemudian disusul dengan hujan deras sesaat. Hujan juga dapat menyebabkan terjadinya aliran permukaan yang dapat menyebabkan terjadinya erosi pada kaki lereng dan berpotensi menambah besaran sudut kelerengan yang akan berpotensi menyebabkan longsor.
Dalam analisis spasial, data intensitas curah hujan diwujudkan dalam bentuk peta isohiet yaitu peta yang menunjukkan deliniasi daerah dengan curah hujan yang sama. Berdasarkan peta isohiet tersebut, dapat ditentukan penilaian intensitas curah hujannya.
Tata guna lahan merupakan bagian dari aktivitas manusia, secara umum yang dapat menyebabkan longsor adalah yang berhubungan dengan pembangunan infrastruktur seperti pemotongan lereng yang merubah kelerengan, hal ini juga akan merubah aliran air permukaan dan muka air tanah. Penggundulan hutan maupun penggunaan lahan yang tidak memperhatikan ekosistem dapat pula memicu terjadinya gerakan tanah dan erosi. Secara kuantitatif, faktor pemanfaatan lahan dapat dianalisis melalui variabel jenis kegiatan dari pemanfaatan lahan yang terjadi.

Parfi Kh, mengajar Tata Ruang dan Lingkungan Hidup pada Magister Ilmu Lingkungan UNDIP

Senin, 08 Desember 2008

Vastenburg dalam Kenangan

Gerbang utama dilihat dari luar, saat itu masih jadi asrama tentara

Bagian dalam dari gerbang utama, ada dua bangunan dng arsitektur khas kolonial yang mengapitnya. Untuk kantoran dan administrasi

Gerbang timur dari arah luar



Gerbang timur dari arah dalam

Foto ini saya miliki ketika saya menjadi anggota tim peneliti bangunan bersejarah kota Solo pada tahun 1980an. Selamat menikmati kenangan Vastenburg yang dulu masih indah.


Benteng Vastenburg peninggalan Belanda di kota Solo rencananya akan diubah menjadi hotel berlantai 13 dan pusat perbelanjaan modern (kompas jateng, nop 2008). Benteng ini dibangun tahun 1775, merupakan salah satu dari 300 benteng peninggalan Belanda yang ada di Indonesia. Tetapi sungguh sayang bahwa benteng ini merupakan satu-satunya benteng yang sudah menjadi milik swasta, bukan milik negara lagi.
Menurut kebiasaan orang Jawa yang selalu bilang “untung” dalam setiap kondisi, maka mestinya kita (orang Jawa) masih bisa bilang “untung cuman satu”, jadi masih ada 299 benteng yang menjadi milik negara.
Sebenarnya apa sih ruginya benteng peninggalan Belanda dimiliki swasta? Nah ini yang perlu didiskusikan, konon, seperti tulisan diawal, bahwa oleh pemiliknya, benteng ini mau diubah menjadi hotel. Pertanyaannya sekarang, seandainya benteng ini masih dimiliki negara (pemkot Solo), apa ya tidak akan diubah jadi hotel atau pertokoan? Nek podo wae jawabane, kenapa musti ribut?
Tetapi, ingatlah bahwa benteng ini ternyata masuk dalam perlindungan benda cagar budaya yang harus dilindungi dengan cara preservasi, rekonstruksi, dan revitalisasi. Preservasi itu artinya mengembalikan seperti semula, rekonstruksi juga ndandani seperti awal meskipun mungkin bahan bangunannya dari bahan imitasi (baru), sedangkan rekonstruksi adalah membangun kembali dengan penyesuaian-penyesuaian. Kalau berubah jadi hotel, apane sik dilindungi? Memang sebenarnya bisa juga direkonsruksi jadi hotel dengan syarat harus memperhatikan bentuk dan nilai arsitektur sejarahnya yaitu dengan mengembalikan bentuk lama dan mengatur bangunan baru agar sesuai untuk fungsi hotel, ini agak sulit, tapi tetap bisa.

Parfi Khadiyanto
Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota FT UNDIP

ISTIQOMAH

Suatu hari sahabat Abdullah al-Tsaqafi meminta nasihat kepada Nabi saw agar dengan nasihat itu, ia tidak perlu bertanya-tanya lagi soal agama kepada orang lain. Lalu, Rasulullah saw bersabda, ''Qul Amantu Billah Tsumma Istaqim'' artinya "Katakanlah, aku beriman kepada Allah, dan lalu bersikaplah istiqamah!" (H.R. Muslim).
Istiqamah, seperti terlihat di atas, merupakan usaha maksimal yang dapat dilakukan oleh manusia untuk senantiasa berada di jalan Allah swt. Karena itu, tidak setiap orang dapat memiliki sifat istiqamah. Sifat istiqamah, menurut sufi Abu al-Qasim al-Qusyairi, hanya dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar beriman dan bertakwa kepada Allah swt. Mengenai keutamannya, Qusyairi berkata, ''Barang siapa memiliki sifat istiqamah, maka ia akan meraih segala kesempurnaan dan segala kebajikan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki sifat istiqamah, maka semua usahanya akan sia-sia dan semua perjuangannya akan kandas.''
Seseorang disebut istiqamah, menurut riwayat yang bersumber dari Kulafa' al-Rasyidin, bila ia konsisten dalam empat hal. Pertama, konsisten dalam memegang teguh aqidah tauhid. Kedua, konsisten dalam menjalankan syari'at agama baik berupa perintah (al-awamir) maupun larangan (al-nawahi). Ketiga, konsisten dalam bekerja dan berkarya dengan tulus dan ikhlas karena Allah. Keempat, konsisten dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan baik dalam waktu lapang maupun dalam waktu susah. Dalam sifat istiqamah, terkandung sifat-sifat yang luhur dan terpuji, seperti sifat setia, taat asas, tepat janji, dan teguh hati. Untuk itu, Allah swt menjanjikan kepada orang-orang yang istiqamah balasan yang besar. ''Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah para penghuni surga; mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan'' (Al-Ahqaf, 13-14). Semoga kita bisa istiqamah dalam segala hal, insya Allah, amin.

Tulisan dari Saudaraku MULKI WIBOWO

Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, Islam mengajarkan Toleransi kepada penganut agama lain, dalam makna memberikan kebebasan dan keleluasaan penganut agama lain untuk menjalankan ibadahnya selama ibadah tersebut tidak bertentangan dengan perundangan yang berlaku di tanah air kita (QS. Al Kafirun). Kalo dengan yang beda agama, Alloh jelas-jelas memerintahkan toleransi, maka dengan sesama muslim Alloh memerintahkan menjaga ukhuwah, persaudaraan, perbaikilah hubungan diantara kalian (QS. Al Hujurat : 10) dan tentunya harus lapang dada. Menurut saya sudah benar yang disampaikan pak parfi dengan memberi wacana/pandangan yang lebih luas pada ustadz didin, sebagai bagian dari tawashaubil haq wa tawashaubish shabr, dengan tetap menjaga prinsip ukhuwah. Kita menyadari bersama bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim mayoritas, tetapi belum Islamis, termasuk dalam pengelolaan Zakat, sehingga tentunya ini menjadi ruang ijtihad kaum muslimin dalam masalah pengelolaan zakat. Hukum Zakat wajib bagi yang memenuhi syarat, tetapi wilayah pengelolaan zakat, karena sampai saat ini belum ada kesatuan pengaturan oleh negara yang lebih komprehensif, maka menjadi wilayah ijtihadi kaum muslimin, yang karenanya tidak ada ruang untuk saling mengklaim sebagai yang paling benar. Tetapi menyarankan untuk maksud kemaslahatan yang lebih luas adalah hal yang bersifat boleh, meskipun tidak ada sifat memaksa.
Demikian ust. Parfi KH yang saya cintai karena Alloh SWT, saya sangat bangga dan senang dengan gaya kocak bapak sehingga dengan potensi tersebut bapak bisa mencairkan dan mengakrabkan ukhuwah kaum muslimin di komplek yang kita cintai.
Salam sukses, semoga kita ketemu lagi nanti di darat dan di akhirat.

Sabar dalam Kecukupan

Kadang orang berfikir, kenapa kita tidak mau sabar ketika tertimpa musibah, ketika dalam keadaan kekurangan….., ternyata sabar lebih diutamakan bagi orang yang berkecukupan, sebab bagi orang yang sedang kekurangan sudahlah pasti harus bersabar, karena hanya itulah yang bisa dia lakukan, sedangkan bagi mereka yang kecukupan, mau begini bisa….mau begitu juga bisa. Nah, sabar menjadi wajib bagi orang seperti ini, yaitu mampu menahan diri ketika dia dalam kapasitas mampu untuk berbuat apapun dan dimanapun. Tetapi sayang, banyak orang tergelincir ketika sedang dalam keadaan berlebihan……..hanya karena kurang sabar.

Suatu kisah memilukan terjadi di negara tetangga kita, orang-orang kaya yang menghuni rumah bagus dan mewah, tertimpa tanah longsor (info dari kompas.com). Apa yang mesti kita ambil hikmahnya dari peristiwa ini, kita semua ikut prihatin dan berbelasungkawa atas meninggalnya sebagian dari mereka. Lalu siapa mesti bertanggungjawab?
Ingat, ketika kita kaya….jangan merasa seluruh dunia ada di bawah genggaman kita, sehingga alam yang kurang layak huni pun, kita anggap dapat kita kuasai, dapat kita rekayasa…….., sabar adalah kunci dari semua.
Sekarang musibah telah terjadi…., tetap sabarlah yang menjadi jawabnya.

Empat orang meninggal dunia setelah longsor menimpa Taman Bukit Mewah, Bukit Antarbangsa, Selangor, Malaysia, demikian media massa Malaysia. "Sejak Sabtu malam kami selalu menonton laporan tragedi tanah runtuh. Minggu malam, kami kirim bantuan makanan untuk tim regu penyelamat," kata Basree Rakijan, seorang direktur pada sebuah rumah produksi di Kuala Lumpur.Di tengah Idul Adha di Malaysia, semua bagian besar warga menyaksikan siaran langsung tv mengenai tragedi tanah longsor yang terjadi Sabtu dinihari sekitar 04.00 waktu setempat. Tanah longsor ini menimbun 14 rumah bungalow (rumah mewah) di kompleks perumahan mewah di Malaysia itu dan menelan empat nyawa, 14 cedera, dan seorang hilang.Tragedi ini menarik perhatian karena yang terkena tanah longsor adalah perumahan mewah, bahkan rumah ketua sekretaris pribadi PM Badawi, Mohamed Thajudeen Abdul Wahab, menjadi salah satu yang hancur. Semua laporan utama media cetak Malaysia hari ini memberitakan tanah longsor itu.

Sabtu, 06 Desember 2008

Pesona Jiwa Ulama Sejati

IMAM HASAN AL-BASHRI adalah seorang ulama tabi’in terkemuka di kota Basrah, Irak. Beliau dikenal sebagai ulama yang berjiwa besar dan mengamalkan apa yang beliau ajarkan. Beliau juga ulama yang dekat dengan rakyat kecil dan dicintai o!eh rakyat kecil. Imam Hasan Al-Bashri memiliki seorang tetangga nasrani. Tetangganya itu memiliki kamar kecil untuk kencing di loteng atas rumahnya. Atap rumah keduanya bersambung menjadi satu. Air kencing dari kamar kecil tetangganya itu merembes dan menetes ke dalam kamar Imam Hasan A1-Bashri. Namun beliau sabar dan tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali. BeIiau menyuruh isterinya meletakkan wadah untuk menadahi tetesan air kencing agar tidak mengalir ke mana-mana. Selama dua puluh tahun hal itu ber!angsung dan Imam Hasan Al-Bashri tidak membicarakan atau memberitahukan hal itu pada tetangganya sama sekail. Dia ingin benar-benar mengamalkan sabda Rasulullah Saw., “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya.” Suatu hari Imam Hasan Al-Bashri sakit. Tetangganya yang nasrani itu datang ke rumahnya menjenguk. Ia merasa aneh melihat ada air menetes dari atas di dalam kamar sang Imam. Ia melihat dengan seksama tetesan air yang terkumpul dalam wadah. Ternyata air kencing. Tetangganya itu langsung mengerti bahwa air kencing itu merembes dari kamar kecilnya yang ia buat di atas loteng rumahnya. Dan yang membuatnya bertambah heran kenapa Imam Hasan Al-Bashri tidak bilang padanya. “Imam, sejak kapan engkau bersabar atas tetesan air kencing kami ini?” tanya Si Tetangga. Imam Hasan Al-Bashri diam tidak menjawab. Beliau tidak mau membuat tetangganya merasa tidak enak. Namun…….. “Imam, katakanlah dengan jujur sejak kapan Engkau bersabar atas tetesan air kencing kami. Jika tidak kau katakan maka kami akan sangat tidak enak. ”Desak tetangganya. “Sejak dua puluh tahun yang lalu.” Jawab Imam Hasan Al-Bashri dengan suara parau. “Kenapa kau tidak memberitahuku?” “Nabi kami mengajarkan untuk memuliakan tetangga, beliau bersabda, Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya” Seketika itu Si Tetangga langsung mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia dan seluruh keluarganya masuk Islam.

Teknik Membaca Cepat dan Kilat

Teknik Membaca Cepat dan Kilat
Kecepatan membaca seseorang adalah antara 150 – 220 kata/menit. Ini kecepatan rata2. Dengan menerapkan teknik membaca cepat, kita bisa membaca 2 sampai 5 kali lebih cepat. Dasar dari teknik membaca cepat ini adalah: Membaca dan mengambil inti dari bacaan. Biasanya dalam satu alinea, intinya berada di kalimat pertama dan/atau di kalimat terakhir dari alinea tsb.

'Scanning' dan 'Skimming'
Langkah pertama adalah dengan teknik 'Scanning', yaitu: Membaca sepintas kilas. Seperti kalau kita sedang berada di Mall kita biasanya 'scan' atau melihat sekilas semua toko yang ada di lantai tersebut dan mendapatkan gambaran kira2 ada toko apa saja di lantai tsb.
Langkah berikutnya adalah 'Skimming', yaitu: Menyaring kata2 dalam satu artikel.
Membaca cepat merupakan suatu ketrampilan jadi kita perlu latihan.

Kamis, 04 Desember 2008

Tips Membeli Hewan Kurban

Para calon pembeli hewan qurban hendaknya tidak segan meminta Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) kepada penjualnya. SKKH ini penting sebagai jaminan bahwa hewan yang akan diqurbankan dalam keadaan sehat, sehingga aman untuk dikonsumsi mustahiq (penerima daging qurban).
SKKH bisa diperoleh dengan cuma-cuma, alias gratis. Tergantung dari adanya kemauan dari para penjual untuk berkoordinasi dengan dinas terkait. SKKH bisa diperoleh di Dinas Agribisnis atau Dinas Peternakan dan Perikanan.
Perlakuan penjual kepada hewan qurban dagangannya juga harus menjadi sorotan calon pembeli. Hewan qurban yang biasanya dijajakan di pinggir jalan itu, diusahakan untuk tidak terkena sinar matahari secara langsung dan tidak kehujanan. Untuk beberapa tahun terakhir, cara penjual menjajakan hewan qurban sudah relatif baik, yakni dengan memberi atap dan alas sekaligus menyediakan makanan dan minuman bagi hewan dagangannya.

30% Hutan di Gunung Merapi Rusak

Hutan negeara di kawasan Gunung Merapi mengalami kerusakan yang cukup parah sekitar 30 persen dari totol area seluas 270 hektare. Hutan yang berada di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara, tepatnya di Kecamatan Srumbung dan Dukun, Kabupaten Magelang.
Menurut Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat, kerusakan lebih diakibatkan penambangan liar dan penjarahan kayu. ''Mereka ada juga yang menambang dipinggiran hutan kemudian menggerus area hutan. Lantas kayunya ditebang dan ditimbun dalam truk yang bermutan pasir,'' katanya.
Hutan pinus itu, lanjut dia, memberikan manfaat besar bagi kelestarian alam. Namun sayang setiap tahun jumlahnya terus berkurang dan kerusakan alamnya semakin mengkhawatirkan.
Dia mencontohkan, lingkungan di sekitar Taman Wisata Monumen Tugu Soeharto Jurangjero yang berada di kaki Gunung Merapi rusak parah. Padahal dulunya ada wisata alam yang sangat indah untuk melihat puncak gunung. ''Kami hanya bisa melakukan konservasi di area seluas 6 hektar saja. Yang hanya difokuskan di wilayah Dusun Jurang Jero, Desa Ngargosuro, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Padahal, masih ada enam desa lain yang belum bisa kita lakukan konservasi,'' katanya.
Selain Dusun Jurang Jero, Ngargosuro ada enam desa lainnya yang masih belum tersentuh konservasi, antara lain Ngablak, Mranggen, Tegalrandu, Ngargomulyo, Keningar dan Klaten.
(Suara Merdeka, 4 Desember 2008)

Memaksimalkan Pahala Usia

''Sesungguhnya, Allah hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat. Dia-lah yang menurunkan hujan serta mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan, tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan, tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.'' (QS Luqman : 34).Salah satu rahasia Allah SWT yang tidak diketahui oleh manusia adalah perkara umur atau usia. Tak ayal, seorang yang dikira sehat tiba-tiba diberitakan tutup usia atau meninggal dunia. Sebaliknya, seorang yang diterka akan segera menemui ajal didapati masih menghela napas dan hidup lebih lama.Adalah Khalifah Umar bin Khathab RA, contoh seorang yang benar-benar memerhatikan perkara umur. Suatu ketika, ia ingin meminjam uang kepada baitul mal untuk suatu hajat. Namun, sebelum memberikan pinjaman, pengurus baitul mal itu bertanya, ''Wahai Umar, adakah jaminan untuk pinjaman ini? Akankah engkau dapat menjamin hidupmu sampai hari esok?''Mendengar ucapan pengurus itu, ia tertegun dan mengurungkan niatnya. Ia menyadari bahwa dirinya dan bahkan seluruh manusia tidak ada yang sanggup untuk menjamin sampai kapan hidupnya di dunia. Umar pun kembali ke rumah dan mengurungkan niatnya. Sifat manusia yang seolah-olah ingin hidup abadi di dunia menggambarkan keserakahan dan keegoisannya. Terlebih, itu merupakan kufur atas nikmat yang telah diberikan. Keabadian bukanlah sifat manusia, melainkan hanya milik Dzat yang Mahahidup (Alhayyu).Jika demikian, berarti manusia telah kehilangan arti usia yang sesungguhnya. Karena, dalam Islam, usia adalah modal untuk berbuat dan mengisi. Maka dari itu, Rasulullah SAW mengingatkan, ''Ambillah kesempatan lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum melaratmu, hidupmu sebelum matimu, dan senggangmu sebelum sibukmu.'' (HR Al Hakim dan Al Baihaqi).Lebih tegas lagi, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah bersabda, ''Sebaik-baik kalian adalah seorang yang panjang usianya dan baik amalnya. Dan, seburuk-buruk kalian adalah yang panjang usianya, namun buruk amalnya.''Marilah kita memaksimalkan modal umur kita yang diberikan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Wallahu a'lam.

Rabu, 03 Desember 2008

Waspada, Longsor dan Banjir Mungkin Datang Lagi

Hujan deras yang terus mengguyur kota Semarang, mengakibatkan tanah longsor sedikitnya terjadi tanah longsor di tujuh lokasi pada bulan februari 2008 lalu. Yaitu di Kelurahan Lempong Sari, lima lokasi dan di Bendungan dua lokasi. Sejumlah rumah rusak parah akibat musibah ini, namun beruntung tidak ada korban jiwa. Meski tanpa korban jiwa, kerugian dipastikan mencapai puluhan juta rupiah. Lurah Lempong Sari, langsung meninjau lokasi kejadian dan melakukan pendataan terhadap rumah warganya yang tertimpa musibah.
Longsor terparah terjadi di Lempong Sari I RT 04 RW II, Kelurahan Lempong Sari, Kecamatan Gajah Mungkur. Tebing setinggi kurang lebih 30 meter ambrol menimpa dua rumah yang ada dibawahnya.
Tercatat, kerusakan parah milik Beni Prayitno, ketua RT, dan Mujiat (42), yang posisinya berdampingan. Dapur dan kamar mandi yang telah dipagari tembok setinggi kurang lebih 1,5 meter ambrol. Akibatnya, sejumlah perabotan rumah tangga rusak parah. Sisanya, enam rumah di RT 04 RW 02 lain terendam air akibat luapan sungai yang ada di bawah tebing.Sedangkan di wilayah Bendungan, longsor menimpa rumah Sudarmanto, warga Kintelan 328. Rumah tersebut terkena longsoran talut milik Wimbo Harjito, di samping rumahnya. ”Tujuh puluh lima persen rumah saya rusak dan tidak bisa ditinggali dalam kondisi seperti ini,” kata Sudarmanto di pagi hari itu.
Rumah tersebut selain tertimpa longsoran tanah yang menjebolkan dan merobohkan temboknya, juga tertimpa dua batang pohon persis di atap rumah. Sudarmanto menuturkan, musibah itu terjadi pada pukul 02.30 dinihari tadi. ”Tiba-tiba saya mendengar suara seperti air terjun, disusul robohnya rumah kami. Saya yang sedang tidur langsung meloncat, tetapi ngoplok karena kaget dan takut. Begitu pula istri saya," ujar guru SMA Masehi 2 ini.
Dia tidak bisa keluar rumah, meski tetangga memanggil-manggilnya. "Semua pintu macet, lagi pula saya ngoplok. Saya keluar lewat jendela," katanya.
Mengenai talud longsor tersebut, sebenarnya dia sudah beberapa kali menyampaikan pada pemiliknya, Wimbo Harjito. "Tetapi sampai sekarang belum dilakukan pengamanan, hingga terjadi musibah ini. Tetapi saya sudah bertemu Bu Wimbo yang menyatakan bersedia menangani masalah ini, sementara pak Wimbo masih di Jakarta," katanya didampingi Ketua RT, Sartono. Sudarmanto berharap, semua kerugian ditanggung oleh pemilik talut. Selain rumah Sudarmanto, di Kintelan, juga terjadi musibah longsor, yang menimpa rumah Wardi.

KebanjiranSementara dalam musibah di Lempongsari, longsor mengakibatkan aliran air terhalang, dan mengakibatkan tergenangnya rumah milik enam kepala keluarga. Warga yang rumahnya tergenang tersebut, berusaha mengeluarkan air dari dalam rumah mereka, serta menyelamatkan barang-barang berharga, terutama eletronik ke tempat yang lebih tinggi. Menurut Mujiat, peristiwa alam ini sedikit banyak karena faktor manusia juga. Di mana, tanah di atas rumahnya yang menurut warga setempat telah dibeli oleh pengusaha sepatu, sebenarnya telah dipagari seng. Namun karena kondisi tanah yang curam serta banyaknya sampah rumah tangga dari dua RW yang ada di atas yakni, RW 02 dan RW 03 di kawasan perumahan Elite Indra Prasta, mengakibatkan tanah labil. Akibatnya, saat hujan terus mengguyur, seng setinggi tiga meter dengan panjang 20 meter ambrol ke bawah dan menimbun sungai yang ada di bawahnya.
Mujiat sendiri mengaku terkejut dengan kejadian yang baru pertama kali itu. "Kejadian yang berlangsung cepat itu pada pukul 01.00 dini hari. Saya dan keluarga yang terlelap tidur, tiba-tiba dikagetkan dengan suara gemuruh di belakang rumahnya," kata Mujiat yang langsung menuju lokasi kejadian.
Tidak berhenti sampai di situ. Dalam hitungan detik, tiba-tiba air memasuki rumahnya dari arah belakang. "Sungai itu ada tepat di belakang rumah saya. Jadi pas tanah longsor air sungai meluap dan memasuki enam rumah warga," kata Mujiat yang pagi ini terpaksa tidak berakitivitas lain selain membersihkan rumah dari genangan air.
Kejadian serupa juga terjadi Lempong Sari II RT 05 RW I, Kelurahan Lempong Sari, Kecamatan Gajah Mungkur pukul 02.00 WIB dini hari tadi malam. Sebuah tebing setinggi kurang lebih 3,5 meter, terdiri dari material batu gunung di depan rumah milik Ny Parno (70) ambrol hingga nyaris menutup jalan kampung."Kejadian serupa pernah terjadi puluhan tahun silam. Tapi ini yang terparah. Untungnya hanya di depan rumah," tutur Eni (43) salah seorang putri Ny Parno.
(diambil dari koran sore Wawasan, februari 2008)

Selasa, 02 Desember 2008

Lapangan Kampung

Ali Sadikin dalam membangun Jakarta menyatakan: Saya bangun Lapangan Monas, saya bangun Ancol. Saya sengaja melarang orang yang lagi pacaran diganggu………….kalau you masuk kampung, satu kamar berjejal dari kakek, nenek, sampai cucu jadi satu, di mana mau pacaran?.......(Politik Kota dan Hak-hak Warga Kota, Chris Verdiansyah - 2006). Di kalangan masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah ada semacam pameo: Kuto tanpo alun-alun dudu kuto, Kampung tanpo lapangan dudu kampung, omah tanpo latar dudu omah (Kota tanpa alun-alun/lapangan luas, bukanlah kota; kampung tanpa lapangan bukanlah kampung, dan rumah tanpa halaman bukanlah rumah).
Ali Sadikin melihat kenyataan kondisi Jakarta pada saat itu, bahwa ternyata Jakarta sudah tidak memiliki lahan untuk dijadikan lapangan di kampung-kampung saat itu, maka dia berusaha menciptakan lapangan kota untuk warga kampung di Jakarta dengan membangun Ancol dan Monas, agar menjadi lapangan untuk warga kota Jakarta.
Kalau menurut heirarki kebutuhan manusia dalam teori Maslow, yaitu dari kebutuhan fisiologis; kemudian kebutuhan keamanan dan perlindungan; kebutuhan afiliasi; kebutuhan penghargaan; dan kebutuhan aktualisasi diri, maka semestinya kota yang baik harus bisa memenuhi lima urutan kebutuhan dasar manusia tersebut. Dari bukunya J. Lang (1994), disebutkan bahwa kebutuhan fisiologis itu bisa diartikan pemenuhan masyarakat akan kebutuhan air bersih, udara sejuk, pangan, sandang yang cukup, dan papan yang memadai. Sudahkah kota-kota di Indonesia memenuhi hal tersebut, lihat saja, pencemaran udara semakin hari semakin meningkat, para pengguna jalan termasuk Polisi lalu lintas harus menutup wajahnya dengan masker agar tidak terkena polusi debu dan asap kendaraan; air yang kita ambil dari dalam tanah, sudah banyak orang yang meragukan akan kualitasnya, sehingga untuk kebutuhan minum, banyak warga kota yang membeli air sulingan yang diproses dengan menstrerilkan air tersebut (air minum dalam kemasan). Yang paling parah adalah ketersediaan papan untuk tempat tinggal, banyak warga yang tinggal di tempat yang kurang layak untuk dihuni. Kekurang layakan ini antara lain, seringnya kena banjir, rawan terhadap longsor, atau merupakan tempat endemi penyakit tertentu karena kotor, dekat pembuangan sampah, dibawah tebing yang bagian atas tebing digunakan untuk makam. Pekerjaan rumah pemerintah kota ternyata banyak yang belum tertangani dari satu sisi kebutuhan, yaitu kebutuhan fisiologis saja. Kalau kita melihat makna kebutuhan akan afiliasi, maka kota harus menyediakan ruang, prasarana, dan suasana yang kondusif untuk terwujudnya keakraban hubungan sosial (J. Lang, 1994). Apakah kampung kota kita kini ada tempat atau lapangan yang bisa dijadikan sebagai tempat bermain dan tempat berkumpul warga?
Keberadaan lapangan, disamping punya fungsi sebagai tempat pengembangan sosial, juga dapat berfungsi untuk pemenuhan kebutuhan fisiologis, khususnya udara bersih dan air. Dengan adanya lapangan, biasanya ditumbuhi pepohonan, hal ini akan menyejukkan suasana lingkungan, kalau musim hujan sekaligus dapat menjadi tempat untuk resapan air, sehingga pada musim kemarau tidak kekeringan, dan pada musim hujan tidak kebanjiran, apalagi kalau di lapangan tersebut dibuat sumur resapan bagi rumah-rumah yang berada dekat lapangan. Dengan banyaknya suply air ke dalam tanah, maka hal ini akan meningkatkan kualitas dan kuantitas air yang ada di dalam tanah. Kalau jumlah air cukup, maka belanja keluarga akan lebih hemat, tidak harus membeli air sulingan/kemasan untuk kebutuhan minum, yang harganya sekitar Rp 3000/galon, dalam 1 bulan bisa menghabiskan 12 galon untuk 5 jiwa/KK. Uang belanja hemat, akhirnya bisa nabung, dan dari tabungan bisa digunakan untuk memperbaiki lingkungan permukimannya. Jadi dengan adanya lapangan bisa terjadi peningkatan kualitas hidup. Maka dari itu sudah saatnya pemerintah kota mulai menata lingkungan, terutama pada komplek permukiman baru diwajibkan untuk membangun lapangan lebih dahulu, bukan membangun rumah. Hal ini sejalan dengan Perda tentang Ruang Terbuka Hijau yang baru saja ditetapkan.

SEBAIKNYA MEROKOK DIHARAMKAN

Ada yang tidak setuju kalau rokok diharamkan karena asap mobil metromini yang berbahaya toh tidak diharamkan, jawabnya:
Dua hal yang haram tidak akan menjadikan salah satu atau keduanya jadi halal. Saat ini diadakan uji emisi untuk memeriksa apakah asap kendaraan yang dikeluarkan terlalu banyak/berbahaya. Jika tidak lolos, harus diperbaiki atau dilarang. Jadi bukan jadialasan untuk tidak mengharamkan rokok. Ada lagi yang berargumen, bukan rokok yang menyebabkan mati. Ajal itu kan ditangan Allah. Ini kan seolah-olah menyalahkan Allah. Padahal jika orang misalnya mati bunuh diri dengan pisau, narkoba, atau rokok, itu adalah salah mereka sendiri:
”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.. ” [Asy Syuura:30]
Bukankah Allah melarang kita melakukan hal yang membahayakan/mematikan kita?
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan..” [Al Baqarah:195]
Ada lagi yang berpendapat bahwa merokok tidak haram karena tidak ada dalil yang mengatakan rokok itu haram. Jelas tidak ada dalilnya karena Nabi Muhammad hidup pada tahun 600-an masehi sementara rokok baru dikenal tahun 1500-an ketika bangsa Eropa melihat penduduk asli Amerika menghisap tembakau yang dibakar dalam pipa. Hingga tahun 1940-an manusia menganggap rokok tidak berbahaya. Tahun 1962 pemerintah AS menunjuk 10 ilmuwan terkemuka untuk meneliti bahaya rokok. Tahun 1964 kesimpulannya dimuat di Laporan Surgeon General yang menyatakan bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan dan meminta pemerintah melakukan tindakan. Pada tahun 1965 penggunaan rokok turun 40% sejak diterbitkannya laporan tersebut (MS Encarta).Rokok mengandung 4000 zat kimia di mana 43 diantaranya merupakan penyebab kanker. 90% kanker paru-paru disebabkan oleh merokok sementara sisanya merupakan perokok pasif. Sekitar 442 ribu orang di AS tewas setiap tahun karena merokok. Rokok menyebabkan kanker paru2, tenggorokan, kandung kemih, ginjal, dsb. Di bungkus rokok jelas disebut bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan kesehatan janin, dan impotensi.
Segala yang berbahaya meski namanya tidak disebut dalam Al Qur’an dan Hadits tetap haram karena Nabi sudah mengatakan:
“Dilarang segala yang berbahaya dan menimpakan bahaya.” (Hadits hasan diriwayatkan Ibnu Majah, Daruquthni, dan Malik dalam Al-Muwatha’)
Di AS iklan rokok sudah dilarang tampil di TV dan Radio. Orang-orang dilarang merokok di kantor-kantor pemerintah dan gedung-gedung di mana ada anak-anak (misalnya sekolah).
(Disarikan dari komentar teman di kelompok padhang mbulan)

Smoking cigarettes is the single greatest cause of lung cancer. Smoking cigars or a pipe also increases the risk of lung cancer. Tobacco smoking causes as many as 90 percent of lung cancers in men and about 78 percent of those in women. Exposure to secondhand smoke—that is, inhaling the tobacco smoke of smokers—has occurred in most of the remaining cases. Substances in tobacco damage the cells in lungs, and over time the damaged cells can become cancerous. The great majority of lung cancer cases could be prevented and thousands of lives could be saved each year if people quit smoking.http://encarta.msn.com/encyclopedia_761588804/Lung_Cancer.html

KEKUATAN SEBUAH DOA

Seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan. Pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya. "Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang."
Si Pemilik Toko tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. "Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi," alasannya.
Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata: "Saya akanbayar semua yang diperlukan Ibu ini."
Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, "Tidak perlu, Pak. Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?"
"Ya, Pak. Ini," katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.
"Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut."
Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Si Ibu menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk,meletakkannya ke dalam timbangan.
Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah. Ia menatap pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, "Aku tidak percaya pada yang aku lihat."
Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum.Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain. Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehinggasi ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.
Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa. Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si Ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak. Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek: "Ya Allah Ya Tuhanku Rabbi, Hanya Engkau yang tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu." Si Pemilik Toko terdiam.
Si Ibu berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang kepadanya. Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak. Ternyata memang hanya ALLAH yang tahu bobot sebuah doa.
Segera setelah anda membaca cerita ini, ucapkanlah sebuah doa. Hanya itu saja. Stop pekerjaan anda sekarang juga dan ucapkan sebuah doa. Lalu, kirimkan cerita ini kepada setiap orang atau sahabat yang Anda kenal. Biarlah Tali silatuhrahmi ini tidak terputus,karena "DOA ADALAH HADIAH TERBESAR DAN TERINDAH YANG KITA TERIMA. Tanpa biaya, tetapi penuh daya guna."

Minggu, 30 November 2008

KULIAH SUBUH AHAD PAGI DI BAITUL ATIQ

Seperti biasa, setiap Ahad pagi di Musholla Baitul Atiq diselenggarakan kuliah subuh, kebetulan pada Ahad tanggal 30 Nopember 2008 yang mengisi adalah Ustadz Khoirrudin (Ustadz Didin). Beliau menerangkan tentang makna yang terkandung pada awal-awal surat Al Mu’minun (orang-orang yang beriman)

1. Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman
2. Yaitu orang-orang yang khusuk sholatnya
3. Dan orang-orang yang menghindari perbuatan yang tiada bermanfaat
4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat

Pagi itu hanya menjelaskan sampai 4 ayat tersebut, sebab memang tidak berkeinginan untuk merampungkan banyak ayat, tetapi berprinsip pada sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Itu sudah menjadi kesepakatan para jamaah sholat subuh, agar tidak jemu.
Pada saat menjelaskan makna sholat yang khusuk, tidak ada masalah, semua bisa memahami dan mengerti, demikian pula ketika menjelaskan tentang menghindari perbuatan yang tidak bermanfaat.

Masalah, atau diskusi berkepanjangan yang menjurus ke beda persepsi, beda pendapat adalah ketika ustadz Didin menjelaskan cara menunaikan zakat.
Ustadz Didin mengatakan bahwa “adalah salah bagi orang yang mampu beli hewan korban dan disembelih di musholla ini senilai Rp 1jt, tetapi ternyata zakat maal (kekayaan) nya yang diserahkan di musholla ini jumlahnya kurang dari Rp 1jt, sebab zakat itu mestinya lebih diutamakan daripada berkorban”.

Diskusi atau sanggahan/pertanyaan, yang intinya menanyakan apakah salah kalau seseorang menyerahkan zakat maal (kekayaan) di tempat lain (kampung halaman sambil berlebaran, membantu teman dan saudara yang masih fakir dan miskin), tetapi menyembelih hewan kurban di musholla ini, sebab tidak lazim pada saat Idul Qurban melakukan perjalanan mudik.
Konon menurut beliau, hal tersebut tidak salah tetapi tidak ada makna perjuangannya untuk mengembangkan lingkungan terdekatnya, dianggap hanya sekedar menggugurkan kewajiban.
Saya memberanikan diri untuk bertanya, lingkungan dekat itu batasannya apa? Apakah RT, RW, Kelurahan, atau Kecamatan? Saya berpendapat bahwa, lingkungan itu adalah tempat dimana kita memiliki fungsi atau kedudukan dalam masyarakat tempat kita tinggal. Misalnya seorang walikota, maka lingkungan terdekat bagi dia adalah kota, demikian pula untuk camat, lurah, ketua RW, dan ketua RT. Nah yang menjadi masalah, kalau di kampung menjadi ketua RT seperti saya, tetapi sekaligus sebagai pengurus LPMK di kelurahan, maka menurut saya, lingkungan saya bukan cuma RT saja tetapi sudah jauh sampai ke kelurahan. Adalah logis dan wajar kalau sebagian zakat, saya serahkan ke musholla RT dan sebagian ke masjid (dalam cakupan pelayanan) kelurahan. Itu pemahaman saya. Meskipun demikian, kayaknya Ustadz Didin kurang setuju, ya monggo-monggo saja.

Nuwun sewu, kalau kita amati, sebaran zakat yang hanya pada wilayah yang sangat terbatas (seperti Baitul Atiq), kalau zakat terkumpul banyak di sini memang bisa mensejahterakan masyarakat sekitar musholla, tetapi bagaimana dengan saudara-saudara kita di kecamatan lain yang juga miskin. Orang miskin di sini (dekat Baitul Atiq) bisa berlimpah menikmati zakat, akan tetapi tegakah kita kalau pas jalan-jalan ke kota bawah dan tahu masih banyak pengemis yang hidupnya sengsara, bisakah kita bilang, salah sendiri gak mau tinggal di dekat musholla Baitul Atiq, makanya kamu nggak kebagian zakat dariku……???
Nah untuk mengatasi hal itu, terus terang (maaf) saya menyalurkan sebagian zakat ke Rumah Zakat dan Bazis yang dikelola pak Said Al Burhan, lalu sisanya saya serahkan ke Baitul Atiq, disamping tentu saja ada juga yang saya bawa ke Jogya, sebab ada teman sekolah SD saya yang hanya jadi tukang becak dan tukang pijet (mereka miskin), dan mereka ini masih selalu setia ngantar ibu saya ke pasar, atau mijeti saya kalau saya di Jogya agak lama.

Kalau Baitul Atiq mau membentuk BAZIS dengan benar, bisa jadi Baitul Atiq akan saya prioritaskan untuk penyaluran zakat saya, (sebab zakat kan ibadah wajib bagi yang sudah memenuhi syarat, sebagaimana pergi haji), saya berprinsip adalah salah kalau pengelolaan ibadah (zakat, taraweh, qurban) hanya dilaksanakan dengan prinsip “SAK KOBERE”, yaitu hanya dengan mengandalkan kebiasaan : ”kawit mbiyen yo wis ngene rak opo-opo, ora ono masalah, ngene meneh wae kan biso”, kenapa tidak ditingkatkan pelayanan di bidang pengelolaan zakat kekayaan? Salurkan untuk hal-hal yang fungsinya non konsumtif, mestinya bisa, tapi ya butuh pemikiran dan energi yang lebih serius.
Terus terang, saya selalu usul agar takmir mengadakan pertemuan rutin per 2 atau 3 bulanan, usulan ini saya sampaikan sejak saya belum jadi ketua RT, dan sampai sekarang, kepengurusan RT saya hampir habis, gak pernah usulan ini digubris. Saya kan jadi khawatir, pengelolaan ibadah mestinya tidak berprinsip pada SAK SELONE, SAK KOBERE…harus serius, kalau gak serius…weleh, weleh, weleh,….apa kata dunia?
Nuwun sewu ngih pak Ustadz Didin, sekedar ngudoroso mawon

Wallahu alam bishshowab.

Parfi Kh
Ketua RT 06/IV Gedawang _Banyumanik, SEMARANG

Sabtu, 29 November 2008

Pentingnya Analisis Kesesuaian Lahan

Kota Semarang memiliki bentang lahan yang cukup menarik, yaitu sebuah kota dengan lahan yang sangat variatif, ada daerah pantai, ada dataran luas dengan ketinggian sekitar 5 – 10 m di atas permukaan laut membentang dari bagian tengah kota ke bagian timur kota, kemudian perbukitan atau dataran tinggi sampai 300 m di atas permukaan laut di sisi selatan kota. Menurut klasifikasi Pannekoek (1949), Semarang terletak diujung timur zone utara Jawa Tengah. Wilayah bagian selatan terdiri atas perbukitan dan kaki volkan Ungaran, sedangkan di bagian utara berupa dataran aluvial dengan medan yang landai, bahkan yang terletak di tepi pantai, yaitu dataran aluvial pantai, medannya hampir-hampir datar dengan ketinggian hanya 0 – 5 meter di atas permukaan laut. Letak yang demikian berpengaruh terhadap proses pengendapan dan pengatusan, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap peristiwa banjir, kota Semarang bagian utara menjadi langganan banjir tetap baik yang berasal dari hujan lokal, maupun naiknya air laut yang sering disebut sebagai banjir rob. Kondisi tersebut ternyata juga berpengaruh terhadap pola sebaran permukimannya. Pada awalnya, permukiman mengelompok di sekitar Bubakan, kemudian melebar ke timur yang kondisinya relatif datar, karena di lahan-lahan yang datar ternyata pada kemudian hari timbul masalah munculnya genangan (banjir), orang Semarang kemudian mencari tempat yang lebih tinggi yaitu bermukim ke arah selatan, mencari celah-celah lahan datar dalam satuan bentang lahan yang miring. Karena bertambahnya daya tarik kota Semarang, maka berjubel pulalah penduduk memadati kota Semarang, akhirnya lahan-lahan yang sebenarnya kurang layak untuk dihuni terpaksa didirikan bangunan di tempat tersebut.
Mula-mula, mereka yang menghuni lahan miring tidak mengalami gangguan apa-apa, tidak merasakan adanya gerakan tanah, tidak pernah terjadi longsor, sebab proporsi luas bangunan dengan luas lahan yang dipakai untuk mendirikan bangunan masih ideal, tanah masih mampu menopang keberadaan aktivitas permukiman di atasnya, tetapi ketika terjadi kejenuhan yaitu sudah tidak ada lagi lahan yang aman untuk dihuni, orang terpaksa memanfaatkan sisa lahan yang kurang aman dengan bantuan teknologi sederhana berupa pemasangan talud, yang juga dengan konstruksi seadanya, berdirilah banyak bangunan di tepi tebing-tebing curam yang yang rawan terhadap bencana. Lahan seperti ini mestinya masuk kategori lahan dengan fungsi lindung. Dalam Keppres nomor 32 tahun 1990 disebutkan bahwa kawasan rawan bencana adalah masuk dalam kategori kawasan lindung. Kalau ternyata pada awalnya sebelum dirusak dan diubah bentuk bentang lahannya oleh masyarakat, lahan tersebut bukan merupakan kawasan rawan bencana, kita mestinya tetap harus berhati-hati ketika menempati suatu kawasan yang punya kemiringan lereng cukup curam, sebab dalam Keppres tersebut dinyatakan antara lain bahwa lahan yang seluruh bentangnya mempunyai kemiringan lereng lebih besar dari 45% ( yaitu sekitar 22,50 ), maka lahan tersebut harus ditetapkan sebagai kawasan fungsi lindung. Nah kalau kita amati, daerah-daerah yang rawan longsor di kota Semarang ini mayoritas memiliki kemiringan lereng lebih besar daripada 22,50, mestinya lahan tersebut harus ditetapkan sebagai kawasan fungsi lindung, tetapi apa daya, penetapan yang datangnya belakangan pasti akan menimbulkan dampak yang lebih dahsyat, apalagi kalau penetapan ini menimpa masyarakat dalam jumlah yang besar dengan kondisi ekonomi yang tidak mampu, ibarat makan buah simalakama, ditetapkan sebagai kawasan lindung, susah, tak ditetapkan, juga susah. Yang penting sekarang adalah solusinya.
Tanah longsor akan berubah menjadi rumah longsor, karena di atas tanah tersebut sudah berdiri rumah, biasanya longsornya tanah karena tanah tersebut tidak kuat menerima beban, baik beban bangunan maupun beban air yang meresap ke dalam tanah. Jadi solusi pertama adalah, mengatur jaringan drainase dengan baik pada daerah-daerah rawan longsor yang sudah terlanjur menjadi kawasan permukiman, kedua melakukan monitoring secara menerus untuk mengetahui perubahan bentuk lahan sekecil apapun, sehingga dapat diantisipasi secara dini, ketiga membatasi pertambahan kepadatan bangunan dan perubahan konstruksi yang mengarah ke pergerakan tanah yang dapat mengakibatkan longsor, ke-empat, ini yang paling penting adalah mengantisipasi kawasan-kawasan lainnya yang belum terjamah oleh pembangunan, khususnya pada wilayah perbukitan di kota Semarang bagian selatan dengan cara melakukan evaluasi kesesuaian lahan untuk permukiman. Setelah ditetapkan tentu saja harus ada keberanian dan ketegasan untuk mentaati kesepakatn tersebut, mencegah akan lebih murah daripada mengobati.

PARFI KHADIYANTO
Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota, FT UNDIP

MENSIKAPI PERDA RTH KOTA SEMARANG

Ketika manusia mulai bertambah banyak, bumi terasa sesak, pepohonan pun mulai terdesak, dan saat itulah tanah mulai tandus, sebab kota berubah menjadi belantara beton, maka hadirnya pepohonan mulai dirindukan kembali. Seiring dengan bertambahnya jumlah manusia di perkotaan membuat lahan tersisa yang bisa ditanami menjadi semakin sedikit. Setiap jengkal tanah di kota lantas menjadi rebutan setiap orang untuk ditempati dan diubah menjadi bangunan. Orang berebut lahan dengan melakukan tebang sana dan tebang sini, habisnya tanaman tidak jadi masalah, yang penting punya tanah.
Sebenarnya setiap orang tahu bahwa pohon mempunyai manfaat yang banyak, yaitu manfaat estetika, manfaat orologis (mengurangi kerusakan tanah), manfaat hidrologis, manfaat klimatologis, manfaat edaphis (bermanfaat untuk kehidupan satwa), manfaat protektif (pelindung terik matahari), manfaat hygienis (menyaring debu dan menghasilkan oksigen), dan manfaat edukatif (sebagai laboratorium alam), tetapi masih saja mereka mengabaikan keberadaan pohon, asal masih ada orang yang mau nanam pohon, maka hilangnya pohon di rumahku tidak menjadi masalah.
Dengan lahirnya Perda tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Semarang yang pada dasarnya mengatur sejumlah hal penting terkait dengan Ruang Terbuka Hijau, pastilah akan membawa dampak positif di kota Semarang. Perda tersebut antara lain mengatur luasan dan jumlah pohon minimal yang harus dimiliki oleh rumah tangga, Rukun Tetangga, sampai dengan di tingkat kelurahan. RTH ini penting mengingat bahwa dari 16 kecamatan yang ada di Semarang ternyata ada 8 kecamatan yang kepemilikan RTHnya kurang dari 30% luas wilayah (Suara Merdeka, 27 Nop 2008).
Pemerintah kota Semarang dalam mensikapi UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang yang mewajibkan luasan RTH minimal seluas 30%, dilakukan dengan pendekatan melalui keberadaan RTH yang dimiliki oleh masing-masing kecamatan, logikanya kalau tiap kecamatan sudah memenuhi luasan minimal, maka dalam satu kota pasti luasan minimal yang dipersyaratkan akan terpenuhi juga. Hal ini tidak salah, hanya saja perlu diketahui bahwa pertumbuhan penduduk dan kepadatan penduduk di tiap kecamatan berbeda, sehingga luasan lahan yang bisa digunakan untuk RTH di masing-masing kecamatan juga berbeda. Secara keseluruhan sebenarnya luas RTH di kota Semarang adalah 52,31% yaitu berada pada posisi yang aman sebab diatas 30% dari yang disyaratkan, hanya saja persebarannya tidak merata (Suara Merdeka, 27 Nop 2008). Dengan Perda ini diharapkan agar ada perjuangan dari masing-masing kecamatan untuk memenuhi ketentuan yang tertuang dalam UU No 26/2007 tersebut sehingga akhirnya persebaran RTH bisa lebih merata.
Perda mengatur secara rinci dengan ketentuan antara lain: setiap Rukun Tetangga (RT) wajib memiliki taman minimal seluas 250m2 dengan 10 pohon pelindung; Luas taman di tingkat RW minimal 1.500m2 dengan 20 pohon; Taman tingkat kelurahan minimal seluas 1 hektar; Rumah dengan luas kapling di bawah 120 m2 minimal menyediakan 1 pohon pelindung; Rumah dengan tanah 120-500m2 harus menyediakan minimal 3 pohon, dan di atas 500m2 minimal 5 pohon. Bayangkan, kalau suatu daerah yang sudah padat permukiman, masihkah di wilayah RT atau RW tersebut memiliki lahan seluas itu? Biasanya batas RT dan RW didasarkan pada jalan lingkungan atau batas rumah dengan ketentuan kedekatan hubungan antar tetangga, untuk RT jumlah KK paling tidak sebanyak 20 KK, untuk RW paling tidak punya 5 RT. Dengan adanya Perda ini penduduk akan memanfaatkan pinggiran jalan untuk dijadikan “taman lingkungan” baik RT maupun RW, untuk daerah padat dengan jalan yang sempit, jalan lingkungan biasanya sudah menjadi milik pribadi, menjadi tempat untuk jemuran, menjadi tempat untuk bercengkerama/duduk, dsb. Daerah seperti ini RTHnya akan ditempatkan dimana? Lahan seluas 250 m2 (ketentuan minimal luas taman RT) kalau dibagi 20 KK, maka per KK punya beban seluas 12,5m2 yang sudah pasti akan diletakan di pinggir jalan depan rumah, seandainya lebar kapling masing-masing rumah 6m, maka kebutuhan taman RT di pinggir jalan depan masing-masing rumah paling tidak selebar 2m, kalau lebar jalan hanya 3m, maka daerah yang bisa dimanfaatkan untuk jalan tinggal 1m, apa mungkin?
Tujuan Perda adalah baik, perlu didukung, meskipun begitu mungkin perlu ada kejelasan-kejelasan yang lebih detail lagi untuk wilayah-wilayah yang sudah padat. Sebab RT dan RW (Rukun Warga) bukan institusi yang struktural dan tidak memiliki wilayah yang didukung dengan kelengkapan infrastruktur pemberian Pemkot, biasanya warga secara swadaya mengatur dan mengadakan sendiri infrastruktur lingkungannya. Disinilah pentingnya sebuah perencanaan lingkungan dengan melibatkan masyarakat, Pemkot menetapkan Perda ini sudah dibahas dengan Wakil Rakyat, tetapi akan lebih baik apabila para ketua RT dan RW juga diajak bicara untuk memberi masukan agar Perda ini dilapangan benar-benar bisa dilaksanakan. Wakil RT dan RW dipilih yang bisa mewakili daerah-daerah yang padat, yang guyub, yang individualis, yang banjir, yang berlereng, dsb, sehingga wajah masyarakat Semarang terwakili dalam pembahasan tersebut. Mestinya Perda bukan lagi sekedar alat kelengkapan administrasi kota, hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa Kota Semarang sudah punya. Seharusnya dipikirkan agar implementasi dari ketetapan Perda tersebut bisa direalisir di lapangan, sehingga Perda bukan hanya hiasan kelengkapan produk hukum. Karena Perda sudah jadi, maka langkah berikutnya, Pemkot perlu segera mensosialisasikan Perda tersebut ke RT dan RW, jangan hanya berhenti di kelurahan, adakan dialog intensif dengan warga RT dan RW, sehingga tujuan Perda untuk menjadikan Semarang Kota Hijau, Semarang Kota Sejuk benar-benar bisa terealisir, semoga.

Ir. PARFI KHADIYANTO, MS.
Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota,
FT UNDIP

Rabu, 19 November 2008

Beberapa Pengetahuan Tentang Qurban

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.(QS. Al-Kautsar: 1-3)

Sebagian ulama menjadikan ayat kedua dari surat di atas sebagai dalil wajibnya ber-qurban. Sedang sebagian ulama lain berpendapat bahwa qurban hukumnya sunnah muakkad dengan berlandaskan beberapa hadits antara lain:"Aku diperintahkan menyembelih qurban, dan qurban itu sunnah bagi kamu." (HR. Tirmidzi)
Terlepas dari perselisihan para ula-ma tentang qurban (hukumnya), yang jelas qurban adalah suatu ibadah yang mulia. Sangat tercela bagi orang mampu ber-qurban tapi tak mau melaksanakannya. "Tak ada perbuatan yang lebih Allah senangi pada hari raya qurban dibanding meneteskan darah (berqurban). Sesungguh-nya ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulu, dan kukunya. Sesungguhnya tetesan darahnya akan jatuh dari tetesan Allah sebelum jatuhnya darah di permukaan bumi (artinya sangat cepat diberi pahala), maka perbaikilah niat korbanmu." (HR. Tirmidzi)
Sabda Rasulullah saw: "Barang siapa mempunyai kemampuan tapi ia tidak berqurban maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami" (HR. Ibnu Majah)

Adapun binatang yang dapat dijadi-kan qurban adalah: unta, sapi, atau kerbau, kambing yang tidak cacat seperti pinbang, sangat kurus, sakit, potong telinga, po-tong ekor dan telah berumur sebagai berikut:
1. Kambing domba: berumur satu tahun atau lebih telah berganti gigi telah poel (jawa).
2. Kambing biasa: berumur dua tahun atau lebih.
3. Unta: berumur lima tahun atau lebih.
4. Sapi, kerbau: berumur 2 tahun atau lebih.

Bagi orang yang ber-qurban kambing hanya boleh untuk dirinya sendiri atau untuk dirinya dan seluruh keluarganya, bersadarkan hadits: "Pada masa Rasulullah, seorang laki-laki berqurban untuk dirinya dan keluarganya, lalu dimakan dan diberikan pada orang lain. Sehingga datanglah masa manusia berbangga-bangga dalam ber-qurban, maka jadilah seperti apa yang kamu lihat." (HR. Tirmidzi dari Ibnu Majah)
Sedang seekor sapi atau unta dibolehkan untuk tujuh orang, berdasarkan hadits: "Kami menyembelih qurban bersama Rasulul-lah. Pada tahun Hudaibiyah seekor unta untuk tujuah orang dan seekor sapi untuk tujuh orang."(HR. Muslim)

Tujuan qurban adalah untuk menggembirakan fakir miskin di hari haji, sebagaimana di hari raya fitri. Mereka digembirakan dengan zakat fitrah. Maka daging qurban hendaknya disedekahkan kecuali sedikit sunnah dimakan oleh yang ber-qurban. Daging qurban tak boleh dijual walau kulitnya. Sabda Rasulullah: "Janganlah kamu menjual daging denda haji dan daging qurban, makanlah dan sedekah-kan dagingnya dan manfaatkanlah kulitnya dan jangan kamu jual." (HR. Ahmad)

Para ulama membolehkan memindahkan daging qurban dari satu tempat ke tempat yang lain walaupun jauh. Adapun waktu menyembelinya adalah mulainya setelah selesainya shalat Id sampai mata-hari terbenam pada tanggal 13 Dzulhijah. Sabda Rasulullah shalallahu 'alahi wa sallam: "Barangsiapa menyembelih sebelum shalat hendaknya mengulang." (Muttafaqqun 'alaihi)
Dan menurut Bukhari: "Barangsiapa menyembelih sebelum shalat se-sungguhnya ia hanya menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barang siapa menyembe-lih setelah shalat maka sempurnalah qurban dan sesuai dengan sunnah kaum muslimin. "Sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam : "Semua hari tasyrik (tanggal 11 sampai 13 bulan haji) adalah waktu menyembelih korban." (HR. Ahmad)
Disunnahkan agar orang yang ber-qurban menyembelih sendiri qurban-nya, namun bila tidak ahli hendaknya menyak-sikan qurban-nya, sebagaimana perintah Rasulullah. Kepada putrinya, Fatimah r.a.: "Hai Fatimah, berdirilah dan saksikanlah qurbanmu. Sesungguhnya semua dosa yang te-lah kamu kerjakan akan diampuni pada te-tesan darah yang pertama dan bacalah : "Sesungguhnya shalatku, qurbanku, hidup-ku dan matiku untuk Allah Tuhan semesta alam yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan untuk itu aku diperintahkan dan aku orang yang pertama kali berserah diri." (Fiqhus Sunnah)
Sedangkan bagi orang yang me-nyembelih diperintahkan untuk membaca basmalah, takbir dan menyebutkan siapa orang yang ber-qurban, berdasar hadits dari Jabir Radliyallahu 'anhu: "Saya shalat bersama Rasulullah (Idul Adha), setelah selesai beliau diberi seekor kambing, kemudian beliau menyembelihnya dan beliau berkata: bismillah, Allahu Ak-bar. Ya Allah ini dari saya dan umat saya yang tidak ber-qurban." (HR. Tirmidzi)

Apabila suatu binatang telah diniatkan untuk berqurban, maka disunnahkan agar bulu dan kukunya tidak dipotong mulai dari tanggal 1 bulan Dzulhijah.Sabda Rasulullah: "Bila kamu telah melihat bulan (tanggal 1 Dzulhijah) dan kamu hendak berqurban, maka biarkanlah rambutnya, dan kuku-kukunya." (HR. Al-Jama'ah kecuali Bukhari)